Rabu, 07 Maret 2012

Memilih Spesialisasi



Beberapa pekan ini, banyak saudara sesama dokter yang sedang berjuang untuk masuk dalam program pendidikan dokter spesialis (PPDS). Banyak yang sudah memantapkan pilihannya, namun tak sedikit yang masih bingung akan menjadi apa.

Kegalauan itu mengingatkan saya akan  perbincangan ringan namun hot antara saya, beberapa rekan sejawat, dan seorang senior (yang telah menjadi spesialis) mengenai ‘Akan menjadi dokter spesialis apakah kita?’ Masing-masing menceritakan keinginannya dan alasan yang mendasarinya. ‘Si ini’ menyatakan ingin menjadi spesialis ‘itu’ karena dengan menjadi ‘itu’ ia bisa mendapatkan ‘ini-itu’ dan melakukan yang ’begitu-begitu’.

Dari perbincangan tersebut, sekilas saya dapat menyimpulkan bahwa salah satu pertimbangan terpenting untuk memilih spesialisasi bagi sebagian orang adalah “Seberapa banyakkah materi yang dapat dihasilkan nanti?” Sebagian besar yang dibicarakan adalah menyangkut uang dan menjadi kaya.

Seorang senior bahkan menyarankan, “Jadi spesialis Obgyn (kandungan) itu enak. Kerjanya ringan, penghasilannya banyak, dan pasiennya tidak mungkin sedikit karena sampai kapan pun orang melahirkan tidak akan habis.”

Pernyataan senior itu sebenarnya mengusik logika saya.  Jika demikan pertimbangannya, maka akan semakin banyak pilihan dan semakin bingung kita memilihnya. Akan lebih banyak nyanyian yang akan membuat Anda lebih merana.

“Penyakit seperti CKD, diabetes, dan hipertensi prevalensinya akan terus meningkat. Penderita penyakit kronik  harus rutin kontrol ke dokter. Jadi internist saja, pasien yang datang akan semakin melimpah.”

“Kecelakaan lalu lintas sekarang tidak mengenal usia, tua muda bisa celaka. Jadi orthopaedist rejekinya banyak.”

“Penyakit kardiovaskular adalah pembunuh nomor satu. Kateterisasi jantung sekarang juga sudah banyak dilakukan. Jadi cardiologist bisa cepat kaya.”

“Setiap pasien apapun penyakitnya hampir pasti perlu pemeriksaan laboratorium. Jadi ahli patologi klinik juga menggiurkan.”

“Eits.. tunggu dulu. Setiap pria lanjut usia hampir pasti mengalami pembesaran prostat. Jadi ahli urologi saja, kawan-kawan akan membutuhkan Anda ketika tua.”

Dan begitu seterusnya. Intinya, materi itu memang penting. Namun bukanlah hal terpenting yang menjadi dasar semua pertimbangan kita. Memikirkan materi tidak akan ada habisnya dan tidak akan mendatangkan kedamaian abadi. Saya jadi teringat apa yang dikatakan John D.Rockefeller -salah seorang terkaya dan paling berkuasa di dunia- seorang yang hartanya masih bisa digunakan mendanai kegiatan amal dan riset-riset terkemuka hingga puluhan tahun setelah beliau wafat. Ketika ditanya mengenai berapa jumlah kekayaan yang dianggapnya cukup, Rockefeller menjawab “Hanya sedikit lagi.”

***

Pada dasarnya, yang kita cari dalam hidup adalah kebahagiaan. Bahkan seorang yang mengejar materi semata, juga mencari kebahagiaan. Menjadi spesialis juga merupakan salah satu cara Anda mencapai kebahagiaan, bukan?

Mari kita renungkan bersama, apa yang benar-benar kita ingin lakukan setiap hari. Pilihlah sesuatu  yang nantinya akan mampu membuat kita melompat dari tempat tidur setiap pagi dengan suka cita. Bukan sesuatu yang membuat kita ingin tidur lebih lama. Sesuatu yang kita merasa exciting melakukannya, bukan terpaksa dan terbebani.  Sesuatu yang membanjiri otak kita dengan endorfin. Pilihlah yang kira-kira dapat membuat kita berkata,”Alhamdulillah, hari senin datang kembali..” “Terima kasih, saya akan melakukannya lagi…”

Renungkanlah itu ketika Anda memilih spesialisasi, memilih menjadi klinisi atau akademisi, memilih menjadi dokter atau tidak, atau memilih menjadi apa pun. Bahkan ketika kita tidak punya pilihan untuk menjadi apa, kita masih dapat memilih untuk menjalaninya dengan bahagia.

Percayalah bahwa pekerjaan halal yang kita lakukan dengan rasa bahagia dan penuh semangat, akan mendatangkan manfaat. Bukan hanya bagi kita, tapi juga orang lain. Tidak hanya di saat kita ada, namun juga setelah kita tiada.

Selamat membuat masterpiece hidup kita masing-masing. Semoga berhasil.


