Hernowo dan Iqra'
Setengah pekan lalu, saya berdialog dengan seseorang. Dia adalah Hernowo.Saya belajar banyak dari orang ini. Siapa tahu ada beberapa hal yang bisa Anda petik juga.
Anakku, tetap saja begitu
“Jangan, jangan! Jangan rebut Retno dariku!” aku meronta sekuat tenaga. Takkan kubiarkan anakku satu-satunya terrenggut dari sisiku. Sesuatu menusukku dari belakang. “Dasar Joko, lelaki jahanam!” Sampai mati aku tak akan melupakan lelaki yang telah menyengsarakan hidupku itu.
Ketika Sang Bangau Kembali ke Kubangan
Sang Bangau telah terbang beberapa lama. Ia telah melewati bergurun-gurun padang dan berngarai-ngari hijau. Sang Bangau juga sudah menembus puluhan badai, menantang ganasnya alam, dan bersahabat dengan tak menentunya cuaca. Ketika lelah mendera, sang Bangau kembali mendarat ke kubangannya.
Aku masih hidup!
Aku mendapati seorang pria terbaring di atas tempat tidur. Tampak bujur tubuh kurus dan kering, seonggok tulang dibungkus kulit dengan sedikit asesoris daging. Kulitnya menghitam dan bersisik seperti terkena sengatan mentari bertahun lamanya. Tulang rusuknya menari-nari diiringi irama nafas yang berat. Tangannya bagaikan sebuah ranting rapuh, kakinya membengkak seperti sebuah umbi yang mengakar dari tubuh reot itu. Waktu belum cukup tua untuk menelannya. Namun sangat beringas untuk menyisakan sedikit saja. Sepertinya, hidup telah memasang sayapnya dan bersiap untuk terbang lepas.
Rabu, 07 Maret 2012
Memilih Spesialisasi
02:13
Empitu
Kamis, 11 Agustus 2011
Pasien Bukan Konsumen
20:15
Empitu
![]() |
| a picture by Ralp Morse |
Pernahkah Anda mendengar istilah "buka warung"? Itu alasan yang lazim digunakan bila seorang dokter tidak bisa hadir dalam satu acara. Kita paham, maksudnya si dokter sedang buka praktik. Jadi, harap maklum, dia tidak bisa diganggu. Dia sedang berhadapan dengan orang sakit yang butuh pertolongan segera.
Kita mengenal praktik dokter sebagai kegiatan ritual sore selepas kerja formal untuk menerima pasien pribadi. Di sana, pasien-pasien menunggu untuk dipanggil sembari berharap mendapatkan penanganan terbaik dari si dokter. Sebutan dokter bertangan dingin sering kita dengar untuk dokter yang laris manis. Terselip di sana aroma irrational trust untuk sosok personal si dokter. Tidak jadi soal selama pasien benar-benar mendapatkan perawatan terbaik. Tetapi, siapakah sebenarnya yang akan menilai dan menjamin si pasien memang benar-benar menerima penanganan terbaik?
Bukan Jual Beli
Saya ragu apakah penggunaan istilah "buka warung" untuk praktik dokter akan diterima lega oleh pasien. Mengapa? Terkesan, itu mereduksi nilai pekerjaan profesi dokter. Kegiatan "perwarungan" adalah kegiatan yang teramat sederhana. Cash and carry, Anda hanya perlu membawa selera dan uang. Pilih yang Anda sukai, bayar, dan urusan selesai, titik! Bila kelak Anda memerlukan hal lain lagi, silakan kembali, beli dan bayar lagi. Sampai di sini, tampaknya pola selling and buying yang terjadi di ruang praktik nyaris serupa dengan warung, fee for services. Artinya, bila Anda kelak membutuhkan lagi jasa dokter, silakan datang dan ya bayar lagi. Lantas, apa bedanya?
Pasien bukan konsumen! Saat si pasien hadir di hadapan dokter, yang terjadi bukan proses jual beli. Di sana lahir sebuah janji bahwa si dokter bersedia menjadi pelindung pasien. Berten menyebut hubungan itu lebih sebagai hal yang sakral, convenant bukan consumer. Convenant dalam terjemahan yang paling dekat berarti "akad". Bedanya? Hubungan konsumen dengan penjual sepenuhnya berdasar kontrak, begitu kontrak selesai hubungan pun usai. Perkara apa yang terjadi nanti kepada konsumen, sejauh di luar kontrak, ya urusannya sendiri.
