<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3391768758550731628</id><updated>2011-10-06T06:42:59.321-07:00</updated><category term='Motivasi'/><category term='Cerpen'/><category term='Esai'/><category term='dunia dokter'/><title type='text'>Mimpi Empitu</title><subtitle type='html'>Dunia itu bagaikan mimpi, apalagi blogging...</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://mimpiempitu.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3391768758550731628/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mimpiempitu.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Empitu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08622565267722410362</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_3HVmdhpurIM/Sts0SVBEIBI/AAAAAAAAAA8/p5xJmSabQmE/S220/ant2.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>16</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3391768758550731628.post-6165440751949482016</id><published>2011-08-11T20:15:00.000-07:00</published><updated>2011-08-12T08:11:05.368-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dunia dokter'/><title type='text'>Pasien Bukan Konsumen</title><content type='html'>&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/--zlktNIIIuw/TkSadtRZoNI/AAAAAAAAAF8/NhHSyypGHkY/s1600/Ralph-MorseDisplaying-the-Many-Different-Ways-That-the-DMSO-Drug-Can-Be-Given-to-Patient.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://4.bp.blogspot.com/--zlktNIIIuw/TkSadtRZoNI/AAAAAAAAAF8/NhHSyypGHkY/s320/Ralph-MorseDisplaying-the-Many-Different-Ways-That-the-DMSO-Drug-Can-Be-Given-to-Patient.jpg" width="239" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;a picture by Ralp Morse&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Jawa Pos, 6 Agustus 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;Pernahkah Anda mendengar istilah "buka warung"? Itu alasan yang lazim digunakan bila seorang dokter tidak bisa hadir dalam satu acara. Kita paham, maksudnya si dokter sedang buka praktik. Jadi, harap maklum, dia tidak bisa diganggu. Dia sedang berhadapan dengan orang sakit yang butuh pertolongan segera.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;Kita mengenal praktik dokter sebagai kegiatan ritual sore selepas kerja formal untuk menerima pasien pribadi. Di sana, pasien-pasien menunggu untuk dipanggil sembari berharap mendapatkan penanganan terbaik dari si dokter. Sebutan dokter bertangan dingin sering kita dengar untuk dokter yang laris manis. Terselip di sana aroma irrational trust untuk sosok personal si dokter. Tidak jadi soal selama pasien benar-benar mendapatkan perawatan terbaik. Tetapi, siapakah sebenarnya yang akan menilai dan menjamin si pasien memang benar-benar menerima penanganan terbaik?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;Bukan Jual Beli&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;Saya ragu apakah penggunaan istilah "buka warung" untuk praktik dokter akan diterima lega oleh pasien. Mengapa? Terkesan, itu mereduksi nilai pekerjaan profesi dokter. Kegiatan "perwarungan" adalah kegiatan yang teramat sederhana. &lt;i&gt;Cash and carry&lt;/i&gt;, Anda hanya perlu membawa selera dan uang. Pilih yang Anda sukai, bayar, dan urusan selesai, titik! Bila kelak Anda memerlukan hal lain lagi, silakan kembali, beli dan bayar lagi. Sampai di sini, tampaknya pola selling and buying yang terjadi di ruang praktik nyaris serupa dengan warung, fee for services. Artinya, bila Anda kelak membutuhkan lagi jasa dokter, silakan datang dan ya bayar lagi. Lantas, apa bedanya?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;Pasien bukan konsumen! Saat si pasien hadir di hadapan dokter, yang terjadi bukan proses jual beli. Di sana lahir sebuah janji bahwa si dokter bersedia menjadi pelindung pasien. Berten menyebut hubungan itu lebih sebagai hal yang sakral, &lt;i&gt;convenant&lt;/i&gt; bukan &lt;i&gt;consumer&lt;/i&gt;. &lt;i&gt;Convenant&lt;/i&gt; dalam terjemahan yang paling dekat berarti "akad". Bedanya? Hubungan konsumen dengan penjual sepenuhnya berdasar kontrak, begitu kontrak selesai hubungan pun usai. Perkara apa yang terjadi nanti kepada konsumen, sejauh di luar kontrak, ya urusannya sendiri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;i&gt;Convenant&lt;/i&gt; punya arti yang berbeda. Nilai hubungannya melampaui batas konteks finansial dan ekonomi. Ada kewajiban untuk peduli (caring). Ikatan tidak berbatas waktu, ruang, dan uang, tetapi butuh panggilan hati. Kita tahu pasien datang ke dokter bukan karena dorongan selera. Kecemasan akan nasib dirinya memaksa dia datang ke dokter. Mendesak karena rasa sakit terus membelenggu. Terjepit karena terhentinya pekerjaan. Runyamnya, dia tidak tahu apa yang harus diperbuat (baca: dibeli) untuk menyelamatkan dirinya. Dokterlah yang nanti memutuskan dan pasien harus menanggung biaya atas keputusan dokter yang tidak sepenuhnya dipahami.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;Tentang pengetahuan, Bacon menyebut &lt;i&gt;knowledge is power&lt;/i&gt;. Pada dasarnya, pengetahuan itu bebas nilai moral. Tetapi, moral dan etika selalu hadir di saat pengetahuan (baca: kedokteran) itu digunakan. Ketidakseimbangan pengetahuan antara dokter-pasien adalah peluang yang amat subur untuk timbulnya masalah. Mengapa? Lord Acton mengingatkan: &lt;i&gt;Power tends to corrupt. Absolute power corrupt absolutely&lt;/i&gt;.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;Sang Penjaga Umat&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;Masih mungkinkah kita berharap pelayanan medik terbaik akan lahir dari warung-warung pribadi dokter? Jawabannya: &lt;i&gt;maybe yes, maybe no&lt;/i&gt;. Kini zaman baru telah hadir. Ledakan teknologi membuat penanganan medik kian kompleks. Pelayanan medik berubah secara fundamental. Diperlukan tata cara baru untuk menjamin bahwa pelayanan medik telah disampaikan dengan benar dan bermanfaat untuk pasien. Kontrol moral semata tidak cukup melindungi pasien. Perlu dukungan kompetensi dan pengawasan melekat dari pihak ketiga. Penanganan terbaik bukan sekadar penilaian subjektif dari pasien. Tetapi, lebih merupakan penjabaran dari&lt;i&gt; Quality, Price, and Delivery&lt;/i&gt; (Q, P, D) yang terukur empiris-kuantitatif. Lantas, apakah kini praktik pribadi dokter sudah tidak kita perlukan lagi?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;Di sinilah kita keliru! Mengapa? Dengan sistem pembayaran ala warung (&lt;i&gt;fee for services&lt;/i&gt;) dan Q, P, D tanpa kontrol, negeri ini menjadi surga bagi pebisnis. Sistem kesehatan kita telah terjebak pada pelayanan kuratif komersial. Watak bisnis menguasai semua lini. Tengok, iklan layanan medik telah jauh melampaui batas kepatutan. Masyarakat seakan berjalan di tengah rimba tanpa pendamping. Berbekal pengetahuan minim, sepenuhnya awam, pasien memilih yang terbaik untuk menyelamatkan hidupnya. Begitu mudah mereka menjadi bulan-bulanan penjaja layanan kesehatan. Sungguh, ini berakibat besar bagi individu maupun masa depan negara.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;Di semua negara maju, hal ini tidak mungkin terjadi. Mengapa? Aturan mainnya jelas. Dokter spesialis sepenuhnya di rumah sakit (RS), fokus untuk kuratif. Sedangkan, dokter umum, general practice (GP), berada di tengah masyarakat menjalankan fungsinya: Pertama, fokus pada tindakan preventif. Kedua, pengobatan umum penanganan di lini terdepan. Ketiga, pendamping pasien saat memilih tindakan kuratif. GP memiliki otoritas menyeleksi pasien, ke mana mereka harus dikirim. GP wajib mencatat performa dokter spesialis dan RS untuk laporan kepada yang berwenang (asuransi, petinggi kesehatan). Tidak mungkin Anda datang ke spesialis atau RS tanpa surat rujukan."&lt;i&gt;The people guardian&lt;/i&gt;", sang penjaga umat, sungguh sebutan yang pantas untuk dokter umum. Di pundak merekalah kita berharap masyarakat berlindung menghadapi ganasnya belantara industri kesehatan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;Apa yang kini terjadi di negeri ini? Saat peran GP begitu dibutuhkan, praktik dokter umum justru kian langka. Masyarakat dibiarkan sendiri menghadapi gemuruhnya iklan dan rumitnya prosedur medik modern. Tampaknya, sistem kesehatan di negeri ini menuju ke arah yang salah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;Teringat pesan Prof Oldhoff, guru saya di Groningen, Belanda: "Ahli bedah secara moral bertanggung jawab kepada pasien. Tetapi, secara profesional, dia harus bertanggung jawab kepada dokter umum, si pengirim pasien". Benar, Anda memerlukan dokter umum untuk menjaga dan mendampingi keluarga Anda menghadapi pasar medik yang kian liar ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;b&gt;Ario Djatmiko &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: right;"&gt;Dokter, Ketua Penelitan dan Pengembangan (Litbang) IDI Wilayah Jatim Surabaya&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: right;"&gt;(Artikel ini diunggah dengan seizin penulis)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3391768758550731628-6165440751949482016?l=mimpiempitu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mimpiempitu.blogspot.com/feeds/6165440751949482016/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mimpiempitu.blogspot.com/2011/08/pasien-bukan-konsumen.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3391768758550731628/posts/default/6165440751949482016'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3391768758550731628/posts/default/6165440751949482016'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mimpiempitu.blogspot.com/2011/08/pasien-bukan-konsumen.html' title='Pasien Bukan Konsumen'/><author><name>Empitu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08622565267722410362</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_3HVmdhpurIM/Sts0SVBEIBI/AAAAAAAAAA8/p5xJmSabQmE/S220/ant2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/--zlktNIIIuw/TkSadtRZoNI/AAAAAAAAAF8/NhHSyypGHkY/s72-c/Ralph-MorseDisplaying-the-Many-Different-Ways-That-the-DMSO-Drug-Can-Be-Given-to-Patient.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3391768758550731628.post-2924781481641940668</id><published>2011-05-15T02:35:00.000-07:00</published><updated>2011-05-15T04:59:38.681-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Motivasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dunia dokter'/><title type='text'>Catatan Dokter Internship (2): Menghargai Waktu Luang</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-DiVb6q2tTUk/Tc-Z4i86wYI/AAAAAAAAAFA/i4ca3PxLMz8/s1600/000anak_pulau2.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://2.bp.blogspot.com/-DiVb6q2tTUk/Tc-Z4i86wYI/AAAAAAAAAFA/i4ca3PxLMz8/s320/000anak_pulau2.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;“Your life is a gift from the creator. Your gift back to the Creator is what you do with your life”&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Selamat pagi Kawan,&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;Beberapa waktu yang lalu, saya sempat &lt;i&gt;chatting&lt;/i&gt; dengan seorang teman lama. Teman saya itu merasa ‘bosan’ menjalani internship. Sang teman tersebut bercerita bahwa dia sampai bingung akan menghabiskan waktunya yang sangat luang untuk melakukan apa. Dia bertanya, bagaimana dengan yang saya alami? Melalui tulisan ini, saya berbagi cerita denganmu, Teman. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: center;"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Bagi saya, saat-saat menjalani internship dokter adalah saat kita ‘dibanjiri’ waktu luang. Jam kerja kami di puskesmas adalah antara jam 07.15-13.00 WIB. Bagi sebagian orang, mungkin itu waktu yang lama dan membosankan untuk bekerja. Tapi bagi sebagian orang yang lain, jam kerja tersebut cukup proporsional dan menyenangkan. Kita masih memiliki 18 jam sisa waktu luang dalam sehari. Cukup panjang untuk disyukuri. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Waktu luang itu terasa semakin panjang saat saya bertugas di Pulau Mandangin selama beberapa hari. Saya tidak bisa mengisi waktu luang saya dengan berlama-lama menulis, ‘berdiskusi’, dan ‘bergumul’ bersama si laptop. Di pulau ini, listrik hanya hidup sekitar pukul 6 sore dan kemudian mati sekitar jam 5.30 pagi. Berada di pulau ini, Saya serasa kembali ke era di saat listrik belum menjadi kebutuhan yang mendasar dan tak tergantikan. Seperti jaman bapak saya masih muda, saat nenek saya masih &lt;i&gt;kinyis-kinyis. &lt;/i&gt;Jaman di saat saya masih belum ‘direncanakan’ keberadaannya. :)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Beberapa hari di Mandangin dengan sebagian besar waktu tanpa listrik, membuat saya ‘berevolusi’ dan mengembangkan kegemaran baru. Yakni, berbicara dengan anak-anak. Mungkin terdengar konyol. Awalnya saya juga heran, mengapa saya justru suka berbicara dengan anak-anak, bukannya dengan &lt;i&gt;mbak-mbak.&lt;/i&gt; :D &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Sebagian besar penduduk Pulau Mandangin berkomunikasi menggunakan bahasa madura. Sedangkan saya, baru sedikit mengerti bahasa Madura. Celakanya, sebagian besar orang Mandangin yang saya temui tidak bisa berbahasa Indonesia. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Namun lain halnya dengan anak-anak, khususnya mereka yang sedang duduk di bangku sekolah dasar. Mereka mengerti bahasa Indonesia. Bertemu mereka seperti menemukan ‘oase’ di tengah gurun pasir. Saya jadi tidak merasa sebagai orang asing. :) Mereka dapat mengerti apa yang saya sampaikan. Dan yang lebih penting lagi, saya dapat memahami maksud mereka. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Suatu sore saya berenang di pantai. Saya menyempatkan diri untuk menyapa dan berbincang dengan sejumlah anak. Beberapa nama yang saya ingat adalah Hosen (kelas 6 SD) dan Kosem (kelas 3 SD). Saya iseng bertanya kepada mereka tentang cita-cita mereka di saat dewasa kelak. Kosem menjawab ingin punya kapal seperti Haji **** (saya tidak ingat namanya). Seorang anak lain menjawab dia ingin jadi pemain sepak bola. Dan Hosen, salah satu nama yang saya ingat, menjawab ingin melaut bersama bapaknya. Jawaban tersebut sempat membuat saya terhenyak. Cita-cita yang sangat sederhana, bahkan jika dibanding dengan saya yang lahir jauh lebih dulu dari mereka. Sebagai pembanding, belasan tahun yang lalu saya pernah bercita-cita menjadi &lt;i&gt;Ultraman&lt;/i&gt;. :D&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Mendengar jawaban anak-anak itu, entah ada sesuatu yang menggerakkan saya untuk menggambar perahu di atas media pasir pantai. Saya bercerita kepada mereka tentang sebuah kapal yang canggih. Tentang, kapal yang sangat cepat. Kapal yang pintar, kapal yang bisa membawa mereka ke tempat ikan-ikan besar. Kapal yang memiliki dapur, kamar, juga kolam renang. Saya bertanya apakah mereka ingin naik kapal seperti itu. Mereka terdiam, dan beberapa mengangguk dengan malu-malu. Saya berkata kepada mereka, bahwa mereka harus sekolah. Mereka harus giat belajar dan berdoa. Jika mereka berhasil kelak, mereka bisa naik kapal seperti itu. Semoga saja. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Saya bukanlah seorang penutur verbal yang baik. Saya juga tidak berharap banyak bahwa cerita saya akan memacu mereka untuk belajar. Dan kalau pun mereka jadi bersemangat, banyak hal yang dapat memupuskan harapan di kemudian hari. Namun saya merasa sedikit terhibur saat mendengar kata-kata Hosen. “Saya ingin sekolah SMP.” Sebuah niat dan impian telah tertanam. :)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: center;"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Selama beberapa waktu setelahnya, saya masih merasa bersyukur atas sepenggal senja yang saya habiskan bersama anak-anak itu. Saya yakin engkau juga memiliki waktu seperti itu, Kawan. Waktu yang membuat kita semakin bersyukur atas apa yang terjadi dalam hidup kita. Waktu yang membawa kita untuk sejenak melihat ke ‘bawah’, berlari dari kekangan ego dan belenggu ambisi duniawi. Waktu dimana kita berada di tengah keriuhan dunia, namun justru dapat merasakan ketenangan dan kedekatan dengan sang Pencipta.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Teman,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Tak perduli berapa banyak waktu luangmu, lakukanlah apa yang dapat membuatmu bahagia. Hiduplah dengan perbuatan-perbuatan apa saja yang kau sukai. Tapi ingatlah teman, kita tak selamanya memiliki waktu luang ini. Lakukanlah sesuatu yang menurutmu benar dan bermanfaat. Karena saat kita sadar bahwa sesungguhnya kita tak ‘memiliki’ waktu lagi, semuanya telah terlambat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Seorang ulama sufi berkata, “Ad-dunya mazro’atul akhiroh”. Dunia adalah ladangnya akhirat. Barangsiapa menanam kebaikan hari ini, dia akan menuainya di ‘hari kemudian’. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Orang boleh menganggap apa yang kita lakukan itu tak berguna, tak ada nilai tambahnya bagi kita sebagai dokter. Saya juga tidak tahu, pengalaman seperti yang saya alami itu akan membawa saya menjadi orang seperti apa di masa mendatang. Namun satu hal yang saya yakini. Waktu luang seperti itu adalah sebuah anugrah. Seberapa kaya dan berjayanya kita nanti, kita tak akan sanggup membeli waktu-waktu seperti itu. Tak akan pernah. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Pada saat-saat seperti itu, saya merasa sadar. Terlepas dari fakta bahwa saya seorang dokter, saya juga seorang manusia. Yang suatu saat nanti juga akan ‘habis’ waktunya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: right;"&gt;M.A. Empitu, di waktu luangnya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: right;"&gt;Sampang, 18 Maret 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;Special Thanks: Fadhil Rashid, for his tough camera.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-B7xLUkC_X4g/Tc-bYPfefYI/AAAAAAAAAFE/Yrb8HPypB2s/s1600/000anak_pulau_sekolah.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://4.bp.blogspot.com/-B7xLUkC_X4g/Tc-bYPfefYI/AAAAAAAAAFE/Yrb8HPypB2s/s320/000anak_pulau_sekolah.jpg" width="240" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Memakai sandal ke sekolah.&lt;/td&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-EW3WmAb1lIE/Tc-biNBHkRI/AAAAAAAAAFI/gbCYZwN5VvM/s1600/000anak_pulau_sekolah2.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://2.bp.blogspot.com/-EW3WmAb1lIE/Tc-biNBHkRI/AAAAAAAAAFI/gbCYZwN5VvM/s320/000anak_pulau_sekolah2.jpg" width="242" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Es "Wawan", masih ada di jaman sekarang. :)&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-5YvfSMAXsOc/Tc-bnxmw3TI/AAAAAAAAAFM/UN-kd0yPHCU/s1600/000anak_pulau1.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://3.bp.blogspot.com/-5YvfSMAXsOc/Tc-bnxmw3TI/AAAAAAAAAFM/UN-kd0yPHCU/s320/000anak_pulau1.jpg" width="240" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;'Itu' nya ditutupi &lt;i&gt;dong.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-0FIKoopfsrY/Tc-bu0QRiyI/AAAAAAAAAFQ/na8bW-hneNI/s1600/000anak_pulau3.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://4.bp.blogspot.com/-0FIKoopfsrY/Tc-bu0QRiyI/AAAAAAAAAFQ/na8bW-hneNI/s320/000anak_pulau3.jpg" width="240" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Bermain di atas jala.&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-_CZsLduSYcE/Tc-c5MQLvYI/AAAAAAAAAFU/ffgp4zRpbks/s1600/000anak_pulau4.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://1.bp.blogspot.com/-_CZsLduSYcE/Tc-c5MQLvYI/AAAAAAAAAFU/ffgp4zRpbks/s320/000anak_pulau4.jpg" width="240" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Menulis di atas pasir.&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: right;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3391768758550731628-2924781481641940668?l=mimpiempitu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mimpiempitu.blogspot.com/feeds/2924781481641940668/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mimpiempitu.blogspot.com/2011/05/catatan-dokter-internship-2-menghargai.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3391768758550731628/posts/default/2924781481641940668'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3391768758550731628/posts/default/2924781481641940668'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mimpiempitu.blogspot.com/2011/05/catatan-dokter-internship-2-menghargai.html' title='Catatan Dokter Internship (2): Menghargai Waktu Luang'/><author><name>Empitu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08622565267722410362</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_3HVmdhpurIM/Sts0SVBEIBI/AAAAAAAAAA8/p5xJmSabQmE/S220/ant2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-DiVb6q2tTUk/Tc-Z4i86wYI/AAAAAAAAAFA/i4ca3PxLMz8/s72-c/000anak_pulau2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3391768758550731628.post-4465589847761200822</id><published>2011-04-10T06:22:00.000-07:00</published><updated>2011-04-10T06:24:14.591-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Motivasi'/><title type='text'>Sekali Teman, Tetaplah Teman</title><content type='html'>&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-nggoKDzts98/TaGux2JjwTI/AAAAAAAAAE8/ayRckHWJrrc/s1600/Love_after_Rain_by_Jayantara.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="400" src="http://3.bp.blogspot.com/-nggoKDzts98/TaGux2JjwTI/AAAAAAAAAE8/ayRckHWJrrc/s400/Love_after_Rain_by_Jayantara.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;“&lt;i&gt;A mistake is usually unacceptable, rarely excusable, but always forgivable”&lt;/i&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Untuk teman-temanku yang pemaaf,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Beberapa hari ini saya sering teringat dengan kawan-kawan lama, beberapa telah menjadi sahabat terbaik dalam hidup saya. Setidaknya sampai detik ini. Beberapa juga mungkin pernah menjadi ‘musuh’ saya. Namun sejauh yang saya ingat, seberapa menyebalkannya, mereka adalah teman saya. Sekali teman, tetaplah teman.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Kadang saya berusaha mengingat bagaimana saat dulu pertama bertemu mereka, bagaimana salam perkenalan yang mereka dulu ucapkan, perangai yang dulu menawan hingga mungkin yang tampak arogan lagi menyebalkan. Sering kali saya tidak menyangka bahwa mereka akan mewarnai hidup saya jauh lebih &lt;i&gt;colorful&lt;/i&gt;&amp;nbsp; dari apa yang pernah saya bayangkan. Tidak jarang juga saya mengira bahwa mereka akan menjadi teman satu atau dua hari saja, namun waktu membuktikan sebaliknya. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Kawan, pertemanan selalu ada pasang surutnya. Tak selau senang dan gembira. Mungkin suatu saat Anda pernah merasa kecewa dengan teman Anda. Saya juga. Kita semua pernah mengalaminya. Kadang teman kita berkelakuan yang tidak semestinya. Mereka berkata sesuatu yang menyesakkan. Mereka berbuat hal yang menyakitkan. Akhirnya, kita kecewa. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Saat kita kecewa terhadap seorang teman, seakan-akan hanya keburukan teman itulah yang ada di kepala kita. Seolah-olah bahwa kita telah memberikan segala yang kita mampu berikan. Kita telah bersikap baik seumur hidup kita, namun mengapa teman kita itu malah bersikap sebaliknya.Entah karena besarnya kesalahan yang diperbuat teman kita atau karena besarnya rasa kecewa kita terhadap mereka, kita sampai pada kesimpulan untuk tidak memaafkan teman kita yang &lt;i&gt;‘jahat’&lt;/i&gt; itu. &amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Saat kita merasa seperti itu, ingatlah waktu kita bahagia bersama. Ada hari-hari saat kita saling mendatangkan kegembiraan. Di saat kita saling memberi tanpa berharap untuk diberi. Saat kita berbagi suka maupun duka. Saat kita melalui hal tersulit dalam hidup kita, namun teman kita masih dapat membuat kita tersenyum dan merasakan kebahagiaan. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Dikecewakan memang rasanya tidak enak. Sakit hati memang lebih sakit dari pada sakit gigi. Namun seberapa besarkah rasa kecewa itu dibanding semua kebahagiaan yang telah kita terima? Seberapa besar kesalahan teman kita itu dibanding semua kebaikan yang datang melalui dirinya? &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Hidup ini memang penuh liku-liku. Banyak hal yang tak terduga. Kita tak selamanya dapat berbuat benar, kadang juga salah. Kita tak selalu bisa menyelesaikan tantangan hidup sendirian. Kita tak selalu senang, tak selalu tersenyum, tak selalu berhasil, tak selalu bisa menerima kesalahan yang diperbuat orang lain. Dan mungkin, tak selalu menginginkan teman.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Namun seberapa besar rasa kecewa kita dan seberapa parah kesalahan teman kita itu, maafkanlah. Bebaskanlah diri kita dari rasa benci. Lihatlah bahwa kebahagiaan yang kita terima jauh melebihi segala kekecewaan yang pernah kita rasakan. Yakinlah, bahwa segala kesulitan yang kita lalui saat ini adalah hal yang &amp;nbsp;akan memperkuat rasa pertemanan kita. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Saat kita tua dan telah sendiri nanti, semua kesalahan itu tak akan ada artinya. Kita hanya akan mengingat mereka sebagai teman. Teman yang telah membantu menuliskan kisah hidup kita. &amp;nbsp;Teman yang membuat catatan hidup kita menjadi luar biasa. Dan sebarapa menyebalkannya mereka sekarang, kita akan sangat merindukannya nanti.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;Percayalah. :)&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: right;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: right;"&gt;M.A.Empitu, di jalan &lt;i&gt;bahagia&lt;/i&gt;. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3391768758550731628-4465589847761200822?l=mimpiempitu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mimpiempitu.blogspot.com/feeds/4465589847761200822/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mimpiempitu.blogspot.com/2011/04/sekali-teman-tetaplah-teman.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3391768758550731628/posts/default/4465589847761200822'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3391768758550731628/posts/default/4465589847761200822'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mimpiempitu.blogspot.com/2011/04/sekali-teman-tetaplah-teman.html' title='Sekali Teman, Tetaplah Teman'/><author><name>Empitu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08622565267722410362</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_3HVmdhpurIM/Sts0SVBEIBI/AAAAAAAAAA8/p5xJmSabQmE/S220/ant2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-nggoKDzts98/TaGux2JjwTI/AAAAAAAAAE8/ayRckHWJrrc/s72-c/Love_after_Rain_by_Jayantara.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3391768758550731628.post-528266505924574491</id><published>2011-04-05T22:31:00.000-07:00</published><updated>2011-04-07T19:49:41.179-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dunia dokter'/><title type='text'>Catatan Dokter Internship (1): Membawa Optimisme</title><content type='html'>&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;smallfrac m:val="off"&gt;&lt;dispdef&gt;&lt;lmargin m:val="0"&gt;&lt;rmargin m:val="0"&gt;&lt;defjc m:val="centerGroup"&gt;&lt;wrapindent m:val="1440"&gt;&lt;intlim m:val="subSup"&gt;&lt;narylim m:val="undOvr"&gt;&lt;/narylim&gt;&lt;/intlim&gt;&lt;/wrapindent&gt;&lt;/defjc&gt;&lt;/rmargin&gt;&lt;/lmargin&gt;&lt;/dispdef&gt;&lt;/smallfrac&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-liJBofM9E0Y/TZvumZ06giI/AAAAAAAAAE0/ez0e_vS-MLM/s1600/Mandangin+5.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://4.bp.blogspot.com/-liJBofM9E0Y/TZvumZ06giI/AAAAAAAAAE0/ez0e_vS-MLM/s320/Mandangin+5.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-4llNBTtut7Q/TZvt72swt-I/AAAAAAAAAEk/xJN93yt3ew8/s1600/Mandangin+3.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Sampang, 15 Maret 2011&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Jika kau berbuat baik, berarti kau berbuat baik bagi dirimu. Jika kau berbuat buruk, maka keburukan itu untuk dirimu sendiri&lt;/i&gt;. (Al-ISRA': 7)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Selamat pagi Kawan,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Hari ini adalah hari pertama saya akan bertugas di sebuah Puskesmas Pembantu di Pulau Mandangin, Kabupaten Sampang. Ini adalah kali kedua saya mengunjungi pulau ini. Saya sudah pernah ke tempat ini tiga pekan lalu. Saat itu, saya hanya singgah sejenak. Namun kali ini berbeda, saya akan tinggal di Mandangin selama beberapa hari. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Perjalanan dimulai dari ‘pelabuhan’ muara Sungai Tanglok pada pukul 5.30 pagi . Untuk mencapai pulau Mandangin, saya harus menaiki sebuah ‘kapal’ bermesin diesel ganda. Kapal berjalan menyusuri muara sungai hingga sampai ke lautan. Di sepanjang bibir sungai, banyak kapal nelayan sedang membongkar muatan, ikan hasil melaut pada malam sebelumnya. Tidak semuanya adalah kapal-kapal besar dan bagus. Ada juga perahu-perahu reot berukuran solo yang hanya dikendarai oleh seorang nelayan. Namun apapun ukuran kapal mereka, pagi ini saya melihat kesamaan di antara mereka semua. Mereka sedang bergembira. Malam tadi, cuaca cerah dan ikan berlomba-lomba mengisi jala mereka. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Di kanan dan kiri muara sungai, penumpang kapal disuguhi pemandangan hutan mangrove lengkap dengan puluhan burung bangau yang terbang silih berganti. Kami bisa bisa menyaksikan dengan jelas sarang-sarang mereka di antara dahan pepohonan. Sudah belasan tahun saya tidak pernah melihat burung bangau secara langsung di habitat aslinya. Hari ini, saya beruntung. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Tak lama kemudian kami telah sampai di laut lepas. Pemandangan matahari pagi yang baru ‘sejengkal’ dari bumi, membuat saya terpukau. Sinar hangat mentari sangat lihai melewati celah-celah asap dan kabut yang menyelimuti lautan. Secara sederhana semua bisa digambarkan dengan satu kata, putih. Dengan sedikit kesan silau karena mentari.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Setelah melaju beberapa saat, saya mulai dapat melihat lautan luas yang biru beserta ‘pernak-perniknya’. Ada beberapa ikan membentuk formasi berputar dengan sirip yang muncul di atas permukaan air. Sepintas, mirip sirip ikan hiu yang biasa kita lihat di saluran &lt;i&gt;nat geo&lt;/i&gt;. Saya jadi teringat cerita teman saya, Fatkhul. Dia pernah berkata pernah melihat dan ‘menyentuh’ hiu bersama ayahnya yang nelayan. Dulu saya tidak percaya, tapi kini saya sudah mulai &lt;i&gt;acceptance &lt;/i&gt;&amp;nbsp;dengan ceritanya. :)&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Permukaan lautan yang tak berangin menciptakan tekstur halus dan memukau. Pagi ini cuaca sangat tenang, nyaris tak ada gelombang. Hanya angin sepoi-sepoi. Di udara, beberapa burung camar terbang dan memamerkan lekuk tubuhnya yang aerodinamis. Sesekali mereka terbang rendah dan menyentuhkan paruhnya di permukaan air. Luar biasa.