M.A.Empitu, ditemani secangkir Nu***sari hangat



Kamis, 11 Agustus 2011

Pasien Bukan Konsumen

a picture by Ralp Morse
Jawa Pos, 6 Agustus 2011

Pernahkah Anda mendengar istilah "buka warung"? Itu alasan yang lazim digunakan bila seorang dokter tidak bisa hadir dalam satu acara. Kita paham, maksudnya si dokter sedang buka praktik. Jadi, harap maklum, dia tidak bisa diganggu. Dia sedang berhadapan dengan orang sakit yang butuh pertolongan segera.

Kita mengenal praktik dokter sebagai kegiatan ritual sore selepas kerja formal untuk menerima pasien pribadi. Di sana, pasien-pasien menunggu untuk dipanggil sembari berharap mendapatkan penanganan terbaik dari si dokter. Sebutan dokter bertangan dingin sering kita dengar untuk dokter yang laris manis. Terselip di sana aroma irrational trust untuk sosok personal si dokter. Tidak jadi soal selama pasien benar-benar mendapatkan perawatan terbaik. Tetapi, siapakah sebenarnya yang akan menilai dan menjamin si pasien memang benar-benar menerima penanganan terbaik?


Bukan Jual Beli
Saya ragu apakah penggunaan istilah "buka warung" untuk praktik dokter akan diterima lega oleh pasien. Mengapa? Terkesan, itu mereduksi nilai pekerjaan profesi dokter. Kegiatan "perwarungan" adalah kegiatan yang teramat sederhana. Cash and carry, Anda hanya perlu membawa selera dan uang. Pilih yang Anda sukai, bayar, dan urusan selesai, titik! Bila kelak Anda memerlukan hal lain lagi, silakan kembali, beli dan bayar lagi. Sampai di sini, tampaknya pola selling and buying yang terjadi di ruang praktik nyaris serupa dengan warung, fee for services. Artinya, bila Anda kelak membutuhkan lagi jasa dokter, silakan datang dan ya bayar lagi. Lantas, apa bedanya?

Pasien bukan konsumen! Saat si pasien hadir di hadapan dokter, yang terjadi bukan proses jual beli. Di sana lahir sebuah janji bahwa si dokter bersedia menjadi pelindung pasien. Berten menyebut hubungan itu lebih sebagai hal yang sakral, convenant bukan consumer. Convenant dalam terjemahan yang paling dekat berarti "akad". Bedanya? Hubungan konsumen dengan penjual sepenuhnya berdasar kontrak, begitu kontrak selesai hubungan pun usai. Perkara apa yang terjadi nanti kepada konsumen, sejauh di luar kontrak, ya urusannya sendiri.

Convenant punya arti yang berbeda. Nilai hubungannya melampaui batas konteks finansial dan ekonomi. Ada kewajiban untuk peduli (caring). Ikatan tidak berbatas waktu, ruang, dan uang, tetapi butuh panggilan hati. Kita tahu pasien datang ke dokter bukan karena dorongan selera. Kecemasan akan nasib dirinya memaksa dia datang ke dokter. Mendesak karena rasa sakit terus membelenggu. Terjepit karena terhentinya pekerjaan. Runyamnya, dia tidak tahu apa yang harus diperbuat (baca: dibeli) untuk menyelamatkan dirinya. Dokterlah yang nanti memutuskan dan pasien harus menanggung biaya atas keputusan dokter yang tidak sepenuhnya dipahami.

Tentang pengetahuan, Bacon menyebut knowledge is power. Pada dasarnya, pengetahuan itu bebas nilai moral. Tetapi, moral dan etika selalu hadir di saat pengetahuan (baca: kedokteran) itu digunakan. Ketidakseimbangan pengetahuan antara dokter-pasien adalah peluang yang amat subur untuk timbulnya masalah. Mengapa? Lord Acton mengingatkan: Power tends to corrupt. Absolute power corrupt absolutely.

Sang Penjaga Umat
Masih mungkinkah kita berharap pelayanan medik terbaik akan lahir dari warung-warung pribadi dokter? Jawabannya: maybe yes, maybe no. Kini zaman baru telah hadir. Ledakan teknologi membuat penanganan medik kian kompleks. Pelayanan medik berubah secara fundamental. Diperlukan tata cara baru untuk menjamin bahwa pelayanan medik telah disampaikan dengan benar dan bermanfaat untuk pasien. Kontrol moral semata tidak cukup melindungi pasien. Perlu dukungan kompetensi dan pengawasan melekat dari pihak ketiga. Penanganan terbaik bukan sekadar penilaian subjektif dari pasien. Tetapi, lebih merupakan penjabaran dari Quality, Price, and Delivery (Q, P, D) yang terukur empiris-kuantitatif. Lantas, apakah kini praktik pribadi dokter sudah tidak kita perlukan lagi?

