Untuk Adik-adikku Linguist, yang gemar menulis.
“Experience is the best teacher. But for the bad one, I prefer not to learn from my own teacher...” (M.A.Empitu)
Prinsip di atas selalu ada di benak saya kapan pun juga. Kita tidak perlu mengalami hal buruk. Kita bisa belajar dari pengalaman buruk orang lain. Ibarat jika kita ingin tahu bagaimana rasanya tahi, cukuplah orang lain yang mengunyahnya. Kita tinggal bertanya padanya. Simpel bukan?!
Namun kenyataannya, banyak pengalaman buruk mampir ke dalam hidup saya. ‘Postulat Empitu’ jadi tidak berlaku. Melalui tulisan ini saya ingin menceritakan pengalaman buruk saya. Bukan untuk menggurui Anda, tapi hanya untuk sekadar melegakan hati saya. Jika saya menceritakan pengalaman buruk saya kepada Anda, setidaknya ‘postulat’ tadi bisa berlaku untuk Anda walau tidak untuk saya. Anda tidak perlu lagi mengunyah tahi, karena saya secara tidak sengaja sudah melakukannya untuk Anda. Sekarang, akan saya ceritakan bagaimana rasanya..
Tahun 2005 adalah kali pertama saya mengenal Lingua. Saat itu, saya membayangkan bahwa Lingua adalah gudangnya penulis hebat. Jika saya menjadi anggota Lingua, saya dapat belajar kepada penulis-penulis senior Lingua. Saya ikut Pelatjur (baca dengan ejaan yang telah disempurnakan, bukan ejaan lama), pelatihan jurnalistik. Saya berangkat ke Jakarta untuk menimba ilmu di forum Medical Journalism Course. Intinya, saya terus belajar di bawah bimbingan senior. Saya berharap jika ‘waktunya’ tiba nanti, saya akan dapat menulis dengan produktif seperti senior-senior saya di Lingua. Saya ingin mengatasi kesulitan saya dalam memulai menulis.
Beberapa tahun kemudian, ‘waktunya’ telah tiba. Saya masih belum menjadi seperti yang saya harapkan. Selama beberapa tahun, hanya beberapa tulisan yang saya hasilkan untuk Lingua. Saya masih susah untuk menimbulkan hasrat menulis. Saya hanya menulis untuk Lingua jika kepepet, jika mas atau mbak-mbak menagih saya. Saya baru mau memulai menulis semalam sebelum deadline. Saya sangat malas menulis.
Namun ironis, saya mengalami sebuah paradoks. Di waktu yang sama, saya menulis diary saya dengan sangat bergairah. Saya membuat file diary saya dari beberapa kilobyte menjadi bermega-mega byte. Ide tulisan untuk diary saya muncul dimana saja. Di atas kasur, di depan kaca toilet, di atas WC, di dahi dosen yang memberi kuliah, di warung masakan padang, dan hampir dimana saja. Aneh.
Saya baru menyadari hal ini ketika saya membaca buku Hernowo yang saya ceritakan di beberapa note sebelumnya (buka mimpiempitu.blogspot.com). Hernowo mengemukakan sebuah ‘doktrin’ yang menurut saya unik, yaitu menulislah untuk dirimu sendiri! Selama ini kita, mungkin lebih tepatnya saya, hanya menulis untuk tujuan formal. Saya hanya menulis jika diberi tugas oleh guru, disuruh mas-mbak Lingua, atau kalau ada lomba. Semua itu saya lakukan karena orang lain, bukan dorongan saya sendiri. Sedangkan kegiatan menulis diary, saya lakukan untuk memuaskan diri saya. Dan tentu saja, saya jalani dengan senang hati.
Saya pernah bertanya kepada Adik saya, yang saya anggap sebagai salah satu orang terdekat. “Maukah kamu menyikat dan menyemirkan sepatu saya?” Adik saya tidak mau. Namun dia melakukan pekerjaan yang saya minta itu pada sepatunya sendiri hampir setiap hari. Dia tidak mengeluh, bahkan menikmatinya hingga sepatunya mengkilap sempurna!
Analogi tersebut dapat kita terapkan dalam konteks menulis. Bangunlah motivasi bahwa menulis adalah kegiatan untuk memuaskan kita, bukan orang lain. Menulislah untuk diri kita sendiri. Menulislah untuk menjawab rasa penasaran dan ingin tahu kita. Jangan membuang-buang waktu untuk menulis hal-hal yang tidak kita sukai, hal yang mebuat kita tersiksa, hal yang membuat kita berpikir kapankah ini akan berakhir. Tulislah hal-hal yang kita cintai dan yang membuat kita terus ingin menuliskan hal itu.
Jangan pikirkan pendapat orang lain akan tulisan, bahasa, maupun pemikiran kita. Biarkan ide-ide menari sebebas-bebasnya. Lepaskanlah diri kita dari rasa khawatir akan menghasilkan tulisan yang jelek. Anggaplah komentar orang lain, positif atau negatif, adalah hal yang akan memperkaya wawasan dan meningkatkan kualitas kita dalam menulis. Menulis adalah hak kita sepenuhnya. Tidak ada orang lain yang berhak mengganggu dan menggugatnya.
Semoga cerita saya akan rasanya ‘tahi’ itu dapat memberi Anda pemahaman bahwa Anda benar-benar tidak perlu mengunyahnya. Karena melalui cerita saya, Anda sudah tahu bahwa rasanya tidak enak. Saya harap, Anda percaya saja. Jika tidak, Anda boleh mencobanya.
Semoga kita bisa terus belajar dan berkarya, demi dunia yang lebih baik.
M.A.Empitu, Linguist 2005.


09:47
Empitu



4 comments:
Love it love it! 100% true! Success is not anymore 90%hardwork 10% talent, but 80% Passion, each 10% hardwork and talent :D
Absolutely. Nowdays are the era of passion. :)
Avant d'ecrire il faut savoir lire, et avant de parler, il faut savoir ecouter ;)
@ Dian: hahaha. Jadi ingat mottonya lingua:
"Before making an article, we build the people." :)
Poskan Komentar