Selamat datang di kampung halaman!

Sebuah catatan mimpi anak kampung
Follow Me

Masih hangat diingatan ketika suatu siang beku di bulan Januari, saya mendengarkan cerita antusias seorang post-doc Jepang terkait temuan STAP cell oleh Yoshiki Sasai. Orang jepang menyebut dia calon Nobelis jepang selanjutnya.

Sekitar tiga minggu lalu, Sasai ditemukan bunuh diri. Sebulan sebelumnya, 2 papernya di Nature terkait STAP cell ditarik karena terindikasi misconduct. Sasai dinilai tidak memberikan input yg teliti kpd anak didiknya...Sehingga terjadi fraud.

Menarik...Dlm pertemuan National Academy of Science th lalu, hal2 spt ini pernah dilaporkan. Dari 2000an paper biomedicine yg ditarik publikasinya, 2/3 nya disebabkan misconduct. Di negara maju jenis pelanggaran utamanya adalah Fraud (memalsu) data. Di negara berkembang: Plagiarisme (menyontek).

Okelah klo untuk plagiarism, sekarang ada tools yg membantu kita menghindarinya. Namun untuk Fraud, lebih sulit krn memerlukan judgment. Tuduhan fraud pd journal yg ber-impact factor besar, tidak serta merta krn memalsu. Namun lbh banyak krn si Penulis membuat pertimbangan kurang berhati-hati, yakin terlalu cepat, sehingga datanya tidak representatif. Godaan bagi setiap penelitian adalah ketika ada data bagus yg suportif thd dugaannya. Perlu keberanian Untuk bertanya: apakah data ini benar-benar mewakili fakta?

Minggu lalu sy sempat menyaksikan proses judgement tsb. Mahasiswa doktoral di lab kami mempresentasikan temuan nya akan struktur antigen baru pada membran parasit penyebab malaria. Si mahasiswa berniat mempublikasi datanya. Lalu prof tsb bertanya, seberapa besar keyakinanmu?

Di satu sisi, protein tsb benar-benar baru dan belum terkarakterisasi. Jika benar, akan membuka dunia baru di bidang malaria. Di sisi lain, sangat sedikit clue yg dia punya krn memang belum pernah ditemukan hal yg serupa. Apakah itu bukan ilusi keyakinannya semata?

Dalam konteks ini, sy teringat cerita mengenai "Shirotol Mustaqim" (jalan yg lurus). Ada yg menafsirkannya sbg jalan yg secara fisik ada di alam akhirat. Ada pula yg menafsirkan bahwa Shirotol Mustaqim itu di dunia. Dia ada dimana2 menyertai kita, sbg mahasiswa, Pedagang, suami, teman atau sekadar aktivis path dan facebook. Kita bisa mendefinisikannya apa saja: batas antara haq dan bathil; jujur dan dusta; manfaat atau mudhorot.

Konon katanya batas itu sangat samar, ibarat sehelai rambut dibelah tujuh. Tidak setiap saat kita mengenal "dimana" batas Shirotol Mustakim. Dlm konteks science, sering kali yg tahu data itu asli, representatif, dan valid adalah penelitian itu sendiri.

Ketika ragu-ragu, ternyata nasehat prof pembimbing saya: berhenti sejenak, tanyakan pada dirimu. Klo dlm bahasa Rasululloh: "Istafti Qolbaka, istafti nafsaka". Kebaikan adalah apa yang hati merasa tenteram melakukannya. Sebaliknya hindari mengerjakan sesuatu yg membuat kita bimbang, walau semua orang menyoraki kita "keren" atau "hebat".

Jika akhirnya yakin, Lanjutkan!

Sketsa: Catatan kuliah etik, wajah Daniel G. Jay



Jika kita main ke kampus Tufts University di Medford, ada sebuah bangunan batu abu-abu di utara President's lawn. Gedung itu adalah peninggalan Phyneas Barnum, sekarang menjadi rumah bagi Department of Biology.

Barnum dikenal piawai mengenali hal remeh temeh yg berpotensi menjadi obyek hiburan "bernilai". Prinsip bisnis Barnum yg terkenal adalah "finding something for everyone", menyediakan sesuatu yg disukai hampir semua orang. Bahkan pada awal th 1890an Barnum menyumbangkan gajah peliharaannya (Jumbo) yg mati tertabrak kereta ke museum Tufts. Karena banyak mahasiswa dan org tua yg suka "patung" jumbo, oleh Tufts kemudian gajah tersebut dijadikan maskot.

Dari kesamaan karakter thd prinsip Barnum, Paul Meeehl mencomot nama si juragan sirkus menjadi sebuah terminologi "Barnum Effect". Efek tersebut menjelaskan fenomena bahwa seseorang cenderung mempercayai sebuah deskripsi mengenai karakter positif dirinya, terutama yg bersifat personal dan dikatakan/disandarkan pada otoritas yg terpercaya. Oleh Karena nya dpt dibuat prediksi yg berlaku bagi hampir semua orang.