Di sinilah kita keliru! Mengapa? Dengan sistem pembayaran ala warung (fee for services) dan Q, P, D tanpa kontrol, negeri ini menjadi surga bagi pebisnis. Sistem kesehatan kita telah terjebak pada pelayanan kuratif komersial. Watak bisnis menguasai semua lini. Tengok, iklan layanan medik telah jauh melampaui batas kepatutan. Masyarakat seakan berjalan di tengah rimba tanpa pendamping. Berbekal pengetahuan minim, sepenuhnya awam, pasien memilih yang terbaik untuk menyelamatkan hidupnya. Begitu mudah mereka menjadi bulan-bulanan penjaja layanan kesehatan. Sungguh, ini berakibat besar bagi individu maupun masa depan negara.

Di semua negara maju, hal ini tidak mungkin terjadi. Mengapa? Aturan mainnya jelas. Dokter spesialis sepenuhnya di rumah sakit (RS), fokus untuk kuratif. Sedangkan, dokter umum, general practice (GP), berada di tengah masyarakat menjalankan fungsinya: Pertama, fokus pada tindakan preventif. Kedua, pengobatan umum penanganan di lini terdepan. Ketiga, pendamping pasien saat memilih tindakan kuratif. GP memiliki otoritas menyeleksi pasien, ke mana mereka harus dikirim. GP wajib mencatat performa dokter spesialis dan RS untuk laporan kepada yang berwenang (asuransi, petinggi kesehatan). Tidak mungkin Anda datang ke spesialis atau RS tanpa surat rujukan."The people guardian", sang penjaga umat, sungguh sebutan yang pantas untuk dokter umum. Di pundak merekalah kita berharap masyarakat berlindung menghadapi ganasnya belantara industri kesehatan.

Apa yang kini terjadi di negeri ini? Saat peran GP begitu dibutuhkan, praktik dokter umum justru kian langka. Masyarakat dibiarkan sendiri menghadapi gemuruhnya iklan dan rumitnya prosedur medik modern. Tampaknya, sistem kesehatan di negeri ini menuju ke arah yang salah.

Teringat pesan Prof Oldhoff, guru saya di Groningen, Belanda: "Ahli bedah secara moral bertanggung jawab kepada pasien. Tetapi, secara profesional, dia harus bertanggung jawab kepada dokter umum, si pengirim pasien". Benar, Anda memerlukan dokter umum untuk menjaga dan mendampingi keluarga Anda menghadapi pasar medik yang kian liar ini.



Ario Djatmiko
Dokter, Ketua Penelitan dan Pengembangan (Litbang) IDI Wilayah Jatim Surabaya
(Artikel ini diunggah dengan seizin penulis)

Minggu, 15 Mei 2011

Catatan Dokter Internship (2): Menghargai Waktu Luang






“Your life is a gift from the creator. Your gift back to the Creator is what you do with your life”

Selamat pagi Kawan,
 Beberapa waktu yang lalu, saya sempat chatting dengan seorang teman lama. Teman saya itu merasa ‘bosan’ menjalani internship. Sang teman tersebut bercerita bahwa dia sampai bingung akan menghabiskan waktunya yang sangat luang untuk melakukan apa. Dia bertanya, bagaimana dengan yang saya alami? Melalui tulisan ini, saya berbagi cerita denganmu, Teman.

***
Bagi saya, saat-saat menjalani internship dokter adalah saat kita ‘dibanjiri’ waktu luang. Jam kerja kami di puskesmas adalah antara jam 07.15-13.00 WIB. Bagi sebagian orang, mungkin itu waktu yang lama dan membosankan untuk bekerja. Tapi bagi sebagian orang yang lain, jam kerja tersebut cukup proporsional dan menyenangkan. Kita masih memiliki 18 jam sisa waktu luang dalam sehari. Cukup panjang untuk disyukuri.

Waktu luang itu terasa semakin panjang saat saya bertugas di Pulau Mandangin selama beberapa hari. Saya tidak bisa mengisi waktu luang saya dengan berlama-lama menulis, ‘berdiskusi’, dan ‘bergumul’ bersama si laptop. Di pulau ini, listrik hanya hidup sekitar pukul 6 sore dan kemudian mati sekitar jam 5.30 pagi. Berada di pulau ini, Saya serasa kembali ke era di saat listrik belum menjadi kebutuhan yang mendasar dan tak tergantikan. Seperti jaman bapak saya masih muda, saat nenek saya masih kinyis-kinyis. Jaman di saat saya masih belum ‘direncanakan’ keberadaannya. :)

Beberapa hari di Mandangin dengan sebagian besar waktu tanpa listrik, membuat saya ‘berevolusi’ dan mengembangkan kegemaran baru. Yakni, berbicara dengan anak-anak. Mungkin terdengar konyol. Awalnya saya juga heran, mengapa saya justru suka berbicara dengan anak-anak, bukannya dengan mbak-mbak. :D

Sebagian besar penduduk Pulau Mandangin berkomunikasi menggunakan bahasa madura. Sedangkan saya, baru sedikit mengerti bahasa Madura. Celakanya, sebagian besar orang Mandangin yang saya temui tidak bisa berbahasa Indonesia.

