Selamat datang di kampung halaman!

Sebuah catatan mimpi anak kampung
Follow Me

Scientific Shirotol Mustaqim



By  Maulana A. Empitu     22.01    Labels:, 

Masih hangat diingatan ketika suatu siang beku di bulan Januari, saya mendengarkan cerita antusias seorang post-doc Jepang terkait temuan STAP cell oleh Yoshiki Sasai. Orang jepang menyebut dia calon Nobelis jepang selanjutnya.

Sekitar tiga minggu lalu, Sasai ditemukan bunuh diri. Sebulan sebelumnya, 2 papernya di Nature terkait STAP cell ditarik karena terindikasi misconduct. Sasai dinilai tidak memberikan input yg teliti kpd anak didiknya...Sehingga terjadi fraud.

Menarik...Dlm pertemuan National Academy of Science th lalu, hal2 spt ini pernah dilaporkan. Dari 2000an paper biomedicine yg ditarik publikasinya, 2/3 nya disebabkan misconduct. Di negara maju jenis pelanggaran utamanya adalah Fraud (memalsu) data. Di negara berkembang: Plagiarisme (menyontek).

Okelah klo untuk plagiarism, sekarang ada tools yg membantu kita menghindarinya. Namun untuk Fraud, lebih sulit krn memerlukan judgment. Tuduhan fraud pd journal yg ber-impact factor besar, tidak serta merta krn memalsu. Namun lbh banyak krn si Penulis membuat pertimbangan kurang berhati-hati, yakin terlalu cepat, sehingga datanya tidak representatif. Godaan bagi setiap penelitian adalah ketika ada data bagus yg suportif thd dugaannya. Perlu keberanian Untuk bertanya: apakah data ini benar-benar mewakili fakta?

Minggu lalu sy sempat menyaksikan proses judgement tsb. Mahasiswa doktoral di lab kami mempresentasikan temuan nya akan struktur antigen baru pada membran parasit penyebab malaria. Si mahasiswa berniat mempublikasi datanya. Lalu prof tsb bertanya, seberapa besar keyakinanmu?

Di satu sisi, protein tsb benar-benar baru dan belum terkarakterisasi. Jika benar, akan membuka dunia baru di bidang malaria. Di sisi lain, sangat sedikit clue yg dia punya krn memang belum pernah ditemukan hal yg serupa. Apakah itu bukan ilusi keyakinannya semata?

Dalam konteks ini, sy teringat cerita mengenai "Shirotol Mustaqim" (jalan yg lurus). Ada yg menafsirkannya sbg jalan yg secara fisik ada di alam akhirat. Ada pula yg menafsirkan bahwa Shirotol Mustaqim itu di dunia. Dia ada dimana2 menyertai kita, sbg mahasiswa, Pedagang, suami, teman atau sekadar aktivis path dan facebook. Kita bisa mendefinisikannya apa saja: batas antara haq dan bathil; jujur dan dusta; manfaat atau mudhorot.

Konon katanya batas itu sangat samar, ibarat sehelai rambut dibelah tujuh. Tidak setiap saat kita mengenal "dimana" batas Shirotol Mustakim. Dlm konteks science, sering kali yg tahu data itu asli, representatif, dan valid adalah penelitian itu sendiri.

Ketika ragu-ragu, ternyata nasehat prof pembimbing saya: berhenti sejenak, tanyakan pada dirimu. Klo dlm bahasa Rasululloh: "Istafti Qolbaka, istafti nafsaka". Kebaikan adalah apa yang hati merasa tenteram melakukannya. Sebaliknya hindari mengerjakan sesuatu yg membuat kita bimbang, walau semua orang menyoraki kita "keren" atau "hebat".

Jika akhirnya yakin, Lanjutkan!

Sketsa: Catatan kuliah etik, wajah Daniel G. Jay

About Maulana A. Empitu

Seorang bocah kampung biasa. Walau beberapa tahun terakhir hidup di kota, karakter orang kampungnya masih belum luntur juga. Hobi pria ini adalah bermimpi. Bahkan ketika terbangun, ia masih sering terbawa mimpi dan terkantuk-kantuk. Kadang tertidur di lab, kereta, rumah makan, atau pinggir jalan. Namun momen tertidur favoritnya adalah ketika jaga UGD. Jika ingin membaca mimpinya yg meng-episode-season, sila berkunjung ke kampung halamannya di mimpiempitu.blogspot.com. Harap jangan kaget kalau mimpinya tidak selalu indah dan renyah, namun juga basah.

1 komentar:


Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Translate