Statement yg dpt memicu timbulnya efek Barnum cenderung 'semu', tidak terlalu spesifik. Seperti "anda adalah pecinta keindahan". Memangnya ada orang yg lebih suka kejelekan? 😁

Menyandarkan pada otoritas kredibel pun juga tidak cukup, perlu unsur personal untuk menimbulkan kesan. Misal, coba kita bayangkan bila Pak SBY pidato di TVRI: "Saudara sebangsa dan setanah air, dari sabang sampai merauke, anda semua adalah orang yg berbakat seni." Bandingkan dengan kita berpapasan dg Marshanda (yg kredibilitasnya mungkin di bawah SBY), kemudian dia bersalaman, selfie2 bersama kita dan berkata: "Setelah kita saling bertatapan selama 3 detik, saya tahu Mas memiliki bakat menjadi artis." Dijamin yg di share lbh banyak peristiwa yg ketemu Marshanda.hehehe

Apps yg sdg populer, "google yourself" punya 3 unsur menjadi prediksi yg berlaku pd hampir semua orang: statement general, bersandar pada otoritas (pake nama google search, walau abal2), dan personal (pasang foto profile FB kita). Selanjutnya terjadilah "validasi personal", pembenaran berdasar konteks pengalaman pribadi yg sepotong2.

"You have traditional and practical type personality." Wuih benerrrr...di rumah, sy kan lbh suka pake sarung drpd celana.

"You have leadership quality" Sakti nih apps...kok bisa tahu klo waktu SMP sy pernah menggerakkan pekerja untuk bersih2 sampah nuklir di Hiroshima, mengubah lahan kosong jd hutan di Kobe, serta memimpin 6 batalyon pasukan kavaleri mempertahankan Tokyo dari serangan Genghis Khan. Padahal itu cuman di Civilization II, dan ga pernah saya share di FB lho...

Hehehe..anyway tidak ada salahnya mengalami efek Barnum. Tidak berarti kita mudah dikibuli. Toh cuman buat haha hihi. Dalam praktek medis ada yg mirip2 efek Barnum. Namanya "Placebo conditioning", yg bs dijelaskan mekanisme neurobiologinya. Sekitar 30-40% dari populasi, diperkirakan lebih mudah mengalami efek placebo.

Mungkin termasuk saya dan Anda di antaranya. 😁

Jasad Jumbo yg diawetkan di Museum of Natural History, Tufts University, menjadi obyek favorit pengunjung museum sebelum akhirnya lenyap terbakar pada 1975.


Barnum Hall di kampus Tufts University, dan sedikit bokong si Jumbo (Kanan)









Lelah
Lelah ku menerka terjemah
Termangu-mangu ku menduga arti
dari sepinya emosi
Hai dirimu, yg tengah sumir sunyi

Mata kuping akalku
juga pikiran segalaku
Terkapar menyerah layu
Merbentur tirai jiwamu
yang tipis semu

Jika dengan garis di sudut mata
Kembang dan lesung di pipi merona
Riuh rendah suara
Maupun irama nafas yg kau hirup hela
masih tak mampu kukira
apa isi dadamu

Maka kuminta
ucapkanlah dengan kata
juga luapan rasanya
Biarlah membanjir semua kisah
Manis sepah tak mengapa
Tenggelam olehnya pun ku bahagia

Hanyutkan aku bersama kata-kata kita
Bukan cuma sentuhan tanpa rasa
atau satu dua emoticon saja

Ku yakin jiwamu
bukan hanya diujung jemari dan kuku
Yang menari di atas layar-layar beku

P.S. ditulis di atas layar handphone, Boston, MA
Judul gambar sketsa: Menggapai rizki

Wali kota City of Malden dan masjid setempat menyediakan sarapan seusai Sholat Idul Fitri

Satu hal yg sangat menghibur saat lebaran di rantau adalah melihat media sosial yang dipenuhi foto kebahagiaan. Mulai gambar reuni keluarga besar di tanah air, atau sekedar foto wisata bersama keluarga kecil. Dari yg wah-wow sampai yg sederhana.

Lucu juga mendapati bahwa orang-orang yg saya kenal dulu masih unyu-unyu, sekarang sdh punya istri/suami dan bahkan ada yg sudah punya anak yg unyu-unyu pula. Ada sebuah letupan kegembiraan, ketika menyaksikan banyak teman membentuk keluarga muda yg bahagia.

Secara pribadi, saya menganggap bahwa keluarga bahagia adalah elemen penting bagi pencapaian suatu bangsa. Tambah banyak keluarga bahagia, bertambah pula jumlah anak yg tumbuh nyaman dan gembira. Oleh karena itu, semakin optimis kita menatap masa depan Indonesia yg positif. #wualah

Terima kasih atas setiap foto bahagia yg kawan-kawan pajang di MedSos. Walau tinggal di US tidak bersama banyak kerabat, namun foto-foto tersebut mampu menularkan semarak lebaran pada kami yg jauh di sini.