Namun lain halnya dengan anak-anak, khususnya mereka yang sedang duduk di bangku sekolah dasar. Mereka mengerti bahasa Indonesia. Bertemu mereka seperti menemukan ‘oase’ di tengah gurun pasir. Saya jadi tidak merasa sebagai orang asing. :) Mereka dapat mengerti apa yang saya sampaikan. Dan yang lebih penting lagi, saya dapat memahami maksud mereka.

Suatu sore saya berenang di pantai. Saya menyempatkan diri untuk menyapa dan berbincang dengan sejumlah anak. Beberapa nama yang saya ingat adalah Hosen (kelas 6 SD) dan Kosem (kelas 3 SD). Saya iseng bertanya kepada mereka tentang cita-cita mereka di saat dewasa kelak. Kosem menjawab ingin punya kapal seperti Haji **** (saya tidak ingat namanya). Seorang anak lain menjawab dia ingin jadi pemain sepak bola. Dan Hosen, salah satu nama yang saya ingat, menjawab ingin melaut bersama bapaknya. Jawaban tersebut sempat membuat saya terhenyak. Cita-cita yang sangat sederhana, bahkan jika dibanding dengan saya yang lahir jauh lebih dulu dari mereka. Sebagai pembanding, belasan tahun yang lalu saya pernah bercita-cita menjadi Ultraman. :D

Mendengar jawaban anak-anak itu, entah ada sesuatu yang menggerakkan saya untuk menggambar perahu di atas media pasir pantai. Saya bercerita kepada mereka tentang sebuah kapal yang canggih. Tentang, kapal yang sangat cepat. Kapal yang pintar, kapal yang bisa membawa mereka ke tempat ikan-ikan besar. Kapal yang memiliki dapur, kamar, juga kolam renang. Saya bertanya apakah mereka ingin naik kapal seperti itu. Mereka terdiam, dan beberapa mengangguk dengan malu-malu. Saya berkata kepada mereka, bahwa mereka harus sekolah. Mereka harus giat belajar dan berdoa. Jika mereka berhasil kelak, mereka bisa naik kapal seperti itu. Semoga saja.

Saya bukanlah seorang penutur verbal yang baik. Saya juga tidak berharap banyak bahwa cerita saya akan memacu mereka untuk belajar. Dan kalau pun mereka jadi bersemangat, banyak hal yang dapat memupuskan harapan di kemudian hari. Namun saya merasa sedikit terhibur saat mendengar kata-kata Hosen. “Saya ingin sekolah SMP.” Sebuah niat dan impian telah tertanam. :)

***
Selama beberapa waktu setelahnya, saya masih merasa bersyukur atas sepenggal senja yang saya habiskan bersama anak-anak itu. Saya yakin engkau juga memiliki waktu seperti itu, Kawan. Waktu yang membuat kita semakin bersyukur atas apa yang terjadi dalam hidup kita. Waktu yang membawa kita untuk sejenak melihat ke ‘bawah’, berlari dari kekangan ego dan belenggu ambisi duniawi. Waktu dimana kita berada di tengah keriuhan dunia, namun justru dapat merasakan ketenangan dan kedekatan dengan sang Pencipta.

Teman,
Tak perduli berapa banyak waktu luangmu, lakukanlah apa yang dapat membuatmu bahagia. Hiduplah dengan perbuatan-perbuatan apa saja yang kau sukai. Tapi ingatlah teman, kita tak selamanya memiliki waktu luang ini. Lakukanlah sesuatu yang menurutmu benar dan bermanfaat. Karena saat kita sadar bahwa sesungguhnya kita tak ‘memiliki’ waktu lagi, semuanya telah terlambat.

Seorang ulama sufi berkata, “Ad-dunya mazro’atul akhiroh”. Dunia adalah ladangnya akhirat. Barangsiapa menanam kebaikan hari ini, dia akan menuainya di ‘hari kemudian’.

Orang boleh menganggap apa yang kita lakukan itu tak berguna, tak ada nilai tambahnya bagi kita sebagai dokter. Saya juga tidak tahu, pengalaman seperti yang saya alami itu akan membawa saya menjadi orang seperti apa di masa mendatang. Namun satu hal yang saya yakini. Waktu luang seperti itu adalah sebuah anugrah. Seberapa kaya dan berjayanya kita nanti, kita tak akan sanggup membeli waktu-waktu seperti itu. Tak akan pernah.

Pada saat-saat seperti itu, saya merasa sadar. Terlepas dari fakta bahwa saya seorang dokter, saya juga seorang manusia. Yang suatu saat nanti juga akan ‘habis’ waktunya.


M.A. Empitu, di waktu luangnya.
Sampang, 18 Maret 2011

 Special Thanks: Fadhil Rashid, for his tough camera.



Memakai sandal ke sekolah.




Es "Wawan", masih ada di jaman sekarang. :)


'Itu' nya ditutupi dong.

Bermain di atas jala.

