Sampang, 15 Maret 2011
Jika kau berbuat baik, berarti kau berbuat baik bagi dirimu. Jika kau berbuat buruk, maka keburukan itu untuk dirimu sendiri. (Al-ISRA': 7)
Selamat pagi Kawan,
Hari ini adalah hari pertama saya akan bertugas di sebuah Puskesmas Pembantu di Pulau Mandangin, Kabupaten Sampang. Ini adalah kali kedua saya mengunjungi pulau ini. Saya sudah pernah ke tempat ini tiga pekan lalu. Saat itu, saya hanya singgah sejenak. Namun kali ini berbeda, saya akan tinggal di Mandangin selama beberapa hari.
Perjalanan dimulai dari ‘pelabuhan’ muara Sungai Tanglok pada pukul 5.30 pagi . Untuk mencapai pulau Mandangin, saya harus menaiki sebuah ‘kapal’ bermesin diesel ganda. Kapal berjalan menyusuri muara sungai hingga sampai ke lautan. Di sepanjang bibir sungai, banyak kapal nelayan sedang membongkar muatan, ikan hasil melaut pada malam sebelumnya. Tidak semuanya adalah kapal-kapal besar dan bagus. Ada juga perahu-perahu reot berukuran solo yang hanya dikendarai oleh seorang nelayan. Namun apapun ukuran kapal mereka, pagi ini saya melihat kesamaan di antara mereka semua. Mereka sedang bergembira. Malam tadi, cuaca cerah dan ikan berlomba-lomba mengisi jala mereka.
Di kanan dan kiri muara sungai, penumpang kapal disuguhi pemandangan hutan mangrove lengkap dengan puluhan burung bangau yang terbang silih berganti. Kami bisa bisa menyaksikan dengan jelas sarang-sarang mereka di antara dahan pepohonan. Sudah belasan tahun saya tidak pernah melihat burung bangau secara langsung di habitat aslinya. Hari ini, saya beruntung.
Tak lama kemudian kami telah sampai di laut lepas. Pemandangan matahari pagi yang baru ‘sejengkal’ dari bumi, membuat saya terpukau. Sinar hangat mentari sangat lihai melewati celah-celah asap dan kabut yang menyelimuti lautan. Secara sederhana semua bisa digambarkan dengan satu kata, putih. Dengan sedikit kesan silau karena mentari.
Setelah melaju beberapa saat, saya mulai dapat melihat lautan luas yang biru beserta ‘pernak-perniknya’. Ada beberapa ikan membentuk formasi berputar dengan sirip yang muncul di atas permukaan air. Sepintas, mirip sirip ikan hiu yang biasa kita lihat di saluran nat geo. Saya jadi teringat cerita teman saya, Fatkhul. Dia pernah berkata pernah melihat dan ‘menyentuh’ hiu bersama ayahnya yang nelayan. Dulu saya tidak percaya, tapi kini saya sudah mulai acceptance dengan ceritanya. :)
Permukaan lautan yang tak berangin menciptakan tekstur halus dan memukau. Pagi ini cuaca sangat tenang, nyaris tak ada gelombang. Hanya angin sepoi-sepoi. Di udara, beberapa burung camar terbang dan memamerkan lekuk tubuhnya yang aerodinamis. Sesekali mereka terbang rendah dan menyentuhkan paruhnya di permukaan air. Luar biasa.
Mesin kapal menderu, ‘mengejan’ dan menciptakan getaran hingga dapat saya rasakan pada lantai papan yang saya duduki. Di bagian belakang kapal, sesekali terdengar suara para ‘oemar bakri’ yang dengan semangat berangkat menularkan ilmu kepada anak-anak pulau.
Sebelum saya berangkat, Saya telah mendengar beberapa hal tentang Mandangin termasuk dari beberapa teman saya sendiri. Orang berkata, Mandangin adalah pulau padat yang menyimpan berbagai masalah. Sekitar 60% persen penduduknya BAB di tempat sembarangan, banyak ditemukan kasus tuberculosis, masyarakatnya susah diedukasi dan berbagai hal buruk lainnya. Akan mustahil untuk membuat perubahan dalam waktu singkat.
Akan ada banyak tantangan yang mungkin tidak pernah saya pikirkan waktu di sekolah dulu. Numun, itulah yang membuat hidup lebih seru. Hudup tidak sesederhana soal ujian kita dulu yang bisa diselesaikan di atas kertas. Hidup seringkali juga tidak memiliki 'kunci jawaban' yang pasti. Di saat kita ingin berbuat, selalu ada halangan. Di saat kita berharap, kita sering kali harus berhadapan dengan berbagai sinisme dan pesimisme. Saya yakin bahwa kawan-kawan juga menghadapi hal yang sama. Dimanapun kawan bekerja, di rumah sakit, kantor, jalanan atau rumah sekalipun, tantangan akan selalu ada.
Namun jangan surutkan langkahmu. Genggam erat hasratmu untuk berbuat. Peluk lekat harapan dan niatmu untuk memberi manfaat. Tidak ada yang mustahil di dunia ini. Perubahan besar dimulai dari banyak hal yang kecil.
***
Wajah Pulau Mandangin sudah tampak dari kejauhan. Sebentar lagi saya akan sampai. Saya sudah tak sabar bertemu saudara se-Indonesia saya itu. Semoga Tuhan mengijinkan saya untuk ‘menyentuhkan’ mereka terhadap perubahan-perubahan yang positif.
Walau mesin kapal terdengar telah menderu dan ‘mengejan’ sekuat tenaga, kapal tetap saja berjalan perlahan. Mungkin, seperti kapal itulah kondisi saya sekarang. Sulit untuk membuat sebuah lompatan besar. Namun jangan harap untuk berhenti. Biarlah walau harus melaju meter demi meter. Untuk sementara, saya hanya ingin membawa optimisme.
Entah sampai kapan.
M.A.Empitu, di atas kapal ‘Sentosa’
![]() |
| KAPAL NELAYAN: di antara putihnya langit dan lautan. |
![]() |
| MENTARI PAGI: menembus remang kabut dan awan |
![]() | ||
| LANGIT dan LAUTAN, luas dan biru |
![]() |
| Beberapa kapal penangkap ikan berjajar di perairan dangkal Mandangin |
![]() |
| Sesama orang Indonesia. :) |
![]() |
| Perahu penumpang, satu-satunya alat transportasi menuju Mandangin. |


22:31
Empitu








1 comments:
Melihat foto-foto yang Anda pasang dalam posting ini membuat saya tersentuh karena saya mengagumi ekosistem pantai ;) Selamat berjuang kawan, sukses menyertai langkahmu.
Poskan Komentar