Selamat Lebaran!

Bersama Walikota City of Malden, Massachusetts

Berbahagialah bagi sahabat sekalian yang bisa mudik. Bertemu keluarga itu adalah anugerah. Mencium tangan orang tua itu karunia, terlebih jika bisa setiap hari. Mendengar 'ketepakan' sandal jepit orang yg berangkat sholat Id pun jadi sesuatu yg
mewah, bagi orang yg tidak bisa mudik.

Kali ini, sudah kedua kalinya lebaran tidak bersama keluarga. Kalo ditanya kenapa tidak bisa pulang, jawabnya sedang ikut tarekat. Nama mursyidnya Bang Toyib. 😁

Namun ada sesuatu yg unik. Setiap kali telepon Ibu maupun istri, beliau berdua selalu tampak senang jika Saya datang ke acara buka bersama. Artinya, Saya makan tidak sendirian. Ada temannya. Dan tetap bisa merasakan suasana guyub seperti di
kampung halaman.

Namun jarak separuh bumi, memang tidak bisa dipungkiri. Kami bagai hidup berbeda dimensi. Sana siang, sini malam. Sana besok, sini masih kemarin.

Hari ini saya sholat Id disebuah kota kecil di utara Boston, City of Malden namanya. Sehabis sholat Id, Pak Walikota City of Malden mengadakan perayaan Idul Fitri. Makan bersama. Sembari menikmati donat dan kopi, tak terhitung jabat tangan dan rangkulan ramah dari orang tak dikenal yg semuanya memanggil saya "Brother". Tak disangka, Idul Fitri disini tetap terasa akrab dan kekeluargaan. Tampaknya, tak perlu pesawat untuk menempuh jarak separuh bumi. Doa Ibu dan istri, cukup menumpang donat dan kopi.

Taqobbalallahu minna wa minkum, Sedhulur!

Nelson Mandela and Dalai Lama walked side by side at August 22, 1996 in Cape Town, South Africa. (Courtesy: AP)

In Trafalgar Square - London, Mandela awakened the soul of 22,000 people by his inspirational speech. He address some opportunity for making an impact toward poverty. The speech was remembered as one of the most powerful he has delivered in his several latest years.
Here are some of his powerful words:
"Like slavery and apartheid, poverty is not natural. It is man-made and it can be overcome and eradicated by the actions of human beings."
"The G8 leaders, when they meet in Scotland in July, have already promised to focus on the issue of poverty, especially in Africa. I say to all those leaders: do not look the other way; do not hesitate. Recognise that the world is hungry for action, not words. Act with courage and vision."
"Overcoming poverty is not a gesture of charity. It is an act of justice. It is the protection of a fundamental human right, the right to dignity and a decent life. While poverty persists, there is no true freedom."
"Sometimes it falls upon a generation to be great. You can be that great generation. Let your greatness blossom. Of course the task will not be easy. But not to do this would be a crime against humanity, against which I ask all humanity now to rise up."
"Make Poverty History in 2005. Make History in 2005. Then we can all stand with our heads held high."

For the complete transcript, you can look further here:



Dulu ketika kecil, kita mungkin sering mendengar kisah mengenai kiamat dan hari akhir. Dimana mulut kita dikunci, kemudian tangan dan kaki kita bercerita mengenai apa yg diperbuatnya.

Mungkin bagi sebagian orang itu konyol. Bagaimana bisa? Walau saya meyakini 100% itu bakal terjadi...Sampai beberapa waktu lalu, saya juga masih belum tahu bagaimana caranya. Mungkin Tuhan punya alat penyadap yg diletakkan di semua sudut bumi, dg memori yg tak terhingga. Atau mungkin Tuhan mendownload isi memori otak manusia seperti di film Johnny Mnemonic.

Hehehe...klo mikir itu, ga nyampe akal sy yg dodol lagi ndelahom ini.

Namun, ada sebuah bukti kecil mengenai bagaimana hal itu dimungkinkan. Seorang fellow di MIT, namanya Abe Davis, beserta timnya menemukan teknologi "Passive recovery of sound".

Dia berhasil merekonstruksi suara yg ada disekitar suatu benda tanpa menyadap. Tanpa proses merekam suara dan kuping-menguping. Dia bisa merekonstruksi suara dari gerakan benda yg ada di sekitar sumber bunyi tsb. Lebih jelasnya bisa kawan-kawan lihat pada video di bawah ini
atau baca di sini..

http://people.csail.mit.edu/mrub/VisualMic/

Suatu saat nanti.. jangankan tangan dan kaki, ekstrak  kulit manggis di meja kita bisa bercerita.

Visual Microphone: Passive Recovery of Sound



Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Translate