Menulis di atas pasir.


Minggu, 10 April 2011

Sekali Teman, Tetaplah Teman



A mistake is usually unacceptable, rarely excusable, but always forgivable”

Untuk teman-temanku yang pemaaf,
Beberapa hari ini saya sering teringat dengan kawan-kawan lama, beberapa telah menjadi sahabat terbaik dalam hidup saya. Setidaknya sampai detik ini. Beberapa juga mungkin pernah menjadi ‘musuh’ saya. Namun sejauh yang saya ingat, seberapa menyebalkannya, mereka adalah teman saya. Sekali teman, tetaplah teman.

Kadang saya berusaha mengingat bagaimana saat dulu pertama bertemu mereka, bagaimana salam perkenalan yang mereka dulu ucapkan, perangai yang dulu menawan hingga mungkin yang tampak arogan lagi menyebalkan. Sering kali saya tidak menyangka bahwa mereka akan mewarnai hidup saya jauh lebih colorful  dari apa yang pernah saya bayangkan. Tidak jarang juga saya mengira bahwa mereka akan menjadi teman satu atau dua hari saja, namun waktu membuktikan sebaliknya.

Kawan, pertemanan selalu ada pasang surutnya. Tak selau senang dan gembira. Mungkin suatu saat Anda pernah merasa kecewa dengan teman Anda. Saya juga. Kita semua pernah mengalaminya. Kadang teman kita berkelakuan yang tidak semestinya. Mereka berkata sesuatu yang menyesakkan. Mereka berbuat hal yang menyakitkan. Akhirnya, kita kecewa.

Saat kita kecewa terhadap seorang teman, seakan-akan hanya keburukan teman itulah yang ada di kepala kita. Seolah-olah bahwa kita telah memberikan segala yang kita mampu berikan. Kita telah bersikap baik seumur hidup kita, namun mengapa teman kita itu malah bersikap sebaliknya.Entah karena besarnya kesalahan yang diperbuat teman kita atau karena besarnya rasa kecewa kita terhadap mereka, kita sampai pada kesimpulan untuk tidak memaafkan teman kita yang ‘jahat’ itu.  

Saat kita merasa seperti itu, ingatlah waktu kita bahagia bersama. Ada hari-hari saat kita saling mendatangkan kegembiraan. Di saat kita saling memberi tanpa berharap untuk diberi. Saat kita berbagi suka maupun duka. Saat kita melalui hal tersulit dalam hidup kita, namun teman kita masih dapat membuat kita tersenyum dan merasakan kebahagiaan.

Dikecewakan memang rasanya tidak enak. Sakit hati memang lebih sakit dari pada sakit gigi. Namun seberapa besarkah rasa kecewa itu dibanding semua kebahagiaan yang telah kita terima? Seberapa besar kesalahan teman kita itu dibanding semua kebaikan yang datang melalui dirinya?

Hidup ini memang penuh liku-liku. Banyak hal yang tak terduga. Kita tak selamanya dapat berbuat benar, kadang juga salah. Kita tak selalu bisa menyelesaikan tantangan hidup sendirian. Kita tak selalu senang, tak selalu tersenyum, tak selalu berhasil, tak selalu bisa menerima kesalahan yang diperbuat orang lain. Dan mungkin, tak selalu menginginkan teman.

Namun seberapa besar rasa kecewa kita dan seberapa parah kesalahan teman kita itu, maafkanlah. Bebaskanlah diri kita dari rasa benci. Lihatlah bahwa kebahagiaan yang kita terima jauh melebihi segala kekecewaan yang pernah kita rasakan. Yakinlah, bahwa segala kesulitan yang kita lalui saat ini adalah hal yang  akan memperkuat rasa pertemanan kita.

Saat kita tua dan telah sendiri nanti, semua kesalahan itu tak akan ada artinya. Kita hanya akan mengingat mereka sebagai teman. Teman yang telah membantu menuliskan kisah hidup kita.  Teman yang membuat catatan hidup kita menjadi luar biasa. Dan sebarapa menyebalkannya mereka sekarang, kita akan sangat merindukannya nanti.
Percayalah. :)


M.A.Empitu, di jalan bahagia.



                                                                                                                                                       



Selasa, 05 April 2011

Catatan Dokter Internship (1): Membawa Optimisme



Sampang, 15 Maret 2011

Jika kau berbuat baik, berarti kau berbuat baik bagi dirimu. Jika kau berbuat buruk, maka keburukan itu untuk dirimu sendiri. (Al-ISRA': 7)

Selamat pagi Kawan,
Hari ini adalah hari pertama saya akan bertugas di sebuah Puskesmas Pembantu di Pulau Mandangin, Kabupaten Sampang. Ini adalah kali kedua saya mengunjungi pulau ini. Saya sudah pernah ke tempat ini tiga pekan lalu. Saat itu, saya hanya singgah sejenak. Namun kali ini berbeda, saya akan tinggal di Mandangin selama beberapa hari.