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Mesin kapal menderu, ‘mengejan’ dan menciptakan getaran hingga dapat saya rasakan pada lantai papan yang saya duduki. Di bagian belakang&amp;nbsp; kapal, sesekali terdengar suara para ‘oemar bakri’ yang dengan semangat berangkat menularkan ilmu kepada anak-anak pulau. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Sebelum saya berangkat, Saya telah mendengar beberapa hal tentang Mandangin termasuk dari beberapa teman saya sendiri. Orang berkata, Mandangin adalah pulau padat yang menyimpan berbagai masalah. Sekitar 60% persen penduduknya BAB di tempat sembarangan, banyak ditemukan kasus tuberculosis, masyarakatnya susah diedukasi dan berbagai hal buruk lainnya. Akan mustahil untuk membuat perubahan dalam waktu singkat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Akan ada banyak tantangan yang mungkin tidak pernah saya pikirkan waktu di sekolah dulu. Numun, itulah yang membuat hidup lebih seru. Hudup tidak sesederhana soal ujian kita dulu yang bisa diselesaikan di atas kertas. Hidup seringkali juga tidak memiliki 'kunci jawaban' yang pasti. Di saat kita ingin berbuat, selalu ada halangan. Di saat kita berharap, kita sering kali harus berhadapan dengan berbagai sinisme dan pesimisme. Saya yakin bahwa kawan-kawan juga menghadapi hal yang sama. Dimanapun kawan bekerja, di rumah sakit, kantor, jalanan atau rumah sekalipun, tantangan akan selalu ada.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Namun jangan surutkan langkahmu. Genggam erat hasratmu untuk berbuat. Peluk lekat harapan dan niatmu untuk memberi manfaat. Tidak ada yang mustahil di dunia ini. Perubahan besar dimulai dari banyak hal yang kecil.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;*** &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Wajah Pulau Mandangin sudah tampak dari kejauhan. Sebentar lagi saya akan sampai. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Saya sudah tak sabar bertemu saudara se-Indonesia saya itu. Semoga Tuhan mengijinkan saya untuk ‘menyentuhkan’ mereka terhadap perubahan-perubahan yang positif. &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Walau mesin kapal terdengar telah menderu dan ‘mengejan’ sekuat tenaga, kapal tetap saja berjalan perlahan. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Mungkin, seperti kapal itulah kondisi saya sekarang. Sulit untuk membuat sebuah lompatan besar. Namun jangan harap untuk berhenti. Biarlah walau harus melaju meter demi meter. Untuk sementara, saya hanya ingin membawa optimisme.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Entah sampai kapan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;M.A.Empitu, di atas kapal ‘Sentosa’&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-JRXBq41cXSg/TZvuYHndZUI/AAAAAAAAAEo/eFAJFzlvj08/s1600/Mandangin+1.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="207" src="http://4.bp.blogspot.com/-JRXBq41cXSg/TZvuYHndZUI/AAAAAAAAAEo/eFAJFzlvj08/s320/Mandangin+1.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;KAPAL NELAYAN: di antara putihnya langit dan lautan.&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-jDdSrovVQTo/TZvuaxmcjZI/AAAAAAAAAEs/0F4Wrkk1-qI/s1600/mandangin+2.jpg" imageanchor="1"&gt;&lt;img border="0" height="400" src="http://2.bp.blogspot.com/-jDdSrovVQTo/TZvuaxmcjZI/AAAAAAAAAEs/0F4Wrkk1-qI/s320/mandangin+2.jpg" width="335" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;MENTARI PAGI: menembus remang kabut dan awan&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-rjiGZOK_L7g/TZvudlLr7zI/AAAAAAAAAEw/T_PlObTwV4M/s1600/Mandangin+4.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="400" src="http://2.bp.blogspot.com/-rjiGZOK_L7g/TZvudlLr7zI/AAAAAAAAAEw/T_PlObTwV4M/s400/Mandangin+4.jpg" width="300" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;LANGIT dan LAUTAN, luas dan biru&lt;/td&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-iU8DwjkvmBw/TZvurBXTtyI/AAAAAAAAAE4/ZQqP0EHjGqw/s1600/Mandangin+6.jpg" imageanchor="1"&gt;&lt;img border="0" height="250" src="http://4.bp.blogspot.com/-iU8DwjkvmBw/TZvurBXTtyI/AAAAAAAAAE4/ZQqP0EHjGqw/s320/Mandangin+6.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Beberapa kapal penangkap ikan berjajar di perairan dangkal Mandangin&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-4llNBTtut7Q/TZvt72swt-I/AAAAAAAAAEk/xJN93yt3ew8/s1600/Mandangin+3.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://3.bp.blogspot.com/-4llNBTtut7Q/TZvt72swt-I/AAAAAAAAAEk/xJN93yt3ew8/s320/Mandangin+3.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Sesama orang Indonesia. :)&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-liJBofM9E0Y/TZvumZ06giI/AAAAAAAAAE0/ez0e_vS-MLM/s1600/Mandangin+5.jpg" imageanchor="1"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://4.bp.blogspot.com/-liJBofM9E0Y/TZvumZ06giI/AAAAAAAAAE0/ez0e_vS-MLM/s320/Mandangin+5.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Perahu penumpang, satu-satunya alat transportasi menuju Mandangin.&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3391768758550731628-528266505924574491?l=mimpiempitu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mimpiempitu.blogspot.com/feeds/528266505924574491/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mimpiempitu.blogspot.com/2011/04/catatan-dokter-internship-1-membawa.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3391768758550731628/posts/default/528266505924574491'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3391768758550731628/posts/default/528266505924574491'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mimpiempitu.blogspot.com/2011/04/catatan-dokter-internship-1-membawa.html' title='Catatan Dokter Internship (1): Membawa Optimisme'/><author><name>Empitu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08622565267722410362</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_3HVmdhpurIM/Sts0SVBEIBI/AAAAAAAAAA8/p5xJmSabQmE/S220/ant2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-liJBofM9E0Y/TZvumZ06giI/AAAAAAAAAE0/ez0e_vS-MLM/s72-c/Mandangin+5.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3391768758550731628.post-987833598674474786</id><published>2011-03-22T04:30:00.000-07:00</published><updated>2011-03-22T05:20:26.157-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Motivasi'/><title type='text'>5 hari kita yang sia-sia</title><content type='html'>&lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://lh5.googleusercontent.com/-VX07Ib9x0ns/TYiD0UYXwVI/AAAAAAAAAEg/zCqfcHpRfZ8/s1600/fun-5.gif" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="https://lh5.googleusercontent.com/-VX07Ib9x0ns/TYiD0UYXwVI/AAAAAAAAAEg/zCqfcHpRfZ8/s320/fun-5.gif" width="213" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt;"&gt;&lt;i&gt;Men talk of killing time, while time quietly kills them.&amp;nbsp; ~Dion Boucicault. &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt;"&gt;&amp;nbsp;Kawan, &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt;"&gt;Pagi ini, saya mengawali hari dengan ‘kehilangan’ kunci motor. Saya lupa dimana terakhir kali saya meletakkannya. Saya berkeliling rumah dan menjelajahi tempat-tempat dimana saya biasa menyimpan barang. Setelah berjuang sekitar 15 menit, akhirnya ketemu juga. ‘Perjuangan’ tersebut membuat ‘&lt;i&gt;start&lt;/i&gt;’ hari saya terkesan sedikit ‘kacau’. Namun seberapa negatifnya perasaan saya, ini adalah keberhasilan pertama saya di hari ini. &lt;span style="font-family: Wingdings;"&gt;:)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt;"&gt;Beberapa hari ini adalah hari yang melelahkan bagi saya. Bukan hanya secara fisik, tapi juga psikis. Banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Masih ada dua proyek penyusunan buku yang akan segera diterbitkan, beberapa buletin, ditambah urusan ‘mencari nafkah’ dan beragam hal lain&lt;i&gt; &lt;/i&gt;yang berkaitan dengan tugas sebagai dokter internship.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt;"&gt;Kawan sekalian mungkin juga memiliki urusan dan kesibukan sendiri-sendiri. Sama seperti saya dan manusia yang lain di seluruh penjuru dunia. Sehingga, saya mafhum dan tidak akan memaksa kawan-kawan untuk membaca posting saya yang satu ini. Namun jika Anda sudah terlanjur membaca sampai paragraf ini, sayang sekali jika Anda berhenti begitu saja. &lt;span style="font-family: Wingdings;"&gt;:)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt;"&gt;Pada suatu ketika, mungkin kita akan mengalami kejenuhan justru di saat kita dituntut untuk bertindak cepat, efektif dan efisien. Padahal pada titik jenuh itu, kita sangat memerlukan sebuah ‘relaksasi’ yang akan mengembalikan produktivitas kita ke tingkat yang dikehendaki. Dengan kata lain kita ingin berhenti sejenak dari ‘hidup’ ini, meninggalkan segala masalah untuk beberapa waktu dan melakukan sesuatu yang kita sukai. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt;"&gt;Ada hal menarik yang saya temukan di saat saya ‘absen’ dari dunia. Saya membuka lap top dan menemukan sebuah ebook terjemahan yang berjudul asli ‘&lt;i&gt;Smart Waysto Save Your Time’&lt;/i&gt;.&amp;nbsp; Dalam buku tersebut diurakan 250 langkah sederhana untuk membuat waktu kita lebih ‘bernilai’. Beberapa langkahnya mungkin terkesan konyol. Namun setidaknya menurut saya, mungkin langkah-langkah tersebut akan membuat perubahan yang signifikan. Salah satunya berkaitan dengan ‘cara’ saya mengawali hari ini.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt;"&gt;Salah satu tips tersebut kurang lebih berbunyi:&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: center;"&gt;“Letakkanlah barang-barang Anda secara rapi di tempat yang mudah dijangkau”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt;"&gt;Saya bertanya apakah langkah sesederhana itu bisa membuat waktu kita lebih bernilai? Apa hubungannya meletakkan barang dengan &lt;i&gt;save your time.&lt;/i&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt;"&gt;Sebelum kejadian pagi ini, saya tidak benar-benar memercayai tips tersebut. Setelah menjalani hari ini, saya baru menyadari bahwa kiat tersebut cukup penting. Hari ini saya menghabiskan sekitar 15 sampai 20 menit untuk mencari barang saya yang hilang. Bayangkan jika kita menghabiskan kurang lebih 20 menit setiap hari untuk mencari barang yang tidak pada tempatnya. Maka dalam setahun, akumulasi waktu tersebut akan mencapai 122 jam atau kurang lebih 5 hari.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt;"&gt;Banyak hal yang bisa kita lakukan dengan 5 hari tersebut. Kita bisa berlibur, berkumpul bersama keluarga, bertemu teman-teman lama atau melakukan hal lain yang lebih penting dari sekadar mencari barang hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin beberapa dari kita berpikir bahwa kiat ini adalah langkah sepele. Namun yakinlah jika kita tak bisa mengubah yang kecil, kita tak akan mampu mengubah hal yang besar. Banyak hal yang kompleks dalam hidup kita tersusun dari berbagai hal yang sederhana dan kecil. &lt;i&gt;Much of little means great&lt;/i&gt;. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt;"&gt;Sebenarnya, masih banyak tips lain yang ingin saya tulis dan ceritakan kepada Anda. Namun, saya tidak ingin menyita banyak waktu Anda. Waktu saya untuk ‘berhenti’ dari kehidupan juga telah cukup. Saya harus kembali berlari seirama dengan putaran dunia. Begitu juga Anda.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt;"&gt;Dapatkan kembali 5 hari kita yang sia-sia. Selamat berjuang! &lt;span style="font-family: Wingdings;"&gt;:)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: right;"&gt;M.A. Empitu, saat dunia 'berhenti' berputar &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3391768758550731628-987833598674474786?l=mimpiempitu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mimpiempitu.blogspot.com/feeds/987833598674474786/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mimpiempitu.blogspot.com/2011/03/5-hari-kita-yang-sia-sia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3391768758550731628/posts/default/987833598674474786'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3391768758550731628/posts/default/987833598674474786'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mimpiempitu.blogspot.com/2011/03/5-hari-kita-yang-sia-sia.html' title='5 hari kita yang sia-sia'/><author><name>Empitu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08622565267722410362</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_3HVmdhpurIM/Sts0SVBEIBI/AAAAAAAAAA8/p5xJmSabQmE/S220/ant2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='https://lh5.googleusercontent.com/-VX07Ib9x0ns/TYiD0UYXwVI/AAAAAAAAAEg/zCqfcHpRfZ8/s72-c/fun-5.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3391768758550731628.post-6274635843428172349</id><published>2011-03-01T23:27:00.000-08:00</published><updated>2011-03-01T23:36:54.240-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Motivasi'/><title type='text'>Sebuah Titik</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://lh6.googleusercontent.com/-9O41c7TWJEU/TW3smwb5_uI/AAAAAAAAAEc/94vgvT4l8jo/s1600/titik.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="182" src="https://lh6.googleusercontent.com/-9O41c7TWJEU/TW3smwb5_uI/AAAAAAAAAEc/94vgvT4l8jo/s320/titik.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit;"&gt;Lihatlah gambar di atas dengan seksama. Apa yang Anda lihat? Jika Anda melihat sebuah titik, maka tidaklah salah. Beberapa orang yang saya temui dan saya tanyai tentang gambar di atas memiliki jawaban yang sama. Saat saya pertama kali melihat gambar serupa, saya juga memberikan jawaban yang sama. Sebuah titik.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit;"&gt;Gambar tersebut mengingatkan saya akan cerita Ajahn Brahm. Nama aslinya adalah Peter Betts. Dulunya, Peter adalah seorang fisikawan Universitas Cambridge. Dalam perjalanan hidupnya kemudian, Peter memilih untuk ‘bertapa’ dan mengubah namanya menjadi Ajahn Brahm.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit;"&gt;Suatu ketika Ajahn Brahm ingin membangun sebuah biara. Namun karena ia miskin dan tidak mempunyai dana untuk membayar pekerja bangunan, akhirnya Ajahn Brahm memutuskan mengerjakan sendiri. Dia menata bata demi bata untuk membangun sebuah tembok. Membuat tembok bukanlah hal yang mudah bagi seorang mantan ilmuwan yang tidak pernah bekerja kasar. Meletakkan sesendok semen dan mengetuk ujung bata hingga tembok terlihat rata adalah hal yang ternyata lebih rumit dari teori fisika.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit;"&gt;Beberapa waktu kemudian, tembok telah berdiri. Namun, Ajahn Brahm melihat bahwa ada dua batu bata yang tidak lurus. Tembok sudah terlanjur jadi. Ajahn menyesali mengapa Ia salah menata dua bata tersebut hingga temboknya terlihat buruk. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit;"&gt;Beberapa bulan kemudian, mulai banyak orang berkunjung ke tempat Ajahn. Setiap kali Ajahn mengantar tamunya, Ia selalu menghindari bagian tembok yang menurutnya buruk. Ia juga berusaha menutupi dengan berbagai cara. Ia masih menyesali dua batanya yang tidak rata. Suatu saat ada orang yang berkata bahwa temboknya indah. Ajahn terkejut dan menanyakan apakah benar. Pengunjung tersebut berkata bahwa dia melihat ratusan bata yang ditata rapi dan hanya dua yang ditata dengan ‘unik’.