Convenant punya arti yang berbeda. Nilai hubungannya melampaui batas konteks finansial dan ekonomi. Ada kewajiban untuk peduli (caring). Ikatan tidak berbatas waktu, ruang, dan uang, tetapi butuh panggilan hati. Kita tahu pasien datang ke dokter bukan karena dorongan selera. Kecemasan akan nasib dirinya memaksa dia datang ke dokter. Mendesak karena rasa sakit terus membelenggu. Terjepit karena terhentinya pekerjaan. Runyamnya, dia tidak tahu apa yang harus diperbuat (baca: dibeli) untuk menyelamatkan dirinya. Dokterlah yang nanti memutuskan dan pasien harus menanggung biaya atas keputusan dokter yang tidak sepenuhnya dipahami.
Tentang pengetahuan, Bacon menyebut knowledge is power. Pada dasarnya, pengetahuan itu bebas nilai moral. Tetapi, moral dan etika selalu hadir di saat pengetahuan (baca: kedokteran) itu digunakan. Ketidakseimbangan pengetahuan antara dokter-pasien adalah peluang yang amat subur untuk timbulnya masalah. Mengapa? Lord Acton mengingatkan: Power tends to corrupt. Absolute power corrupt absolutely.
Sang Penjaga Umat
Masih mungkinkah kita berharap pelayanan medik terbaik akan lahir dari warung-warung pribadi dokter? Jawabannya: maybe yes, maybe no. Kini zaman baru telah hadir. Ledakan teknologi membuat penanganan medik kian kompleks. Pelayanan medik berubah secara fundamental. Diperlukan tata cara baru untuk menjamin bahwa pelayanan medik telah disampaikan dengan benar dan bermanfaat untuk pasien. Kontrol moral semata tidak cukup melindungi pasien. Perlu dukungan kompetensi dan pengawasan melekat dari pihak ketiga. Penanganan terbaik bukan sekadar penilaian subjektif dari pasien. Tetapi, lebih merupakan penjabaran dari Quality, Price, and Delivery (Q, P, D) yang terukur empiris-kuantitatif. Lantas, apakah kini praktik pribadi dokter sudah tidak kita perlukan lagi?
Di sinilah kita keliru! Mengapa? Dengan sistem pembayaran ala warung (fee for services) dan Q, P, D tanpa kontrol, negeri ini menjadi surga bagi pebisnis. Sistem kesehatan kita telah terjebak pada pelayanan kuratif komersial. Watak bisnis menguasai semua lini. Tengok, iklan layanan medik telah jauh melampaui batas kepatutan. Masyarakat seakan berjalan di tengah rimba tanpa pendamping. Berbekal pengetahuan minim, sepenuhnya awam, pasien memilih yang terbaik untuk menyelamatkan hidupnya. Begitu mudah mereka menjadi bulan-bulanan penjaja layanan kesehatan. Sungguh, ini berakibat besar bagi individu maupun masa depan negara.
Di semua negara maju, hal ini tidak mungkin terjadi. Mengapa? Aturan mainnya jelas. Dokter spesialis sepenuhnya di rumah sakit (RS), fokus untuk kuratif. Sedangkan, dokter umum, general practice (GP), berada di tengah masyarakat menjalankan fungsinya: Pertama, fokus pada tindakan preventif. Kedua, pengobatan umum penanganan di lini terdepan. Ketiga, pendamping pasien saat memilih tindakan kuratif. GP memiliki otoritas menyeleksi pasien, ke mana mereka harus dikirim. GP wajib mencatat performa dokter spesialis dan RS untuk laporan kepada yang berwenang (asuransi, petinggi kesehatan). Tidak mungkin Anda datang ke spesialis atau RS tanpa surat rujukan."The people guardian", sang penjaga umat, sungguh sebutan yang pantas untuk dokter umum. Di pundak merekalah kita berharap masyarakat berlindung menghadapi ganasnya belantara industri kesehatan.