Perjalanan dimulai dari ‘pelabuhan’ muara Sungai Tanglok pada pukul 5.30 pagi . Untuk mencapai pulau Mandangin, saya harus menaiki sebuah ‘kapal’ bermesin diesel ganda. Kapal berjalan menyusuri muara sungai hingga sampai ke lautan. Di sepanjang bibir sungai, banyak kapal nelayan sedang membongkar muatan, ikan hasil melaut pada malam sebelumnya. Tidak semuanya adalah kapal-kapal besar dan bagus. Ada juga perahu-perahu reot berukuran solo yang hanya dikendarai oleh seorang nelayan. Namun apapun ukuran kapal mereka, pagi ini saya melihat kesamaan di antara mereka semua. Mereka sedang bergembira. Malam tadi, cuaca cerah dan ikan berlomba-lomba mengisi jala mereka.

Di kanan dan kiri muara sungai, penumpang kapal disuguhi pemandangan hutan mangrove lengkap dengan puluhan burung bangau yang terbang silih berganti. Kami bisa bisa menyaksikan dengan jelas sarang-sarang mereka di antara dahan pepohonan. Sudah belasan tahun saya tidak pernah melihat burung bangau secara langsung di habitat aslinya. Hari ini, saya beruntung.

Tak lama kemudian kami telah sampai di laut lepas. Pemandangan matahari pagi yang baru ‘sejengkal’ dari bumi, membuat saya terpukau. Sinar hangat mentari sangat lihai melewati celah-celah asap dan kabut yang menyelimuti lautan. Secara sederhana semua bisa digambarkan dengan satu kata, putih. Dengan sedikit kesan silau karena mentari.

Setelah melaju beberapa saat, saya mulai dapat melihat lautan luas yang biru beserta ‘pernak-perniknya’. Ada beberapa ikan membentuk formasi berputar dengan sirip yang muncul di atas permukaan air. Sepintas, mirip sirip ikan hiu yang biasa kita lihat di saluran nat geo. Saya jadi teringat cerita teman saya, Fatkhul. Dia pernah berkata pernah melihat dan ‘menyentuh’ hiu bersama ayahnya yang nelayan. Dulu saya tidak percaya, tapi kini saya sudah mulai acceptance  dengan ceritanya. :)

Permukaan lautan yang tak berangin menciptakan tekstur halus dan memukau. Pagi ini cuaca sangat tenang, nyaris tak ada gelombang. Hanya angin sepoi-sepoi. Di udara, beberapa burung camar terbang dan memamerkan lekuk tubuhnya yang aerodinamis. Sesekali mereka terbang rendah dan menyentuhkan paruhnya di permukaan air. Luar biasa.

Mesin kapal menderu, ‘mengejan’ dan menciptakan getaran hingga dapat saya rasakan pada lantai papan yang saya duduki. Di bagian belakang  kapal, sesekali terdengar suara para ‘oemar bakri’ yang dengan semangat berangkat menularkan ilmu kepada anak-anak pulau.

Sebelum saya berangkat, Saya telah mendengar beberapa hal tentang Mandangin termasuk dari beberapa teman saya sendiri. Orang berkata, Mandangin adalah pulau padat yang menyimpan berbagai masalah. Sekitar 60% persen penduduknya BAB di tempat sembarangan, banyak ditemukan kasus tuberculosis, masyarakatnya susah diedukasi dan berbagai hal buruk lainnya. Akan mustahil untuk membuat perubahan dalam waktu singkat.

Akan ada banyak tantangan yang mungkin tidak pernah saya pikirkan waktu di sekolah dulu. Numun, itulah yang membuat hidup lebih seru. Hudup tidak sesederhana soal ujian kita dulu yang bisa diselesaikan di atas kertas. Hidup seringkali juga tidak memiliki 'kunci jawaban' yang pasti. Di saat kita ingin berbuat, selalu ada halangan. Di saat kita berharap, kita sering kali harus berhadapan dengan berbagai sinisme dan pesimisme. Saya yakin bahwa kawan-kawan juga menghadapi hal yang sama. Dimanapun kawan bekerja, di rumah sakit, kantor, jalanan atau rumah sekalipun, tantangan akan selalu ada.

Namun jangan surutkan langkahmu. Genggam erat hasratmu untuk berbuat. Peluk lekat harapan dan niatmu untuk memberi manfaat. Tidak ada yang mustahil di dunia ini. Perubahan besar dimulai dari banyak hal yang kecil. 
***

Wajah Pulau Mandangin sudah tampak dari kejauhan. Sebentar lagi saya akan sampai. Saya sudah tak sabar bertemu saudara se-Indonesia saya itu. Semoga Tuhan mengijinkan saya untuk ‘menyentuhkan’ mereka terhadap perubahan-perubahan yang positif.  

Walau mesin kapal terdengar telah menderu dan ‘mengejan’ sekuat tenaga, kapal tetap saja berjalan perlahan. Mungkin, seperti kapal itulah kondisi saya sekarang. Sulit untuk membuat sebuah lompatan besar. Namun jangan harap untuk berhenti. Biarlah walau harus melaju meter demi meter. Untuk sementara, saya hanya ingin membawa optimisme. 

