![]() | ||
| Setelah ke Bali, Kuala Lumpur, dan Macau, Gayus akan pergi ke bulan. |
“Seseorang yg berteriak di saat semua berbicara adalah biasa. Namun, seseorang yang berbisik di saat semuanya diam, dialah pemberani.” (Iwan Fals)
Kawan,
Halaman depan koran ‘terbesar’ di Indonesia kemarin mengingatkan saya akan permainan semasa kanak-kanak, Papan Monopoli. Di antara bermacam-macam petak dalam papan permainan monopoli, ada dua petak di pojok yang berseberangan. Satu petak untuk ‘penjara’ dan satu petak ‘bebas parkir’. Jika seorang pemain menempati petak ‘bebas parkir’, dia akan mendapatkan free pass ke ‘negara’ manapun. Sedangkan pemain yang sedang berada di petak penjara, dia akan kehilangan kesempatan untuk melangkah ke manapun. Mau atau tidak mau, suka atau tidak suka. Namun itu hanyalah peraturan Papan Monopoli. Lupakan saja.
Nyatanya, kenyataan tidaklah sesederhana permainan papan monopoli. Perangai ‘orang dewasa’ dalam ‘bermain’ tidaklah sejujur anak-anak dalam bermain. ‘Orang dewasa’ jauh lebih ‘pandai’ dari anak-anak yang mau-mau saja tunduk pada aturan main papan monopoli. ‘Orang dewasa’ jauh lebih cerdik dalam menemukan celah permainan. Bahkan di saat tidak ada celah, mereka bisa mengada-adakan celah itu. Semua bisa dimanipulasi. ‘Penjara’ pun bisa disulap jadi petak ‘bebas parkir’oleh sang legenda baru, Gayus Tambunan. Bukan hanya keluar penjara, Gayus pun bisa keliling dunia. Kalau Gayus mau, pergi ke bulan pun bisa. Sepak terjang Gayus telah menambah satu lagi daftar kelucuan yang telah terjadi di negeri kita tercinta.
Terlalu banyak kisah (baca: masalah) di sekitar kita yang membuat kita terkesima. Hampir setiap hari muncul ‘kisah’ baru. Kalau diibaratkan menonton sebuah sinetron, saat ini kita tengah menonton seri sinetron kejar tayang. Sinetron yang tiap hari rilis episode baru tanpa kita tahu kapan episode akhir akan dibuat. Sinetron yang tampil setiap hari dengan cerita berbeda, plot berbeda, bahkan tokoh yang tidak sama pula.
Banyaknya ‘sinetron’ yang kita tonton itu sering kali menghapus kesan mendalam dari setiap episode. Kita sering kali lupa dengan episode kemarin. Memori kita hari ini telah terisi penuh dengan kisah hari ini sehingga kisah yang telah lalu terlupakan.Kesan mendalam akan episode lampau telah tergantikan oleh episode yang baru yang lebih fantastis. Penonton menjadi terbiasa terhadap kelucuan-kelucuan yang dulunya membuat mereka terbahak bahak. Kita tidak lagi terharu karena kisah sedih yang bertaraf ’biasa’. Bahkan, kita sering kali tertarik untuk menonton episode lain yang terkesan lebih sensasional sebelum menyelesaikan satu episode secara tuntas.
‘Episode’ yang kita tonton sekarang berjudul tamasya ala Gayus. Beberapa hari ini kasus pelesir Gayus ke luar negeri menjadi perhatian publik. Kita dibuat terkesima dengan tour Gayus ke Kuala Lumpur, Macau dan Bali. Namun kita harus ingat, ‘episode’ ini hanyalah sebuah sekuel dari episode utama kasus Gayus Tambunan dan episode-episode lain yang telah kita lewatkan.
Kasus Gayus yang utama adalah kasus penggelapan pajak yang merugikan negara trilyunan rupiah. Ada korporat dan kapitalis yang super-oportunis di belakangnya. Logika sederhananya, jika beberapa korporat mau mengeluarkan Rp. 100 milyar untuk memanipulasi pajak, tentulah jumlah pajak sebenarnya jauh lebih besar dari itu. Mereka telah mengambil hak warga negara untuk menikmati jalan mulus, anak tidak mampu untuk mendapatkan pendidikan gratis, dan orang miskin untuk menikmati jaminan kesehatan. Semoga kita tidak melupakan ‘episode’ itu.
Kasus pelesir Gayus hanyalah salah satu contoh dari sekian banyak praktek strategi pengalihan isu. Kita sekarang tentu sudah tidak mendengar lagi bagaimana kabar kasus Century, Susno Duaji, maupun ‘bencana’ Lumpur Lapindo. ‘Cerita-cerita’ itu kini sudah tergantikan dengan cerita baru tanpa pernah terselesaikan.
Kawan, janganlah kita terlena dengan isu-isu bombastis yang memang sengaja diciptakan untuk mengacaukan prioritas kita. Jadilah penonton yang cerdas, penonton yang mampu mengikat makna dari setiap kisah. Jadilah penonton hebat yang tidak hanya menikmati cerita, namun juga mampu mengubah alur cerita. Jangan berhenti menyuarakan kebenaran. Walau penguasa lebih sering berlagak tuli, wakil rakyat lebih sering mengurusi urusannya sendiri, dan penegak hukum pun tidak perduli, tapi ingatlah Tuhan selalu mendengar. Kita hanya tidak tahu kapan dan bagaimana Dia akan menjawab suara kita.
Berbisiklah, Dia akan selalu mendengarmu.
M.A. Empitu, di atas kasur.


10:45
Empitu



0 comments:
Poskan Komentar