Apa yang kini terjadi di negeri ini? Saat peran GP begitu dibutuhkan, praktik dokter umum justru kian langka. Masyarakat dibiarkan sendiri menghadapi gemuruhnya iklan dan rumitnya prosedur medik modern. Tampaknya, sistem kesehatan di negeri ini menuju ke arah yang salah.
Teringat pesan Prof Oldhoff, guru saya di Groningen, Belanda: "Ahli bedah secara moral bertanggung jawab kepada pasien. Tetapi, secara profesional, dia harus bertanggung jawab kepada dokter umum, si pengirim pasien". Benar, Anda memerlukan dokter umum untuk menjaga dan mendampingi keluarga Anda menghadapi pasar medik yang kian liar ini.
Minggu, 15 Mei 2011
Catatan Dokter Internship (2): Menghargai Waktu Luang
02:35
Empitu
Special Thanks: Fadhil Rashid, for his tough camera.
![]() | ||||||||
| Memakai sandal ke sekolah. |
![]() |
| Es "Wawan", masih ada di jaman sekarang. :) |
![]() |
| 'Itu' nya ditutupi dong. |
![]() |
| Bermain di atas jala. |
![]() |
| Menulis di atas pasir. |
Minggu, 10 April 2011
Sekali Teman, Tetaplah Teman
06:22
Empitu
Selasa, 05 April 2011
Catatan Dokter Internship (1): Membawa Optimisme
22:31
Empitu
![]() |
| KAPAL NELAYAN: di antara putihnya langit dan lautan. |
![]() |
| MENTARI PAGI: menembus remang kabut dan awan |
![]() | ||
| LANGIT dan LAUTAN, luas dan biru |
![]() |
| Beberapa kapal penangkap ikan berjajar di perairan dangkal Mandangin |
![]() |
| Sesama orang Indonesia. :) |
![]() |
| Perahu penumpang, satu-satunya alat transportasi menuju Mandangin. |
Selasa, 22 Maret 2011
5 hari kita yang sia-sia
04:30
Empitu
Men talk of killing time, while time quietly kills them. ~Dion Boucicault.
Mungkin beberapa dari kita berpikir bahwa kiat ini adalah langkah sepele. Namun yakinlah jika kita tak bisa mengubah yang kecil, kita tak akan mampu mengubah hal yang besar. Banyak hal yang kompleks dalam hidup kita tersusun dari berbagai hal yang sederhana dan kecil. Much of little means great.
Selasa, 01 Maret 2011
Sebuah Titik
23:27
Empitu
Popular Posts
-
“Your life is a gift from the creator. Your gift back to the Creator is what you do with your life” ...
-
Sampang, 15 Maret 2011 Jika kau berbuat baik, berarti kau berbuat baik bagi dirimu. Jika kau berbuat buruk, maka keburukan itu untuk dir...
-
Sang Bangau telah terbang beberapa lama. Ia telah melewati bergurun-gurun padang dan berngarai-ngari hijau. Sang Bangau juga sudah menembus...
-
Lihatlah gambar di atas dengan seksama. Apa yang Anda lihat? Jika Anda melihat sebuah titik, maka tidakla...
-
“Kita baru saja keluar dari pertempuran kecil menuju pertempuran yang besar, yaitu pertempuran melawan ...
-
a picture by Ralp Morse Jawa Pos, 6 Agustus 2011 Pernahkah Anda mendengar istilah "buka warung"? Itu alasan yang lazim digunakan bil...
-
Untuk ‘Saudara Kandungku’. “Terimalah kegembiraan yang tidak kau rasakan, tidak lama lagi, kau akan mera...
-
Piala AFF 2010 telah menciptakan momentum kebangkitan sepak bola Indonesia. Lima pertandingan tak terkala...
-
Men talk of killing time, while time quietly kills them. ~Dion Boucicault. Kawan, Pagi ini, saya menga...
-
Untuk Adik-adikku Linguist, yang gemar menulis. “Experience is the best teacher. But for the bad on...




