Entah sampai kapan.

 
M.A.Empitu, di atas kapal ‘Sentosa’


KAPAL NELAYAN: di antara putihnya langit dan lautan.
MENTARI PAGI: menembus remang kabut dan awan
LANGIT dan LAUTAN, luas dan biru
Beberapa kapal penangkap ikan berjajar di perairan dangkal Mandangin
Sesama orang Indonesia. :)
Perahu penumpang, satu-satunya alat transportasi menuju Mandangin.

Selasa, 22 Maret 2011

5 hari kita yang sia-sia



Men talk of killing time, while time quietly kills them.  ~Dion Boucicault.
 Kawan,
Pagi ini, saya mengawali hari dengan ‘kehilangan’ kunci motor. Saya lupa dimana terakhir kali saya meletakkannya. Saya berkeliling rumah dan menjelajahi tempat-tempat dimana saya biasa menyimpan barang. Setelah berjuang sekitar 15 menit, akhirnya ketemu juga. ‘Perjuangan’ tersebut membuat ‘start’ hari saya terkesan sedikit ‘kacau’. Namun seberapa negatifnya perasaan saya, ini adalah keberhasilan pertama saya di hari ini. :)
Beberapa hari ini adalah hari yang melelahkan bagi saya. Bukan hanya secara fisik, tapi juga psikis. Banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Masih ada dua proyek penyusunan buku yang akan segera diterbitkan, beberapa buletin, ditambah urusan ‘mencari nafkah’ dan beragam hal lain yang berkaitan dengan tugas sebagai dokter internship.
Kawan sekalian mungkin juga memiliki urusan dan kesibukan sendiri-sendiri. Sama seperti saya dan manusia yang lain di seluruh penjuru dunia. Sehingga, saya mafhum dan tidak akan memaksa kawan-kawan untuk membaca posting saya yang satu ini. Namun jika Anda sudah terlanjur membaca sampai paragraf ini, sayang sekali jika Anda berhenti begitu saja. :)
Pada suatu ketika, mungkin kita akan mengalami kejenuhan justru di saat kita dituntut untuk bertindak cepat, efektif dan efisien. Padahal pada titik jenuh itu, kita sangat memerlukan sebuah ‘relaksasi’ yang akan mengembalikan produktivitas kita ke tingkat yang dikehendaki. Dengan kata lain kita ingin berhenti sejenak dari ‘hidup’ ini, meninggalkan segala masalah untuk beberapa waktu dan melakukan sesuatu yang kita sukai.
Ada hal menarik yang saya temukan di saat saya ‘absen’ dari dunia. Saya membuka lap top dan menemukan sebuah ebook terjemahan yang berjudul asli ‘Smart Waysto Save Your Time’.  Dalam buku tersebut diurakan 250 langkah sederhana untuk membuat waktu kita lebih ‘bernilai’. Beberapa langkahnya mungkin terkesan konyol. Namun setidaknya menurut saya, mungkin langkah-langkah tersebut akan membuat perubahan yang signifikan. Salah satunya berkaitan dengan ‘cara’ saya mengawali hari ini.
Salah satu tips tersebut kurang lebih berbunyi:
“Letakkanlah barang-barang Anda secara rapi di tempat yang mudah dijangkau”
Saya bertanya apakah langkah sesederhana itu bisa membuat waktu kita lebih bernilai? Apa hubungannya meletakkan barang dengan save your time.
Sebelum kejadian pagi ini, saya tidak benar-benar memercayai tips tersebut. Setelah menjalani hari ini, saya baru menyadari bahwa kiat tersebut cukup penting. Hari ini saya menghabiskan sekitar 15 sampai 20 menit untuk mencari barang saya yang hilang. Bayangkan jika kita menghabiskan kurang lebih 20 menit setiap hari untuk mencari barang yang tidak pada tempatnya. Maka dalam setahun, akumulasi waktu tersebut akan mencapai 122 jam atau kurang lebih 5 hari.
Banyak hal yang bisa kita lakukan dengan 5 hari tersebut. Kita bisa berlibur, berkumpul bersama keluarga, bertemu teman-teman lama atau melakukan hal lain yang lebih penting dari sekadar mencari barang hilang.