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: center;"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit;"&gt;Dua bata yang dilihat Ajahn Brahm pada temboknya sama dengan sebuah titik yang kita lihat pada gambar di atas. Kita terlalu fokus pada ‘noda’ hitam kecil di tengah gambar dan melupakan fakta bahwa sebagian besar gambar tersebut berwarna putih. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit;"&gt;Dalam kehidupan sehari-hari, mungkin kita juga sering kali begitu. Setidaknya saya. Kita lebih sering melihat hal negatif dari orang lain maupun diri kita sendiri melebihi banyak hal positif yang lain. Mungkin kita lebih sering mengingat bahwa si Anu adalah orang yang menjengkelkan dan Anunya si Anu adalah orang yang suka merendahkan orang lain. Kita kadang juga terlalu larut dalam kegagalan dan melupakan bahwa masih terhampar luas kesempatan untuk meraih keberhasilan yang lebih besar. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit;"&gt;Saat kita menghadapi atau menjalani sesuatu,&amp;nbsp; kita juga terlalu cepat untuk menyimpulkan antara ‘menyenangkan’ dan ‘menjemukan’. Sering kali, kita mungkin tidak bisa memilih sesuatu yang akan menimpa kita. Tapi ingatlah, bahwa kita selalu bisa memilih untuk menjalani sesuatu dengan bahagia atau tidak. Selalu ada cara untuk ‘menikmati’ dan mensyukuri apa pun.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit;"&gt;Tokoh favorit saya dalam dorama “My Boss, My Hero”, Sakaki Makio acap kali berkata, “Nikmatilah masa muda, karena kau tak akan muda lagi di masa yang akan datang.”&amp;nbsp; Berbuatlah baik dan tersenyumlah kepada orang-orang yang mencintaimu, terlebih kepada orang yang membencimu. Hargailah orang yang menghormatimu, terlebih orang yang merendahkanmu. Nikmatilah setiap waktu bersama mengasihi maupun memusuhi kita, karena suatu saat kita akan merindukan mereka.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit;"&gt;Berbuat baiklah sebanyak-banyaknya, tersenyumlah sepuasnya, dan berbahagialah hari ini! Apa pun yang kita jalani, dengan siapa pun, dan dimanapun.&amp;nbsp; Karena&amp;nbsp; kita tiada yang tahu, apakah esok kita masih bisa.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit;"&gt;Lupakanlah ‘titik’ yang Anda temukan. :)&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: right;"&gt;&lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right" class="MsoNormal" style="text-align: right;"&gt;M.A.Empitu, dalam kebahagiaan ber-internship.&lt;/div&gt;&lt;div align="right" class="MsoNormal" style="text-align: right;"&gt;Untuk teman kami yang hari ini menikmati harinya yang ke-8401,&lt;/div&gt;&lt;div align="right" class="MsoNormal" style="text-align: right;"&gt;Muhammad Yusar,&lt;/div&gt;&lt;div align="right" class="MsoNormal" style="text-align: right;"&gt;Selamat mencari kebahagiaan yang hakiki.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3391768758550731628-6274635843428172349?l=mimpiempitu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mimpiempitu.blogspot.com/feeds/6274635843428172349/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mimpiempitu.blogspot.com/2011/03/sebuah-titik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3391768758550731628/posts/default/6274635843428172349'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3391768758550731628/posts/default/6274635843428172349'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mimpiempitu.blogspot.com/2011/03/sebuah-titik.html' title='Sebuah Titik'/><author><name>Empitu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08622565267722410362</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_3HVmdhpurIM/Sts0SVBEIBI/AAAAAAAAAA8/p5xJmSabQmE/S220/ant2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='https://lh6.googleusercontent.com/-9O41c7TWJEU/TW3smwb5_uI/AAAAAAAAAEc/94vgvT4l8jo/s72-c/titik.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3391768758550731628.post-6164985032136392596</id><published>2011-01-14T09:23:00.000-08:00</published><updated>2011-01-14T09:48:41.266-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esai'/><title type='text'>Yakinlah, Kita Bisa Bahagia</title><content type='html'>&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_3HVmdhpurIM/TTCJRSDUKhI/AAAAAAAAAEU/D7p9u22CC5U/s1600/yudisium3.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://2.bp.blogspot.com/_3HVmdhpurIM/TTCJRSDUKhI/AAAAAAAAAEU/D7p9u22CC5U/s400/yudisium3.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Untuk ‘Saudara Kandungku’.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;“Terimalah kegembiraan yang tidak kau rasakan, tidak lama lagi, kau akan merasakan kegembiraan yang kau terima.”&amp;nbsp; (Pepatah China)&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Kawan, beberapa hari ini kita berhiruk pikuk tentang internsip. Apa yg kita alami ini mengingatkan saya akan sebuah kisah. Kisah tentang seorang kakek yang akan pindah dari rumahnya ke panti jompo. Begini ceritanya…&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Suatu saat, seorang Kakek tua renta akan akan memasuki sebuah panti jompo. Sebelumnya sang Kakek hidup di rumahnya yang nyaman. Ia tinggal di rumah itu berpuluh tahun lamanya. Ia hafal setiap sudut ruangannya. Ia selalu tahu dimana letak pemotong kuku, dimana tukang loper melemparkan koran baru, sampai dimana posisi tisu toilet sehingga dia dapat menggapainya tanpa melihat. Sekarang, dia akan tinggal di sebuah tempat yang sama sekali asing. Tempat dengan orang-orang, tata letak, dan perabotan yang sama sekali berbeda.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Ketika berada di halaman panti jompo itu, seorang penjaga menunjukkan bangunan panti. Sang kakek berkata,”Bangunan yang bagus.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Kemudian sang Kakek ditunjukkan ruang bersantai. Ruang santai itu tidak cukup luas, hanya ada dua sofa dan meja tua. Kemudian sang Kakek berkata, “Ruang ini sempit. Tapi aku pasti bisa minum kopi dan baca Koran di sini tiap pagi. Berada di ruang ini akan sangat nyaman dan menyenangkan. Luar biasa.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Penjaga panti lalu menunjuk beberapa belas orang yang berada di halaman dan berkata, “Itu adalah orang-orang&amp;nbsp; yang akan menjadi temanmu Kek.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Sang kakek menjawab, “Mereka adalah orang yang menyenangkan.”&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Sang kakek kemudian diajak menaiki tangga menuju kamarnya. Saat menyusuri tangga, Sang Penjaga panti bercerita kepada sang kakek, “Kek, jangan terkejut ketika melihat kamarmu nanti. Di sana hanya ada tempat tidur, lemari,meja dan sebuah lampu baca. Tidak ada TV maupun sofa yang empuk. Jendelanya juga tidak terlalu lebar. Mungkin tak senyaman kamarmu dulu.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;“Luar biasa. Aku suka kamar itu. Aku pasti bisa membaca setiap malam.” Kakek berkata dengan antusias.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Sang Penjaga merasa bingung. Kemudian bertanya kepada sang Kakek mengapa Ia bisa tahu bahwa orang yg akan ia temui menyenangkan, dan mengapa Ia bisa menyukai kamarnya padahal Ia belum melihatnya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Sang kakek menjawab, ”Nak, Aku telah memutuskan untuk bertemu orang-orang yang menyenangkan bahkan sebelum aku menemui mereka.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;“Nak, Memori adalah tabungan hidup kita. Jika tua nanti, kita akan mengambil setiap tabungan itu untuk kita kenang.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;“Simpan segala kenangan yang postitif bersama teman-temanmu, maka nanti kau akan mengenang masa-masa indah bersama mereka. Bukan penyesalan bahwa kau telah berteman dengan mereka”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;“ Berbuat baiklah setiap saat kepada siapapun, maka nanti kau akan mengenang hidupmu sebagai perjalanan hebat yang sangat bermakna. Bukan kesedihan atas setiap kesialan yang kau temui.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;“ Nak, simpanlah setiap kebaikan dari sekelilingmu, agar hidupmu penuh dengan kenangan indah. Berbuat baiklah kepada siapa saja, agar mereka juga mempunyai hidup yg luar biasa sepertimu. &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Hidup ini terlalu singkat untuk tidak dijalani dengan rasa bahagia.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Kawan, sebentar lagi kita akan menjalani internship. Kita akan tinggal di sebuah tempat yang mungkin asing bagi kita. Kita akan bertemu orang-orang yang berbeda dengan teman-teman kita selama ini. Kita akan tidur di kasur yang mungkin tidak senyaman tempat tidur kita biasanya. Kita akan tinggal di lingkungan yang tentu saja tidak segemerlap kota Surabaya. Mungkin, gaya hidup kita juga akan berubah.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Namun, yakinlah kita akan bertahan. Percayalah bahwa kemampuan kita untuk bertahan jauh lebih besar dari apa yang akan kita hadapi. Kemampuan kita untuk berkembang jauh lebih besar dari segala tantangan di masa depan. Yakinlah bahwa kita tidak akan sekedar bisa bertahan, namun kita akan jauh berkembang. Kita hanya perlu membuang jauh kata ‘menyerah’.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Kawan, bahagia atau tidak adalah pilihan. Dengan siapa pun kita akan bersama, yakinlah kita akan belajar banyak dari mereka. Dimana pun kita akan tinggal, percayalah itu akan meningkatkan kemampuan adaptasi kita. Dan seperti apa pun keadaannya, yakinlah kita tetap bisa bergembira. Kita cukup menambah ‘porsi’ berpikir positif kita.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Kawan, kita adalah ‘saudara kandung’. Jika engkau sengsara, aku turut merasa. Jika engkau bahagia, aku pun begitu. Jalinan kasih sayang di antara kita terlalu besar untuk dikalahkan oleh sekedar &amp;nbsp;‘keributan’ internship. Saya yakin, sejak saat-saat sebelum hari senin besok, kita telah berniat untuk memilih ‘bahagia’ bersama. Bukan engaku, aku, atau hanya mereka, tapi kita semua. &amp;nbsp;Kita hanya perlu melupakan segala bentuk ‘egoisme’.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Kawan, berpikirlah positif. Yakinlah, kita bisa bahagia. Dimana pun, kapan pun dan dengan siapa pun. &amp;nbsp;Bukankah begitu?!&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: right;"&gt;M.A.Empitu, &lt;i&gt;dalam gelora cinta Aesculap 2005&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: right;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3391768758550731628-6164985032136392596?l=mimpiempitu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mimpiempitu.blogspot.com/feeds/6164985032136392596/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mimpiempitu.blogspot.com/2011/01/yakinlah-kita-bisa-bahagia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3391768758550731628/posts/default/6164985032136392596'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3391768758550731628/posts/default/6164985032136392596'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mimpiempitu.blogspot.com/2011/01/yakinlah-kita-bisa-bahagia.html' title='Yakinlah, Kita Bisa Bahagia'/><author><name>Empitu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08622565267722410362</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_3HVmdhpurIM/Sts0SVBEIBI/AAAAAAAAAA8/p5xJmSabQmE/S220/ant2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_3HVmdhpurIM/TTCJRSDUKhI/AAAAAAAAAEU/D7p9u22CC5U/s72-c/yudisium3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3391768758550731628.post-2125420814532972874</id><published>2011-01-08T10:45:00.000-08:00</published><updated>2011-01-08T10:58:51.003-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esai'/><title type='text'>Terlena karena Gayus</title><content type='html'>&lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_3HVmdhpurIM/TSiwD-fO7YI/AAAAAAAAAEM/SZBrUvh-1hE/s1600/gayus.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://4.bp.blogspot.com/_3HVmdhpurIM/TSiwD-fO7YI/AAAAAAAAAEM/SZBrUvh-1hE/s320/gayus.jpg" width="255" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Setelah ke Bali, Kuala Lumpur, dan Macau, Gayus akan pergi ke bulan.&lt;/td&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;“Seseorang yg berteriak di saat semua berbicara adalah biasa. Namun, seseorang yang berbisik di saat semuanya diam, dialah pemberani.” (Iwan Fals)&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Kawan,&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Halaman depan koran ‘terbesar’ di Indonesia kemarin mengingatkan saya akan permainan semasa kanak-kanak, Papan Monopoli. Di antara bermacam-macam petak dalam papan permainan monopoli, ada dua petak di pojok yang berseberangan. Satu petak untuk ‘penjara’ dan satu petak ‘bebas parkir’. Jika seorang pemain menempati petak ‘bebas parkir’, dia akan mendapatkan &lt;i&gt;free pass&lt;/i&gt; ke ‘negara’ manapun. Sedangkan pemain yang sedang berada di petak penjara, dia akan kehilangan kesempatan untuk melangkah ke manapun. Mau atau tidak mau, suka atau tidak suka.&lt;i&gt; &lt;/i&gt;Namun itu hanyalah peraturan Papan Monopoli.&amp;nbsp; Lupakan saja.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Nyatanya, kenyataan tidaklah sesederhana permainan papan monopoli. Perangai ‘orang dewasa’ dalam ‘bermain’ tidaklah sejujur anak-anak dalam bermain. ‘Orang dewasa’ jauh lebih ‘pandai’ dari anak-anak yang mau-mau saja tunduk pada aturan main papan monopoli. ‘Orang dewasa’ jauh lebih cerdik dalam menemukan celah permainan. Bahkan di saat tidak ada celah, mereka bisa mengada-adakan celah itu. Semua bisa dimanipulasi. ‘Penjara’ pun bisa disulap jadi petak ‘bebas parkir’oleh sang legenda baru, Gayus Tambunan. Bukan hanya keluar penjara, Gayus pun bisa keliling dunia. Kalau Gayus mau, pergi ke bulan pun bisa. Sepak terjang Gayus telah menambah satu lagi daftar kelucuan yang telah terjadi di negeri kita tercinta.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Terlalu banyak kisah (baca: masalah) di sekitar kita yang membuat kita terkesima. Hampir setiap hari muncul&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&amp;nbsp;‘kisah’ baru. Kalau diibaratkan menonton sebuah sinetron, saat ini kita tengah menonton seri sinetron kejar tayang. Sinetron yang tiap hari rilis episode baru tanpa kita tahu kapan episode akhir akan dibuat. Sinetron yang tampil setiap hari dengan cerita berbeda, plot berbeda, bahkan tokoh yang tidak sama pula. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Banyaknya ‘sinetron’ yang kita tonton itu sering kali menghapus kesan mendalam dari setiap episode. Kita sering kali lupa dengan episode kemarin. Memori kita hari ini telah terisi penuh dengan kisah hari ini sehingga kisah yang telah lalu terlupakan.Kesan mendalam akan episode lampau telah tergantikan oleh episode yang baru yang lebih fantastis. Penonton menjadi terbiasa terhadap kelucuan-kelucuan yang dulunya membuat mereka terbahak bahak. Kita tidak lagi terharu karena kisah sedih yang bertaraf ’biasa’. Bahkan, kita sering kali tertarik untuk menonton episode lain yang terkesan lebih sensasional sebelum menyelesaikan satu episode secara tuntas. &amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&amp;nbsp;‘Episode’ yang kita tonton sekarang berjudul tamasya ala Gayus. Beberapa hari ini kasus pelesir Gayus ke luar negeri menjadi perhatian publik. Kita dibuat terkesima dengan &lt;i&gt;tour &lt;/i&gt;Gayus ke Kuala Lumpur, Macau dan Bali. Namun kita harus ingat, ‘episode’ ini hanyalah sebuah sekuel dari episode utama kasus Gayus Tambunan dan episode-episode lain yang telah kita lewatkan.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&amp;nbsp;Kasus Gayus yang utama adalah kasus penggelapan pajak yang merugikan negara trilyunan rupiah. Ada korporat dan kapitalis yang super-oportunis di belakangnya. Logika sederhananya, jika beberapa korporat mau mengeluarkan Rp. 100 milyar untuk memanipulasi pajak, tentulah jumlah pajak sebenarnya jauh lebih besar dari itu. Mereka telah mengambil hak warga negara untuk menikmati jalan mulus, anak tidak mampu untuk mendapatkan pendidikan gratis, dan orang miskin untuk menikmati jaminan kesehatan. Semoga kita tidak melupakan ‘episode’ itu.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Kasus pelesir Gayus hanyalah salah satu contoh dari sekian banyak praktek strategi pengalihan isu. Kita sekarang tentu sudah tidak mendengar lagi bagaimana kabar kasus Century, Susno Duaji, maupun ‘bencana’ Lumpur Lapindo. ‘Cerita-cerita’ itu kini sudah tergantikan dengan cerita baru tanpa pernah terselesaikan. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Kawan, janganlah kita terlena dengan isu-isu bombastis yang memang sengaja diciptakan untuk mengacaukan prioritas kita. Jadilah penonton yang cerdas, penonton yang mampu mengikat makna dari setiap kisah. Jadilah penonton&amp;nbsp; hebat yang tidak hanya menikmati cerita, namun juga mampu mengubah alur cerita. Jangan berhenti menyuarakan kebenaran. Walau penguasa lebih sering berlagak tuli, wakil rakyat lebih sering mengurusi urusannya sendiri, dan penegak hukum pun tidak perduli, tapi ingatlah Tuhan selalu mendengar. Kita hanya tidak tahu kapan dan bagaimana Dia akan menjawab suara kita.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Berbisiklah, Dia akan selalu mendengarmu.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: right;"&gt;&lt;i&gt;M.A. Empitu&lt;/i&gt;, di atas kasur. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3391768758550731628-2125420814532972874?l=mimpiempitu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mimpiempitu.blogspot.com/feeds/2125420814532972874/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mimpiempitu.blogspot.com/2011/01/terlena-karena-gayus.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3391768758550731628/posts/default/2125420814532972874'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3391768758550731628/posts/default/2125420814532972874'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mimpiempitu.blogspot.com/2011/01/terlena-karena-gayus.html' title='Terlena karena Gayus'/><author><name>Empitu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08622565267722410362</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_3HVmdhpurIM/Sts0SVBEIBI/AAAAAAAAAA8/p5xJmSabQmE/S220/ant2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_3HVmdhpurIM/TSiwD-fO7YI/AAAAAAAAAEM/SZBrUvh-1hE/s72-c/gayus.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3391768758550731628.post-4311870955852702494</id><published>2010-12-31T09:47:00.000-08:00</published><updated>2010-12-31T09:56:37.515-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esai'/><title type='text'>‘The Bad Teacher ‘: Menulislah untuk dirimu sendiri!</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_3HVmdhpurIM/TR4WkAco5fI/AAAAAAAAAEI/rYXQIUSjh5I/s1600/2011.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://3.bp.blogspot.com/_3HVmdhpurIM/TR4WkAco5fI/AAAAAAAAAEI/rYXQIUSjh5I/s320/2011.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk Adik-adikku Linguist, yang gemar menulis.&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;“Experience is the best teacher. But for the bad one, I prefer not to learn from my own teacher...”&lt;/i&gt; (M.A.Empitu)&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Prinsip di atas selalu ada di benak saya kapan pun juga. Kita tidak perlu mengalami hal buruk. Kita bisa belajar dari pengalaman buruk orang lain. Ibarat jika kita ingin tahu bagaimana rasanya tahi, cukuplah orang lain yang mengunyahnya. Kita tinggal bertanya padanya. Simpel bukan?! &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Namun kenyataannya, banyak pengalaman buruk mampir ke dalam hidup saya. ‘Postulat Empitu’ jadi tidak berlaku. &amp;nbsp;Melalui tulisan ini saya ingin menceritakan pengalaman buruk saya. Bukan untuk menggurui Anda, tapi hanya untuk sekadar melegakan hati saya. Jika saya menceritakan pengalaman buruk &amp;nbsp;saya kepada Anda, setidaknya ‘postulat’ tadi bisa berlaku untuk Anda walau tidak untuk saya. Anda tidak perlu lagi mengunyah tahi, karena saya secara tidak sengaja sudah melakukannya untuk Anda. Sekarang, akan saya ceritakan bagaimana rasanya..&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Tahun 2005 adalah kali pertama saya mengenal Lingua. Saat itu, saya membayangkan bahwa Lingua adalah gudangnya penulis hebat. Jika saya menjadi anggota Lingua, saya dapat belajar kepada penulis-penulis senior Lingua. Saya ikut &lt;i&gt;Pelatjur&lt;/i&gt; (baca dengan ejaan yang telah disempurnakan, bukan ejaan lama), pelatihan jurnalistik. Saya berangkat ke Jakarta untuk menimba ilmu di forum&lt;i&gt; Medical Journalism Course&lt;/i&gt;. Intinya, saya terus belajar di bawah bimbingan senior. Saya berharap jika ‘waktunya’ tiba nanti, saya akan dapat menulis dengan produktif seperti senior-senior saya di Lingua. Saya ingin mengatasi kesulitan saya dalam memulai menulis. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Beberapa tahun kemudian, ‘waktunya’ telah tiba. Saya masih belum menjadi seperti yang saya harapkan. Selama beberapa tahun, hanya beberapa tulisan yang saya hasilkan untuk Lingua. Saya masih susah untuk menimbulkan hasrat menulis. Saya hanya menulis untuk Lingua jika &lt;i&gt;kepepet&lt;/i&gt;, jika mas atau mbak-mbak menagih saya. Saya baru mau memulai menulis semalam sebelum &lt;i&gt;deadline&lt;/i&gt;. Saya sangat malas menulis.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Namun ironis, saya mengalami sebuah paradoks. Di waktu yang sama, saya menulis &lt;i&gt;diary&lt;/i&gt; saya dengan sangat bergairah. Saya membuat file &lt;i&gt;diary&lt;/i&gt; saya dari beberapa &lt;i&gt;kilobyte&lt;/i&gt; menjadi bermega-mega &lt;i&gt;byte&lt;/i&gt;. Ide tulisan untuk &lt;i&gt;diary&lt;/i&gt; saya muncul dimana saja. Di atas kasur, di depan kaca toilet, di atas WC, di dahi dosen yang memberi kuliah, di warung masakan padang, dan hampir dimana saja. &amp;nbsp;Aneh.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Saya baru menyadari hal ini ketika saya membaca buku Hernowo yang saya ceritakan di beberapa note sebelumnya (buka mimpiempitu.blogspot.com).&amp;nbsp; Hernowo mengemukakan sebuah ‘doktrin’ yang menurut saya unik, yaitu &lt;b&gt;menulislah untuk dirimu sendiri!&lt;/b&gt; Selama ini kita, mungkin lebih tepatnya saya, hanya menulis untuk tujuan formal. &amp;nbsp;Saya hanya menulis jika diberi tugas oleh guru, disuruh mas-mbak Lingua, atau kalau ada lomba. Semua itu saya lakukan karena orang lain, bukan dorongan saya sendiri. Sedangkan kegiatan menulis &lt;i&gt;diary&lt;/i&gt;, saya lakukan untuk memuaskan diri saya. Dan tentu saja, saya jalani dengan senang hati.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Saya pernah bertanya kepada Adik saya, yang saya anggap sebagai salah satu orang terdekat. “Maukah kamu menyikat dan menyemirkan sepatu saya?” Adik saya tidak mau. Namun dia melakukan pekerjaan yang saya minta itu pada sepatunya sendiri hampir setiap hari. Dia tidak mengeluh, bahkan menikmatinya hingga sepatunya mengkilap sempurna! &amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Analogi tersebut dapat kita terapkan dalam konteks menulis. Bangunlah motivasi bahwa menulis adalah kegiatan untuk memuaskan kita, bukan orang lain. Menulislah untuk diri kita sendiri. Menulislah untuk menjawab rasa penasaran dan ingin tahu kita. Jangan membuang-buang waktu untuk menulis hal-hal yang tidak kita sukai, hal yang mebuat kita tersiksa, hal yang membuat kita berpikir kapankah ini akan berakhir. Tulislah hal-hal yang kita cintai dan yang membuat kita terus ingin menuliskan hal itu. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Jangan pikirkan pendapat orang lain akan tulisan, bahasa, maupun pemikiran kita. Biarkan ide-ide menari sebebas-bebasnya. Lepaskanlah diri kita dari rasa khawatir akan menghasilkan tulisan yang jelek. Anggaplah komentar orang lain, positif atau negatif, adalah hal yang akan memperkaya wawasan dan meningkatkan kualitas kita dalam menulis. Menulis adalah hak kita sepenuhnya. Tidak ada orang lain yang berhak mengganggu dan menggugatnya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Semoga cerita saya akan rasanya ‘tahi’ itu dapat memberi Anda pemahaman bahwa Anda benar-benar tidak perlu mengunyahnya. Karena melalui cerita saya, Anda sudah tahu bahwa rasanya tidak enak. Saya harap, Anda percaya saja. Jika tidak, Anda boleh mencobanya. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Semoga kita bisa terus belajar dan berkarya, demi dunia yang lebih baik.&amp;nbsp; &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: right;"&gt;M.A.Empitu, &lt;i&gt;Linguist 2005&lt;/i&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3391768758550731628-4311870955852702494?l=mimpiempitu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mimpiempitu.blogspot.com/feeds/4311870955852702494/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mimpiempitu.blogspot.com/2010/12/bad-teacher-menulislah-untuk-dirimu.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3391768758550731628/posts/default/4311870955852702494'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3391768758550731628/posts/default/4311870955852702494'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mimpiempitu.blogspot.com/2010/12/bad-teacher-menulislah-untuk-dirimu.html' title='‘The Bad Teacher ‘: Menulislah untuk dirimu sendiri!'/><author><name>Empitu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08622565267722410362</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_3HVmdhpurIM/Sts0SVBEIBI/AAAAAAAAAA8/p5xJmSabQmE/S220/ant2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_3HVmdhpurIM/TR4WkAco5fI/AAAAAAAAAEI/rYXQIUSjh5I/s72-c/2011.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3391768758550731628.post-1617601063622952156</id><published>2010-12-31T07:24:00.000-08:00</published><updated>2010-12-31T07:46:45.757-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Motivasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esai'/><title type='text'>Menggugat Filosofi Kemenangan</title><content type='html'>&lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_3HVmdhpurIM/TR306F5O_-I/AAAAAAAAAEE/NfFb8ceNKhg/s1600/The+win.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://2.bp.blogspot.com/_3HVmdhpurIM/TR306F5O_-I/AAAAAAAAAEE/NfFb8ceNKhg/s320/The+win.jpg" width="259" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Kita baru saja keluar dari pertempuran kecil menuju pertempuran yang besar, yaitu pertempuran melawan hawa nafsu.“&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Muhammad SAW, seusai perang Badar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih  belum lekang ingatan kita akan Final Piala AFF 2010. Malaysia keluar  sebagai juara. Indonesia harus puas menjadi nomor dua. Sejarah belum  mencatatkan nama Indonesia sekali pun sebagai juara even dua tahunan  tersebut. Kita kalah lagi. Lagi-lagi kalah. Namun di luar lapangan,  sejatinya kita telah memenangkan berbagai pertandingan pertandingan  besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Piala AFF 2010 telah menciptakan tren  nasionalisme yang masal. Seluruh Indonesia bernyanyi ‘Garuda di Dadaku’,  bersatu padu mendukung timnas.&amp;nbsp; Melalui&amp;nbsp; sepak bola, kita terbukti  berhasil meruntuhkan sekat perbedaan etnis, suku,&amp;nbsp; dan status sosial  yang selama ini menjadi pembatas interaksi masyarakat kita. Kita telah  menang melawan perbedaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekalahan di &lt;em&gt;first leg&lt;/em&gt;  final Piala AFF 2010 di Bukit Jalil sangatlah mengecewakan. Kebobolan  tiga gol tanpa balas adalah sebuah hal yang memalukan setelah rentetan  lima kemenangan berturut-turut. Banyak pihak yang mencari kambing hitam.  Timnas kita juga ikut kebagian cemoohan. Namun di pertandingan &lt;em&gt;second leg&lt;/em&gt;,  timnas kita telah menunjukkan determinasi permainan yang luar biasa.  Mereka bertanding dengan semangat juang yang hebat. &amp;nbsp;Dari menit pertama  hingga pertandingan berakhir. Tanpa disadari, kita telah menang melawan  kekalahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Final Piala AFF 2010 juga menunjukkan bahwa  supoter kita dapat berperilaku elegan. Walaupun ada sedikit keributan  saat penjualan tiket, namun tidak ada kekacauan yang berarti paska  kegagalan&amp;nbsp; Indonesia merengkuh juara. Kelakar suporter sepak bola di  Surabaya yang mengatakan bahwa &lt;em&gt;green laser &lt;/em&gt;akan dibalas dengan &lt;em&gt;green force&lt;/em&gt;  (baca:Bonek) tidak terbukti.&amp;nbsp; Secara sederhana, suporter kita telah  memiliki mekanisme pembalaan ego yang baik. Jika ditinjau dari teori  Kubler-Ross tentang tahapan dalam melalui kegagalan, supporter kita  telah sampai pada fase &lt;em&gt;acceptance.&lt;/em&gt; Menerima. Kita dapat melewati bahkan melompati fase &lt;em&gt;denial&lt;/em&gt; (penyangkalan) dan&amp;nbsp; &lt;em&gt;Anger&lt;/em&gt;  (kemarahan). Sekali lagi, Kita meraih kemenangan. Kita menang melawan  amarah. Kita berhasil untuk tidak membalas kedzaliman dengan kedzaliman  yang serupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita memang kalah di lapangan hijau, namun sebenarnya kita telah menang di arena yang lebih besar. Arena kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Filosofi Menjadi Juara&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Selama  ini secara tidak langsung, lingkungan kita menanamkan bahwa jalan  menjadi juara adalah dengan mengalahkan yang lain. Film dan cerita  superhero yang kita nikmati sejak anak- anak hampir selalu menyuguhkan  pertarungan antara pahlawan versus bajingan, pembela kebenaran versus  penjahat, yang menang versus yang kalah. Media juga sering kali  menampilkan pujian setinggi langit kepada para juara dan cemoohan yang  menyesakkan kepada yang kalah. Intinya selalu ada dua sisi yang  berkebalikan, yaitu pemenang dan pecundang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paparan  yang sedemikian besar terhadap filosofi pemenang-pecundang tersebut  telah memaksa kita untuk lebih fokus mengalahkan yang lain. Kita selalu  khawatir untuk tidak menang. Karena jika kita tidak menang, berarti kita  dikalahkan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita secara tidak langsung  dibentuk menjadi pribadi dengan mental mengalahkan. Akibatnya, kita  cenderung memandang kehidupan sebagai sebuah arena besar untuk saling  mengalahkan. Setiap hari kita merasa mempunyai tuntutan untuk menang,  menjadi pahlawan, dan menciptakan pecundang-pecundang baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekhawatiran  akan dikalahkan orang lain dan keinginan besar untuk mengalahkan orang  lain yang berlebihan itu terbukti telah menimbulkan berbagai masalah di  masyarakat. Persaingan tidak sehat, &lt;em&gt;psy war&lt;/em&gt;, gratifikasi untuk memenangkan tender, praktek &lt;em&gt;money politic &lt;/em&gt;untuk memenangkan pemilu&lt;em&gt;, &lt;/em&gt;dan&lt;em&gt; &lt;/em&gt;pemaksakan kemenangan dengan jalan yang tidak sportif adalah produk dari kekhawatiran tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang,  sudah saatnya kita mengubah pandangan kita akan filosofi kemenangan.  Menjadi pemenang tidaklah harus dengan jalan mengalahkan yang lain.  Untuk menjadi pahlawan tidak harus dengan cara mengalahkan bajingan.  Filosofi satu pemenang dan lainnya pecundang bukanlah sesuatu yang  relevan bagi kehidupan di zaman sekarang. Sebuah akhir yang &lt;em&gt;win-win &lt;/em&gt;adalah sesuatu yang lebih dibutuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Mendefinisikan Juara&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;John C. Mawell dalam bukunya &lt;em&gt;the Maxwell Daily Reader &lt;/em&gt;mengatakan  bahwa orang yang terlalu fokus kepada orang lain adalah orang yang  merasa sempurna dan menutup pintu untuk melihat kekurangannya sendiri.  Fokus untuk mengalahkan orang lain harus kita imbangi dengan memperbaiki  diri. Kita seyogyanya memandang bahwa yang pertama harus kita kalahkan  adalah diri kita sendiri. Kita tidak dapat menjadi juara dengan  memelihara ego yang besar. Egoisme hanya akan menimbulkan keinginan  untuk menjadi juara tanpa terlalu banyak berusaha. Egoisme akan  melahirkan keinginan untuk dinaungi keberuntungan secara terus menerus  yang tidak dibarengi dengan usaha untuk menciptakan peluang. Egoisme  juga akan memupuk hasrat untuk mengalahkan yang jauh lebih besar dari  motivasi memperbaiki diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah waktunya kita  mendefinisikan kembali apa yang kita sebut sebagai juara. Kita  seyogyanya mencoba untuk mencari perspektif baru tentang arti  kemenangan. Bangsa kita sudah terlalu penuh dengan orang-orang yang  selalu bernafsu untuk mengalahkan dengan menjadikan yang lain pecundang.  Kita tidak akan pernah bangkit jika semua aspek kehidupan diisi dengan  saling sikut, saling jegal dan saling menjatuhkan. Bangsa kita  memerlukan manusia-manusia yang bersedia mengesampingkan hasrat menang  sendirian dan mengedepankan kemenangan bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup  bukanlah sebuah permainan dimana kita harus terus menerus mengalahkan  orang lain. Hidup adalah sebuah ruangan luas yang perlu kita isi dengan  introspeksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right" class="MsoNormal" style="text-align: right;"&gt;&lt;b&gt;M.A.Empitu&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right" class="MsoNormal" style="text-align: right;"&gt;&lt;i&gt;untuk setiap orang yang menginginkan kemenangan.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3391768758550731628-1617601063622952156?l=mimpiempitu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mimpiempitu.blogspot.com/feeds/1617601063622952156/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mimpiempitu.blogspot.com/2010/12/menggugat-filosofi-kemenangan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3391768758550731628/posts/default/1617601063622952156'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3391768758550731628/posts/default/1617601063622952156'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mimpiempitu.blogspot.com/2010/12/menggugat-filosofi-kemenangan.html' title='Menggugat Filosofi Kemenangan'/><author><name>Empitu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08622565267722410362</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_3HVmdhpurIM/Sts0SVBEIBI/AAAAAAAAAA8/p5xJmSabQmE/S220/ant2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_3HVmdhpurIM/TR306F5O_-I/AAAAAAAAAEE/NfFb8ceNKhg/s72-c/The+win.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3391768758550731628.post-9110172700038884905</id><published>2010-12-30T08:34:00.000-08:00</published><updated>2010-12-30T11:23:24.144-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esai'/><title type='text'>Sepak Bola , Transferensi , dan Sportivitas</title><content type='html'>&lt;div style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_3HVmdhpurIM/TRy0FCuIh_I/AAAAAAAAAEA/cF8gUIu7PmU/s1600/suporter%252Bindonesia.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://1.bp.blogspot.com/_3HVmdhpurIM/TRy0FCuIh_I/AAAAAAAAAEA/cF8gUIu7PmU/s320/suporter%252Bindonesia.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Piala AFF 2010 telah menciptakan momentum kebangkitan sepak bola Indonesia. Lima pertandingan tak terkalahkan seakan memantik luapan euphoria yang luar bisa. Ekspose media terhadap timnas tiada henti-hentinya. Mulai dari acara olahraga, dialog politis, berita nasional, infotainment hingga media berbau klenik pun juga membicarakan Firman Utina dkk. Politisi juga berbondong-bondong turut ambil bagian memancing di ‘telaga’ kepopuleran timnas. Ekspektasi masyarakat meninggi. Kita merasa seolah telah menjadi juara, tanpa sadar bahwa sebenarnya kita tidak meraih apa-apa.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Kekalahan telak di final Piala AFF 2010 seakan menjadi tamparan keras bagi kita semua. Bukan hanya bagi pemain, pelatih, manajemen, PSSI, suporter, tapi juga politisi, media, dan masyarakat yang terlalu berbangga diri, jumawa dan merasa telah menggenggam gelar juara. Agaknya efek pertandingan sepak bola telah ber-magnifikasi dan mempengaruhi berbagai aspek di luar lapangan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;Fenomena Transferensi&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Pertandingan final piala AFF 2010 antara Indonesia versus Malaysia mengingatkan kita akan kisah dalam film &lt;i&gt;Gladiator&lt;/i&gt;. Dalam film itu, tokoh Maximus &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Maximus_Decimus_Meridius" title="Maximus Decimus Meridius"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Decimus Meridius&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: black;"&gt; diadu dengan pasukan tangguh Romawi yang menjadi perlambang kekuasan Kaisar Comodus. Pertarungan di Arena Coloseum bukan sekadar ‘hiburan’ yang mempertontonkan hidup dan mati saja. Namun pertarungan yang dijalani Maximus adalah simbol pertempuran rakyat Romawi melawan tirani. Yang pada akhirnya, Maximus berhasil meruntuhkan kekuasaan Kaisar Comodus di arena perang tanding gladiator.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Seperti halnya gladiator, pertandingan final Piala AFF 2010 bukan hanya petandingan antara kedua tim di lapangan. Kesamaan keduanya bukan terletak pada siapa yang menjadi Maximus atau Comodus. Namun, lebih pada energi publik yang tertuju ke arena pertandingan. Ada emosi suporter dengan berbagai latar belakang yang tumpah ruah. Ada perhatian politisi yang ikut-ikutan latah dan menjadikan sepak bola sebagai komoditas politik. Ada rasa nasionalisme yang meleburkan batas antara berbagai etnis, si kaya, si miskin, konglomerat, pengangguran hingga aremania, bonekmania, the jack dan Viking &amp;nbsp;yang selama ini seperti &lt;i&gt;Tom and Jerry&lt;/i&gt;. Gegap gempita itu semakin sedap dengan adanya berbagai bumbu isu sentimental yang mewarnai hubungan antara Indonesia dan Malaysia selama ini. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pendek kata, arena sepak bola adalah sebuah arena pelampiasan emosi yang selama ini mewarnai hubungan kedua negara. &lt;/span&gt;Sikap masyarakat kita dalam menyikapi pertandingan Final Piala AFF 2010 ini seolah-olah merefleksikan perasaan akan persaingan kedua negara di berbagai bidang lainnya. Kemenangan tim sepak bola seakan mampu menebus ‘kekalahan demi kekalahan’ yang telah kita derita di masa lalu. Martabat negara seperti dipertaruhkan di atas lapangan. Intinya, banyak diantara kita yang menganggap bahwa pertandingan final Piala AFF 2010 sebagai ‘alat pembuktian’ siapa yang terbaik. Indonesia atau Malaysia.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Karena anggapan itu, suguhan kemenangan akan membuat masyarakat kita senang dan larut dalam euforia. Media massa cenderung memberitakan kemenangan dengan berlebihan. Politisi ikut latah dan menjadikan sepak bola sebagai sarana pencitraan.&amp;nbsp; Dan seluruh Indonesia&amp;nbsp; akan memuja Timnas kita.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Agaknya masyarakat kita tengah mengalami kondisi&amp;nbsp; yang menurut Sigmund Freud&amp;nbsp; disebut sebagai fenomena transferensi. Namun dengan skala yang jauh lebih besar.&amp;nbsp; Masyarakat kita mengalami sebuah proses merefleksikan berbagai&amp;nbsp; emosi yang&amp;nbsp; selama ini mewarnai hubungan Indonesia dan Malaysia menuju arena final Piala AFF 2010.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;Sportivitas&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/b&gt;Saat bertandang ke Stadion Bukit Jalil, kita telah disuguhi berbagai kejahilan suporter Malaysia. Salah satu kejahilan yang hangat diperbincangkan adalah penggunaan &lt;i&gt;green laser&lt;/i&gt; untuk mengganggu konsentrasi pemain. Gangguan tersebut sampai taraf menyebabkan dihentikannya pertandingan selama beberapa menit. Sebagian pengamat dan suporter sepak bola menyalahkan insiden tersebut atas hilangnya konsentrasi pemain Indonesia sehingga terjadi gol pertama Malaysia. Menyusul&amp;nbsp; gol pertama tersebut, lahirlah dua gol berikutnya yang seolah menutup pintu Timnas Indonesia untuk menjuarai Piala AFF 2010.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Dari peristiwa itu kemudian muncul berbagai reaksi. Berbagai forum di internet hangat membicarakan berbagai kemungkinan reaksi suporter Indonesia terhadap tamunya, timnas Malaysia.&amp;nbsp; Termasuk pembalasan aksi &lt;i&gt;green laser &lt;/i&gt;tersebut&lt;i&gt;.&lt;/i&gt; Bahkan ada kelakar di antara suporter sepak bola di Surabaya yang mengatakan bahwa &lt;i&gt;green laser &lt;/i&gt;akan dibalas dengan &lt;i&gt;green force&lt;/i&gt; (baca:Bonek). Singkatnya, sebagian besar dari kita menganggap kegagalan Timnas kita terutama disebabkan oleh faktor eksternal tanpa mau melihat ke dalam diri kita sendiri. Namun apakah itu esensi dari olah raga?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Seperti halnya berbagai aspek kehidupan yang dapat ber-transferensi dalam sepak bola, nilai-nilai sportivitas dalam sepak bola juga dapat ber-transferensi dalam kehidupan bermasyarakat. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Kita semestinya merenungkan segudang nilai luhur yang dapat kita ambil dari kompetisi sepak bola. Bahwa untuk meraih prestasi, kita harus bekerja keras hingga titik darah penghabisan. Untuk menjadi pemenang, kita perlu menampilkan semangat juang dari menit pertama hingga pertandingan berakhir. Kita tidak boleh lengah di tengah kompetisi. Kita seyogyanya tidak hanya menyiapkan kemenangan, namun juga siap menerima dan mengantisipasi kekalahan. Kemenangan bukanlah suatu hal yang memberikan legitimasi untuk merasa jumawa, dan kekalahan bukanlah sebuah alasan untuk merasa kehilangan martabat. Kekalahan memang menyakitkan, namun tidak harus membuat kita saling menyalahkan. Kekalahan juga bukan sebuah pembenaran bagi kita untuk mencari kambing hitam. Melainkan, kekalahan adalah pintu menuju introspeksi dan peningkatan kualitas diri. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Alangkah indahnya jika nilai-nilai luhur tersebut dapat menjelma dalam kehidupan masyarakat kita. Bukan nilai-nilai persaingan yang tidak sehat, bukan nilai-nilai anarkisme, &amp;nbsp;kekerasan,&amp;nbsp; euphoria yang berlebihan maupun nasionalisme yang sempit.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Keberhasilan maupun kegagalan dalam Piala AFF 2010 seharusnya menjadi motivasi kita semua untuk mengobarkan semangat menjadi lebih baik. Sepak bola bukanlah arena untuk mentukan siapa yang menang atau kalah, melainkan ajang untuk mengasah mental juara. Tidak hanya di dalam lapangan dan di saat turnamen, namun juga di luar lapangan dan di masa-masa yang akan datang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;“It is not the destination, but the journey.&amp;nbsp; It is not the final score but the game.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;Maulana Antiyan Empitu&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;di waktu senggangnya, 27 Desember 2010&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3391768758550731628-9110172700038884905?l=mimpiempitu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mimpiempitu.blogspot.com/feeds/9110172700038884905/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mimpiempitu.blogspot.com/2010/12/sepak-bola-transferensi-dan-sportivitas.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3391768758550731628/posts/default/9110172700038884905'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3391768758550731628/posts/default/9110172700038884905'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mimpiempitu.blogspot.com/2010/12/sepak-bola-transferensi-dan-sportivitas.html' title='Sepak Bola , Transferensi , dan Sportivitas'/><author><name>Empitu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08622565267722410362</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_3HVmdhpurIM/Sts0SVBEIBI/AAAAAAAAAA8/p5xJmSabQmE/S220/ant2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_3HVmdhpurIM/TRy0FCuIh_I/AAAAAAAAAEA/cF8gUIu7PmU/s72-c/suporter%252Bindonesia.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3391768758550731628.post-6433974624244675793</id><published>2010-12-22T19:20:00.000-08:00</published><updated>2010-12-30T11:23:00.107-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Motivasi'/><title type='text'>3 Hari dalam Hidup Ini</title><content type='html'>&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_3HVmdhpurIM/TRK_7hps_LI/AAAAAAAAAD4/m174TS85xEI/s1600/tomorrow-today-yesterday.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://2.bp.blogspot.com/_3HVmdhpurIM/TRK_7hps_LI/AAAAAAAAAD4/m174TS85xEI/s320/tomorrow-today-yesterday.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;&lt;i&gt;Sebuah email dari seorang teman, Hadi Kurniawan.&lt;/i&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari pertama : Hari kemarin.&lt;br /&gt;Kita tak bisa mengubah apa pun yang telah terjadi.&lt;br /&gt;Kita tak bisa menarik perkataan yang telah terucapkan.&lt;br /&gt;Kita tak mungkin lagi menghapus kesalahan dan mengulangi kegembiraan yang Kita rasakan kemarin.&lt;br /&gt;Biarkan hari kemarin lewat dan beristirahat dengan tenang;&lt;br /&gt;lepaskan saja…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari kedua : hari esok.&lt;br /&gt;Hingga mentari esok hari terbit,&lt;br /&gt;Kita tak tahu apa yang akan terjadi.&lt;br /&gt;Kita tak bisa melakukan apa-apa esok hari.&lt;br /&gt;Kita tak mungkin sedih atau ceria di esok hari.&lt;br /&gt;Esok hari belum tiba; toh belum tentu esok hari Kita merengkuhnya&lt;br /&gt;biarkan saja…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang tersisa kini hanyalah hari ini.&lt;br /&gt;Pintu masa lalu telah tertutup,&lt;br /&gt;Pintu masa depan pun belum tiba.&lt;br /&gt;Pusatkan saja diri Kita untuk hari ini.&lt;br /&gt;Kita dapat mengerjakan lebih banyak hal hari ini bila Kita mampu memaafkan hari kemarin dan melepaskan ketakutan akan esok hari.&lt;br /&gt;Hiduplah hari ini. Karena, masa lalu dan masa depan hanyalah permainan pikiran yang rumit.&lt;br /&gt;Hiduplah apa adanya. Karena yang ada hanyalah hari ini, hari ini yang abadi.&lt;br /&gt;Perlakukan setiap orang dengan kebaikan hati dan rasa hormat, meski mereka berlaku buruk pada Kita.&lt;br /&gt;Cintailah seseorang sepenuh hati hari ini, karena mungkin besok cerita sudah berganti.&lt;br /&gt;Ingatlah bahwa Kita menunjukkan penghargaan pada orang lain bukan karena siapa mereka, tetapi karena siapakah diri Kita sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, jangan biarkan masa lalu mengekangmu atau masa depan membuatmu&lt;br /&gt;bingung, lakukan yang terbaik HARI INI dan lakukan sekarang juga.. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3391768758550731628-6433974624244675793?l=mimpiempitu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mimpiempitu.blogspot.com/feeds/6433974624244675793/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mimpiempitu.blogspot.com/2010/12/3-hari-dalam-hidup-ini.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3391768758550731628/posts/default/6433974624244675793'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3391768758550731628/posts/default/6433974624244675793'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mimpiempitu.blogspot.com/2010/12/3-hari-dalam-hidup-ini.html' title='3 Hari dalam Hidup Ini'/><author><name>Empitu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08622565267722410362</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_3HVmdhpurIM/Sts0SVBEIBI/AAAAAAAAAA8/p5xJmSabQmE/S220/ant2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_3HVmdhpurIM/TRK_7hps_LI/AAAAAAAAAD4/m174TS85xEI/s72-c/tomorrow-today-yesterday.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3391768758550731628.post-972255104629576750</id><published>2010-12-20T20:05:00.000-08:00</published><updated>2011-04-05T21:26:24.156-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esai'/><title type='text'>Hernowo dan Iqra'</title><content type='html'>&lt;div class="mbl notesBlogText clearfix"&gt;&lt;div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_3HVmdhpurIM/TRAmdt86kNI/AAAAAAAAAD0/ysHi9P_UnuM/s1600/inspire1.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://4.bp.blogspot.com/_3HVmdhpurIM/TRAmdt86kNI/AAAAAAAAAD0/ysHi9P_UnuM/s320/inspire1.jpg" width="240" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nothing is a waste of time if you use the experience wisely.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;Auguste Rodin &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Setengah pekan lalu,  saya berdialog dengan seseorang. Dia adalah Hernowo. Saya berbincang  dengan Hernowo melalui bukunya, Vitamin T. Awalnya, saya mengira bahwa  buku ini seperti buku berjudul absurd pada umumnya. Judulnya menarik  namun tiada berisi. Jika diibaratkan sebuah makanan, buku jenis itu  adalah junk food. Rasanya enak karena MSG-nya juga banyak. Mengingat  menjamurnya ‘gerai junk food’ akhir-akhir ini, saya jadi enggan  ‘memakan’ buku yang satu ini. Rasa enggan saya semakin kuat saat saya  ingat perkataan Tukul Arwana, “Don’t judge a book by its cover! Jika  cover bukunya jelek, belum tentu isinya bagus.” Namun saya mencoba untuk  ber-positive thinking dan menyingkirkan kesenjangan saya. Syukurlah,  prasangka saya tidak terbukti. Setelah saya membacanya, buku ini sangat  'bergizi'. Setidaknya menurut saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sedikit menyesal.  Sebenarnya, saya telah berjumpa buku ini di rak toko buku  bertahun-tahun lalu. Namun, saat itu saya tidak tergerak untuk mengambil  dan membelinya. Selama sekian tahun, pertemuan saya dengan Hernowo  tertunda. Tapi minggu lalu, takdir berpihak kepada saya. Ketika sedang  bersih-bersih tempat kos, saya berjumpa dengan 'Hernowo' di dasar kardus  bekas mi instan. Terima kasih untuk seseorang yang telah 'mendamparkan’  Hernowo di ‘Luntas 10 Paradise’, tempat kos saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah  gerangan yang Hernowo perbincangkan kepada saya melalui Vitamin T?  Sederhana, tentang sebuah kompetensi yang telah kita semua miliki.  Membaca dan menulis. Sebuah kompetensi yang tidak pernah diujikan dalam  format 'Ujian Kompetensi'. Sebuah kompetensi yang telah kita pelajari  sejak SD, TK, atau bahkan sebelum itu. Sehingga kita cenderung  menganggapnya gampang atau bahkan remeh. Banyak dari kita,&amp;nbsp;khususnya  saya, memahami bahwa membaca dan menulis adalah aktivitas tekstual  belaka.Tak sedikit dari kita, lagi-lagi juga saya, menganggap bahwa  membaca dan menulis terlalu berkaitan erat dengan aktifitas formal,  akademis, dan kondisional. Namun, melalui buku ini saya seakan  tercerahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan wasilah buku ini, Tuhan menyadarkan  saya bahwa kemampuan membaca adalah sebuah anugerah&amp;nbsp;yang&amp;nbsp;maha hebat.  Kita beruntung dilahirkan dari orang tua yang menjunjung tinggi  pentingnya pendidikan di antara&amp;nbsp;jutaan orang tua yang mempekerjakan  anaknya untuk mendulang sebutir nasi. Kita&amp;nbsp;memiliki akses luas&amp;nbsp;terhadap  bacaan yang&amp;nbsp;beragam di saat banyak orang&amp;nbsp;tidak&amp;nbsp;pernah mengenal  perpustakaan dan media digital.&amp;nbsp;Melalui kemampuan membaca itu, kita  memiliki&amp;nbsp;sarana untuk menyelami pemikiran orang lain. Melalui membaca  karya pemikir-pemikir hebat, kita belajar dari  pengalaman&amp;nbsp;manusia-manusia luar biasa&amp;nbsp;dan merefleksikannya dengan  pengalaman kita sendiri.&amp;nbsp;Membaca juga membuat kita bertanya, berpikir,  dan tergugah untuk membangkitkan&amp;nbsp;berbagai inisiatif hebat. Dengan  demikian, sebenarnya&amp;nbsp;Tuhan telah memberi kita&amp;nbsp;sarana untuk  lebih&amp;nbsp;mengenali diri kita sendiri. Tuhan mengkaruniakan kemampuan  membaca bukan demi&amp;nbsp;sekedar menyuarakan dan memahami teks. Namun lebih  dari itu, membaca adalah sebuah anugerah untuk memahami kehidupan  melalui gagasan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui ‘Vitamin T’, Tuhan  memahamkan saya bahwa membaca dan menulis bagaikan sebuah rangkaian  proses metabolisme makanan. Mungkin karena saya dididik sebagai seorang  dokter sehingga saya beribarat begitu. Jika Anda seorang ahli biologi  atau arsitek, Anda boleh saja menganalogikannya dengan fotosintesis,  mendirikan sebuah konstruksi atau hal yang menurut Anda lebih tepat.  Berdasar analogi saya itu, membaca buku atau teks dan kemudian menulis,  adalah ibarat memakan sepiring nasi, sayur, dan lauk. Nasi, sayur, dan  lauk tersebut akan dicerna dan diuraikan menjadi bentuk yang lebih  sederhana oleh enzim-enzim pencernaan kita. Setelah menjadi bentuk  paling sederhana, usus kita akan menyerap sari makanan tersebut.  Kemudian tubuh kita akan mengubahnya menjadi sebuah energi. ‘Energi’  itulah yang kita gunakan untuk melakukan sebuah aktivitas, dalam konteks  ini adalah menulis. Semakin bagus proses ‘pencernaan’ buku kita,  semakin banyak energi yang kita dapat gunakan untuk menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana  jika kita tidak menulis atau berusaha menyalurkannya dalam kegiatan  yang positif? Pengetahuan, gagasan, ide, dan analisis tetaplah menjadi  sekedar konsep yang tinggal di kepala kita. Seperti halnya tubuh,  sebagian besar zat-zat yang berlimpah itu akan disimpan dalam bentuk  jaringan lemak. Jaringan lemak yang berlebih cenderung tidak bermanfaat  bahkan merugikan. Begitu juga pengetahuan yang &amp;nbsp;tidak diamalkan, akan  percuma dan tiada gunanya. Minim kontribusi terhadap perubahan dunia ke  arah yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah saya bercengkerama dengan  gagasan dan pemikiran Hernowo tersebut, Saya teringat dengan apa yang  difirmankan oleh Allah kepada Muhammad SAW untuk pertama kalinya. Saya  diterpa berbagai pertanyaan mengenai kaitan baca dan tulis dengan sebuah  keyakinan yang paling mendasar dalam hidup saya. Dalam surat Al-alaq,  Allah men-firmankan tentang Iqra' dan qalam. Mengapa Allah men-firmankan  tentang Iqra' dan qalam kepada Sang Rasul untuk pertama kali?  Sedemikian pentingkah membaca dan menulis itu sehingga Allah  menempatkannya pada firman yang pertama? Mengapa Allah tidak berfirman  pertama kali tentang mencari makan, berdagang, berbisnis, berkomunikasi  atau hal lain yang menurut&amp;nbsp;kita adalah 'basic skill’ seorang manusia?  Apakah membaca dan menulis adalah hal yang terpenting dari sekian hal  penting lainnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hernowo memang tidak menjawab pertanyaan  tersebut secara lugas, walaupun sempat sedikit menyinggungnya. Saya  memahaminya karena Vitamin T bukanlah sebuah buku ber-genre religius.  Vitamin T juga bukan tandingan Tafsir Al-Misbah-nya Ustadz Quroish  Shihab dalam mengulas sari ayat-ayat dalam surat Al-alaq. Namun  setidaknya dengan membaca gagasan Hernowo, saya tersadarkan akan adanya  pertanyaan-pertanyaan itu di kepala saya. Dan kemudian, saya tergerak  menuliskannya untuk Anda. Membacalah, dan tularkan ‘energi’ positif  Anda. Iqra'!&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3391768758550731628-972255104629576750?l=mimpiempitu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mimpiempitu.blogspot.com/feeds/972255104629576750/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mimpiempitu.blogspot.com/2010/12/hernowo-dan-iqra.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3391768758550731628/posts/default/972255104629576750'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3391768758550731628/posts/default/972255104629576750'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mimpiempitu.blogspot.com/2010/12/hernowo-dan-iqra.html' title='Hernowo dan Iqra&apos;'/><author><name>Empitu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08622565267722410362</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_3HVmdhpurIM/Sts0SVBEIBI/AAAAAAAAAA8/p5xJmSabQmE/S220/ant2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_3HVmdhpurIM/TRAmdt86kNI/AAAAAAAAAD0/ysHi9P_UnuM/s72-c/inspire1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3391768758550731628.post-2789136892340412211</id><published>2010-02-25T06:57:00.000-08:00</published><updated>2010-12-30T11:17:38.229-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>Anakku, tetap saja begitu</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_3HVmdhpurIM/S4aPtiEqm_I/AAAAAAAAACo/evPeZ_2xmoQ/s1600-h/A_Child_by_zlty_dodo.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="133" src="http://1.bp.blogspot.com/_3HVmdhpurIM/S4aPtiEqm_I/AAAAAAAAACo/evPeZ_2xmoQ/s200/A_Child_by_zlty_dodo.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;i&gt;“Jangan, jangan! Jangan rebut Retno dariku!” aku meronta sekuat tenaga. Takkan kubiarkan anakku satu-satunya terrenggut dari sisiku. Sesuatu menusukku dari belakang. “Dasar Joko, lelaki&amp;nbsp; jahanam!” Sampai mati aku tak akan melupakan lelaki yang telah menyengsarakan hidupku itu.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namaku Sumini. Usiaku mungkin baru tiga puluhan. Mungkin? Itu karena aku tidak tahu pastinya berapa. Aku hanya bisa mengingat kata Emakku bahwa aku lahir ketika Bapakku bekerja pada Pak Sutarjo, orang kaya si empunya bukit yang ada di belakang kampung. Saat itu Pak Sutarjo sedang mempekerjakan Bapakku dan lusinan orang lainnya untuk menanam pohon-pohon jati di tanah warisan leluhurnya. Sekarang batang pohon jati itu sudah besar, mungkin beberapa pelukan orang dewasa. Sebesar itulah umurku, dan sekering kupasan-kupasan kulit batang jati itu pula hatiku. Pupus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehari-hari, aku hanya hidup bersama anakku. Memang ada Emak dan Bapak, namun yang mengisi hidupku hanyalah permata hatiku, Retno. Retno yang selalu mengikutiku kemanapun aku pergi. Retno yang selalu membuatku tertawa.&amp;nbsp; Retno yang memberiku alasan untuk hidup dalam kehidupanku yang hampa dan tanpa harapan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Retno adalah anak yang cantik, tidak seperti ibunya. Pipinya tidak tirus seperti pipiku, melainkan lebih berisi. Kulitnya juga halus, matanya menyala. Sehari-hari Retno suka memakai bando merah, pas dengan rambut sebahunya yang&amp;nbsp; berkilau.&amp;nbsp; Dia juga suka bergelayutan di sandaran kursi yang hampir sama dengan tinggi tubuhnya, mungkin setinggi dadaku. Dia sering tersenyum dan jarang menangis. Retno adalah anak yang sangat jauh dari sifat merepotkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain bermain bersama Retno, hariku hanya tersisa untuk bayang-bayang Emak, Bapak, dan kadang Joko, lelaki beringas yang bisa membawa petaka kapan pun dia mau. Bau asap rokok selalu menyertai langkahnya. Seringainya dan sudut tajam matanya cukup membuatku gemetar. Aku tidak menginginkan apa pun darinya, kecuali ketiadaannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Joko memang tidak sering bertandang ke rumahku. Namun sekali ia datang, ingin rasanya aku mati saja. Aku sering kali dipukulinya, Retno juga. Tak pernah puas Ia menyiksaku dan Retno. Aku dan Retno sampai harus mencari tempat persembunyian di tengah tegal pisang yang gelap gulita. Ia memburuku melebihi engahan&amp;nbsp; nafasku. Nahasnya, Joko selalu menemukanku. Dan lebih celaka lagi, Emak dan Bapak tak pernah sanggup membelaku. Mereka hanya diam, tak lebih dari sekadar manusia tanpa rasa iba yang tidak berbuat apa-apa.&amp;nbsp; Pengecut, dan aku semakin membenci mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, malam begitu indah. Terangnya bulan mengusir aneka warna gelap dan kesuraman kampungku. Aku mendengar Retno bernyanyi dan berlari-lari menebarkan keriangan masa kanaknya. Emak dan Bapak tetap mematung tanpa sedikit pun memedulikan apa pun tingkah Retno. Entah setan apa yang telah membunuh dan mengeraskan hati mereka. Tapi bagiku, Retno-lah yang terpenting. Bagaimanapun sikap Emak dan Bapak, Retno telah membuat malam ini sempurna. Hingga suatu ketika...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mencium bau asap rokok yang khas. Baunya tajam, dan semakin tajam. Langkah-langkah kaki mendatangi pintu rumahku. Aku mendengar seringai yang sepertinya ku kenal. Joko! Aku melihat tubuh tegapnya. Dadaku berdegup kencang. Keringat mulai menetes satu persatu dari keningku. Aku takut dia akan membabibuta lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Joko menjatuhkan rokok yang bertengger di bibir hitamnya. Ia mulai menghampiriku dan Retno. Ia meraih tangan Retno, meremas lengan lembut Retno. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan!” aku berteriak sambil menarik sekuat tenaga tubuh Retno ke arahku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Joko kemudian melepas ikat pinggangnya dan memukulkan ke arah wajahku. Aku mengelak.&amp;nbsp; Retno berteriak, menangis, meronta.&amp;nbsp; Aku mencoba memukul-mukulkan tanganku ke arah Joko untuk melawan pukulan dan tendangannya yang semakin bertubi-tubi ke arah Retno. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emak dan Bapak panik, tidak seperti biasanya. Mereka bangkit dan berhambur keluar rumah berteriak meminta tolong. Sementara itu, Aku meraih apa pun dan melemparkannya ke arah Joko yang tampaknya tak menggubris dan tak terpengaruh oleh apa pun yang kulakukan padanya. Ia terus menggasakku dan berusaha merebut&amp;nbsp; Retno dari pelukanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melihat orang-orang berdatangan memenuhi rumahku. Aku sedikit lega, “Akhirnya ada orang yang mau membantuku.” Emak dan Bapakku sadar. Aku punya Emak dan Bapak yang berusaha melindungiku lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang menghampiri arena pergelutanku dan Joko. Mereka memegang tanganku menarikku, melepaskan pelukan eratku dari Retno. Mereka mengikatku.&amp;nbsp; Apa yang mereka lakukan?! Apakah Joko telah menularkan kebiadabannya terhadap orang-orang kampung. Aku dijauhkan dari Retno, sementara Joko tersenyum puas sambil memegang tangan Retno yang terus menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan, jangan! Jangan rebut Retno dariku!” aku meronta sekuat tenaga. Takkan kubiarkan anakku satu-satunya terrenggut dari sisiku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuatu menusukku dari belakang. Tajam, sangat menyakitkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dasar Joko, lelaki&amp;nbsp; jahanam!” Sampai mati aku tak akan melupakan lelaki yang telah menyengsarakan hidupku itu.&amp;nbsp; Aku terus meronta hingga aku tak tahu apa yang terjadi berikutnya. Mulai saat itu, aku tak pernah bertemu Retno maupun Joko.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&amp;nbsp;“Bu Sumini, nasi pecel satu!” seorang pemuda berseragam SMA berteriak kepadaku. Sudah beberapa lama ini aku berjualan nasi pecel keliling di stasiun. Emak dan Bapak sudah terlalu tua untuk memeras tenaganya menjadi buruh tani. Berjualan pecel sangat menyenangkan bagiku. Selain tidak terlalu sulit, berjualan membuatku bertemu banyak orang dan kenalan baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bu Sum, saya pecel juga ya...” seseorang&amp;nbsp; memesan dengan suara lembut. Leherku tercekat. Sepertinya suara itu ku kenal akrab. Suara yang pernah ku rindukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuberanikan diri menoleh ke arah suara itu. Ku lihat seorang anak berdiri dan tersenyum. Pipinya tembem berisi, kulitnya halus, matanya menyala, rambutnya berkilau dan memakai bando merah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Retno?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuhnya masih setinggi dadaku.&amp;nbsp; Anakku, tetap saja begitu, setelah lima belas tahun lamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;M.A. Empitu, dalam dunianya sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3391768758550731628-2789136892340412211?l=mimpiempitu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mimpiempitu.blogspot.com/feeds/2789136892340412211/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mimpiempitu.blogspot.com/2010/02/anakku-tetap-saja-begitu.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3391768758550731628/posts/default/2789136892340412211'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3391768758550731628/posts/default/2789136892340412211'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mimpiempitu.blogspot.com/2010/02/anakku-tetap-saja-begitu.html' title='Anakku, tetap saja begitu'/><author><name>Empitu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08622565267722410362</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_3HVmdhpurIM/Sts0SVBEIBI/AAAAAAAAAA8/p5xJmSabQmE/S220/ant2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_3HVmdhpurIM/S4aPtiEqm_I/AAAAAAAAACo/evPeZ_2xmoQ/s72-c/A_Child_by_zlty_dodo.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3391768758550731628.post-2094991295633160961</id><published>2009-11-27T17:49:00.000-08:00</published><updated>2010-12-30T11:19:35.749-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>Ketika Sang Bangau Kembali ke Kubangan</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_3HVmdhpurIM/SxCBagoszYI/AAAAAAAAABw/l4n4k5Kds3o/s1600/stork_by_Hydromet.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/_3HVmdhpurIM/SxCBagoszYI/AAAAAAAAABw/l4n4k5Kds3o/s320/stork_by_Hydromet.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sang Bangau telah terbang beberapa lama. Ia telah melewati bergurun-gurun padang dan berngarai-ngari hijau. Sang Bangau juga sudah menembus puluhan badai, menantang ganasnya alam, dan bersahabat dengan tak menentunya cuaca. Ketika lelah mendera, sang Bangau kembali mendarat ke kubangannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Ketika sang Bangau mulai menyentuhkan kakinya di air kubangan yang dingin, segala jerih yang lama Ia pikul sirnalah sudah. Walau kubangan itu hanya sedalam lututnya, namun mampu menenggelamkannya dalam terpaan ketenangan. Ketenangan itu pernah Ia rasakan dulu, dan masih hingga kini. Ketenangan itu telah membiarkannya melewati keriangan masa kecil, kegairahan masa muda, hingga kini Ia dewasa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Sang Bangau dapat mengingat bagaimana Ia dulu menembus cangkang telurnya dan melihat dunia untuk pertama kalinya. Sang Bangau masih dapat mencium aroma ikan-ikan yang telah Ia seruput sejak masa kecilnya. Ia juga bisa mengenang bangau-bangau lain. Bangau-bangau yang mengajarinya berdiri, juga memberinya contoh untuk mengepakkan sayapnya dan kemudian terbang. Bangau-bangau itu pula yang berkeok-keok menceritakan tentang keindahan telaga, kejernihan sungai dan hijaunya ngarai. Hingga akhirnya, membangkitkan hasrat sang Bangau untuk meninggalkan kubangan dan menjemput impian. Walau kini hanya beberapa bangau yang tinggal di kubangan itu, suara mimpi keokan bangau-bangau itu masih terus Ia hidupkan.&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sepetak kubangan itu memang tak selalu jernih, juga tak selalu tenang. Kadang kubangan menjadi keruh oleh endapan debu yang terbawa badai musiman, atau oleh kaki berlumpur bangau-bangau lain yang singgah. Kadang kubangan bergelombang karena kecipak-kecipak air yang sang Bangau ciptakan sendiri, karena dedaunan yang jatuh di permukaan air kubangan, atau karena tetesan air hujan.&amp;nbsp; Namun bagaimana pun keruh dan beriaknya kubangan kecil itu, sang Bangau tetap sudi menenggelamkan paruh dan kepalanya untuk satu tujuan. Mencari kedamaian.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Kubangan kecil itu telah membantu sang Bangau mewarnai setiap waktu yang Ia lewati. Bangau-bangau yang tinggal di situ telah menularkan setiap insting yang diperlukan sang Bangau untuk hidup. Namun, sang Bangau harus kembali terbang. Ia akan menemukan telaga yang jernih, dengan bunga-bunga teratai yang bermekaran, dan tentunya ikan-ikan yang menjamin energi sang Bangau untuk terbang tinggi. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Mungkin di tempat Ia mendarat berikutnya, sang Bangau akan menemukan kubangan-kubangan lain yang akan Ia singgahi. Atau bahkan sang Bangau akan mengklaim kubangannya sendiri. Ia juga akan menyaksikan bangau-bangau lain hadir dalam tahun-tahun berikutnya. Namun, Ia telah menyediakan sepetak memori untuk kubangan kecilnya dulu. Kubangan tempat sang Bangau membangun mimpi-mimpi hidupnya. Kubangan yang tetap akan Ia singgahi sesekali. Kubangan yang akan memberi sang Bangau kekuatan untuk terbang lebih lagi, bahkan di saat-saat Ia tak dapat terbang lagi. Dan kubangan tetaplah akan menjadi kubangan. &lt;i&gt;Home will always be home...&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;M.A. Empitu, dalam kubangan kecilnya&lt;i&gt; &lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3391768758550731628-2094991295633160961?l=mimpiempitu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mimpiempitu.blogspot.com/feeds/2094991295633160961/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mimpiempitu.blogspot.com/2009/11/ketika-sang-bangau-kembali-ke-kubangan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3391768758550731628/posts/default/2094991295633160961'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3391768758550731628/posts/default/2094991295633160961'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mimpiempitu.blogspot.com/2009/11/ketika-sang-bangau-kembali-ke-kubangan.html' title='Ketika Sang Bangau Kembali ke Kubangan'/><author><name>Empitu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08622565267722410362</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_3HVmdhpurIM/Sts0SVBEIBI/AAAAAAAAAA8/p5xJmSabQmE/S220/ant2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_3HVmdhpurIM/SxCBagoszYI/AAAAAAAAABw/l4n4k5Kds3o/s72-c/stork_by_Hydromet.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3391768758550731628.post-8404156375563185380</id><published>2009-11-04T07:28:00.000-08:00</published><updated>2010-12-30T11:18:28.177-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>Aku masih hidup!</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: Verdana,sans-serif; font-size: small;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Verdana,sans-serif; font-size: small;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Verdana,sans-serif; font-size: small;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_3HVmdhpurIM/SvGc9v_xZnI/AAAAAAAAABo/G-DBM2umrXE/s1600-h/baby_by_jinnwoo.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_3HVmdhpurIM/SvGc9v_xZnI/AAAAAAAAABo/G-DBM2umrXE/s200/baby_by_jinnwoo.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Di suatu malam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mendapati seorang pria terbaring di atas tempat tidur. Tampak bujur&amp;nbsp; tubuh kurus dan kering, seonggok tulang dibungkus kulit dengan sedikit asesoris daging. Kulitnya menghitam dan bersisik seperti terkena sengatan mentari bertahun lamanya. Tulang rusuknya menari-nari diiringi irama nafas yang berat. Tangannya bagaikan sebuah ranting rapuh, kakinya membengkak seperti sebuah umbi yang mengakar dari tubuh reot itu. Waktu belum cukup tua untuk menelannya. Namun sangat beringas untuk menyisakan sedikit saja. Sepertinya, hidup telah memasang sayapnya dan bersiap untuk terbang lepas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapakah orang itu? Aku.&amp;nbsp; Seorang lelaki umur 22 tahun, terbaring lemah di pojok bangsal yang sesak sebuah Rumah Sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam ini, saat semua orang terlelap dilahap kelelahan, aku justru tidak bisa tidur. Perutku mulas. Nafasku berat. Seakan paru-paruku terendam dalam kolam bergelombang. Bila kuingat dulu, aku bisa mengangkat beban berat seenakku. Kini, untuk menarik nafas saja, aku butuh usaha jauh lebih hebat dari itu. Ketika aku menghembuskan udara dari dalam dadaku, aku tak tahu apakah aku sanggup menghirup lagi untuk kedua kalinya. Hal ini telah kualami beberapa kali. Belasan kali, atau mungkin puluhan kali, sejak dokter memberitahu bahwa telah terjadi kerusakan di kedua ginjalku. Sebuah organ yang tak pernah ku melihatnya, merabanya, atau sekadar membayangkan bagaimana bentuknya, telah membuatku menderita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pernah berpikir, hidup ini tak adil. Orang lain seusiaku sedang sangat bersemangat mengejar cita-citanya. Ada teman sebayaku sudah akan dilantik menjadi dokter, sahabat yang lain mulai meniti karir sebagai arsitek, dan kawan yang lain lagi tengah bergelut dengan peruntungannya menjadi pengusaha. Mereka semua sedang bergairah mengejar mimpinya. Aku juga punya mimpi-mimpi itu dulu. Aku pernah merasa sanggup menerjang waktu untuk meraih cita-citaku. Tapi kini, mimpi itu telah sirna. Malam ini, yang kurasakan hanyalah nafas berat dan perut mulas. Mimpi kecilku sekarang hanyalah bagaimana aku bisa membuang apa yang ada dalam perutku.&amp;nbsp; Jika aku bisa mengambil pispot dan mengempaskan jet coaster yang melaju kencang di sepanjang ususku, Aku akan sangat bersyukur. Sangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin bagi orang lain, hal ini terlalu berlebihan. Namun bagiku, ini adalah momen-momen dimana aku bisa merasakan hidupku. Aku teringat ketika aku mengejan kemarin sore, sungguh usaha yang luar biasa. Aku merasakan terpaan kelegaan yang tiada tara ketika sesuatu keluar dari perutku.&amp;nbsp; Aku tak pernah membayangkan hal ini ketika aku sehat dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melihat pispot itu. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri, menerawang di antara jajaran tubuh yang tidur bergelimpangan. Semua orang tengah terlelap. Aku berusaha meminta tolong seorang pria yang terkapar di lantai seberang ranjangku. Namun, dia terlalu pulas untuk mendengar suaraku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, aku memutuskan untuk mengambilnya sendiri. Pispot itu satu setengah meter dariku. Tidak jauh. Kurentangkan tangan kananku untuk meraihnya. Masih belum sampai. Kucondongkan tubuhku untuk memperjauh jangkauanku. Masih belum dapat juga. Aku menggeser tubuhku hingga ke tepian tempat tidurku. Hampir sampai! Ah, aku bisa mendekat lagi. Ake menggeser tubuhku sedikit lagi. Dan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Brak! Aku terjatuh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terjatuh dari sebuah bangku panjang nan sempit. Aku masih setengah sadar. Kulihat jarum jam menunjuk angka 4. Sudah hampir subuh. Waduh... rupanya aku tertidur di saat tugas jaga, pake mimpi segala. Dasar dokter muda! Kemudian aku mendengar seseorang merintih meminta tolong. Semua orang di bangsal itu sedang berada dalam dunia mimpinya sendiri. Tak seorangpun menghampiri suara itu. Aku bergegas mendekat. Kujumpai seorang pria dan bertanya ada apa. Dia butuh&amp;nbsp; Pispot! Dan aku mengambilkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin, ini adalah hal sederhana. Namun, aku tak sabar membayangkan sebuah ending dari mimpiku yang menjadi nyata. Saat dimana sisa-sisa mimpi seorang pria muda yang renta terwujud, ketika sesuatu yang dinanti-nantikan akhirnya keluar dari peraduannya. Dengan sedikit usaha, beberapa tetes keringat, dan kontraksi otot di sana-sini. Akhirnya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Crot!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;“Aku masih hidup!”&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Plung!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif; text-align: right;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif; text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;M.A. Empitu, &lt;i&gt;di alam mimpinya&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3391768758550731628-8404156375563185380?l=mimpiempitu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mimpiempitu.blogspot.com/feeds/8404156375563185380/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mimpiempitu.blogspot.com/2009/11/aku-masih-hidup.html#comment-form' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3391768758550731628/posts/default/8404156375563185380'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3391768758550731628/posts/default/8404156375563185380'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mimpiempitu.blogspot.com/2009/11/aku-masih-hidup.html' title='Aku masih hidup!'/><author><name>Empitu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08622565267722410362</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_3HVmdhpurIM/Sts0SVBEIBI/AAAAAAAAAA8/p5xJmSabQmE/S220/ant2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_3HVmdhpurIM/SvGc9v_xZnI/AAAAAAAAABo/G-DBM2umrXE/s72-c/baby_by_jinnwoo.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry></feed>