Mungkin beberapa dari kita berpikir bahwa kiat ini adalah langkah sepele. Namun yakinlah jika kita tak bisa mengubah yang kecil, kita tak akan mampu mengubah hal yang besar. Banyak hal yang kompleks dalam hidup kita tersusun dari berbagai hal yang sederhana dan kecil. Much of little means great.
Sebenarnya, masih banyak tips lain yang ingin saya tulis dan ceritakan kepada Anda. Namun, saya tidak ingin menyita banyak waktu Anda. Waktu saya untuk ‘berhenti’ dari kehidupan juga telah cukup. Saya harus kembali berlari seirama dengan putaran dunia. Begitu juga Anda.
Dapatkan kembali 5 hari kita yang sia-sia. Selamat berjuang! :)

M.A. Empitu, saat dunia 'berhenti' berputar

Selasa, 01 Maret 2011

Sebuah Titik


Lihatlah gambar di atas dengan seksama. Apa yang Anda lihat? Jika Anda melihat sebuah titik, maka tidaklah salah. Beberapa orang yang saya temui dan saya tanyai tentang gambar di atas memiliki jawaban yang sama. Saat saya pertama kali melihat gambar serupa, saya juga memberikan jawaban yang sama. Sebuah titik.

Gambar tersebut mengingatkan saya akan cerita Ajahn Brahm. Nama aslinya adalah Peter Betts. Dulunya, Peter adalah seorang fisikawan Universitas Cambridge. Dalam perjalanan hidupnya kemudian, Peter memilih untuk ‘bertapa’ dan mengubah namanya menjadi Ajahn Brahm.

Suatu ketika Ajahn Brahm ingin membangun sebuah biara. Namun karena ia miskin dan tidak mempunyai dana untuk membayar pekerja bangunan, akhirnya Ajahn Brahm memutuskan mengerjakan sendiri. Dia menata bata demi bata untuk membangun sebuah tembok. Membuat tembok bukanlah hal yang mudah bagi seorang mantan ilmuwan yang tidak pernah bekerja kasar. Meletakkan sesendok semen dan mengetuk ujung bata hingga tembok terlihat rata adalah hal yang ternyata lebih rumit dari teori fisika.

Beberapa waktu kemudian, tembok telah berdiri. Namun, Ajahn Brahm melihat bahwa ada dua batu bata yang tidak lurus. Tembok sudah terlanjur jadi. Ajahn menyesali mengapa Ia salah menata dua bata tersebut hingga temboknya terlihat buruk.

Beberapa bulan kemudian, mulai banyak orang berkunjung ke tempat Ajahn. Setiap kali Ajahn mengantar tamunya, Ia selalu menghindari bagian tembok yang menurutnya buruk. Ia juga berusaha menutupi dengan berbagai cara. Ia masih menyesali dua batanya yang tidak rata. Suatu saat ada orang yang berkata bahwa temboknya indah. Ajahn terkejut dan menanyakan apakah benar. Pengunjung tersebut berkata bahwa dia melihat ratusan bata yang ditata rapi dan hanya dua yang ditata dengan ‘unik’. 

***
Dua bata yang dilihat Ajahn Brahm pada temboknya sama dengan sebuah titik yang kita lihat pada gambar di atas. Kita terlalu fokus pada ‘noda’ hitam kecil di tengah gambar dan melupakan fakta bahwa sebagian besar gambar tersebut berwarna putih.

Dalam kehidupan sehari-hari, mungkin kita juga sering kali begitu. Setidaknya saya. Kita lebih sering melihat hal negatif dari orang lain maupun diri kita sendiri melebihi banyak hal positif yang lain. Mungkin kita lebih sering mengingat bahwa si Anu adalah orang yang menjengkelkan dan Anunya si Anu adalah orang yang suka merendahkan orang lain. Kita kadang juga terlalu larut dalam kegagalan dan melupakan bahwa masih terhampar luas kesempatan untuk meraih keberhasilan yang lebih besar.

Saat kita menghadapi atau menjalani sesuatu,  kita juga terlalu cepat untuk menyimpulkan antara ‘menyenangkan’ dan ‘menjemukan’. Sering kali, kita mungkin tidak bisa memilih sesuatu yang akan menimpa kita. Tapi ingatlah, bahwa kita selalu bisa memilih untuk menjalani sesuatu dengan bahagia atau tidak. Selalu ada cara untuk ‘menikmati’ dan mensyukuri apa pun.

Tokoh favorit saya dalam dorama “My Boss, My Hero”, Sakaki Makio acap kali berkata, “Nikmatilah masa muda, karena kau tak akan muda lagi di masa yang akan datang.”  Berbuatlah baik dan tersenyumlah kepada orang-orang yang mencintaimu, terlebih kepada orang yang membencimu. Hargailah orang yang menghormatimu, terlebih orang yang merendahkanmu. Nikmatilah setiap waktu bersama mengasihi maupun memusuhi kita, karena suatu saat kita akan merindukan mereka.

Berbuat baiklah sebanyak-banyaknya, tersenyumlah sepuasnya, dan berbahagialah hari ini! Apa pun yang kita jalani, dengan siapa pun, dan dimanapun.  Karena  kita tiada yang tahu, apakah esok kita masih bisa.

Lupakanlah ‘titik’ yang Anda temukan. :)


M.A.Empitu, dalam kebahagiaan ber-internship.
Untuk teman kami yang hari ini menikmati harinya yang ke-8401,
Muhammad Yusar,
Selamat mencari kebahagiaan yang hakiki.

Popular Posts

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger